Menghidupkan 4 Sifat Nabi: Shiddiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah dalam Kehidupan

  • 05 Sep 2026 18:30 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Di tengah kehidupan modern yang diwarnai perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, serta berbagai persoalan sosial, manusia membutuhkan nilai yang dapat menjadi pedoman dalam menentukan sikap. Kejujuran, tanggung jawab, kemampuan menyampaikan informasi dengan benar, hingga kecerdasan dalam menghadapi persoalan menjadi bagian penting yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai-nilai tersebut dapat ditemukan dalam empat sifat utama Nabi yaitu shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Hal tersebut dibahas dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Ustaz Dr. Enjang Burhanudin Yusuf, S.S., M.Pd pada Jumat 4 September 2026.

Dengan mengusung tema “Relevansi Empat Inti Sifat Nabi Bagian 2”, pembahasan tersebut merupakan kelanjutan dari pembahasan sebelumnya mengenai sifat shiddiq. Dalam kesempatan ini, Ustaz Enjang kembali menjelaskan keterkaitan empat sifat Nabi sekaligus bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan untuk menghadapi berbagai persoalan kehidupan modern.

Menurut Ustaz Enjang, empat sifat tersebut tidak berdiri sendiri. Shiddiq sebagai kejujuran menjadi fondasi yang memiliki hubungan erat dengan amanah, tabligh, dan fathanah. Keempatnya perlu dihadirkan secara bersamaan agar seseorang tidak hanya menjadi pribadi yang baik secara moral, tetapi juga mampu memberikan manfaat bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Shiddiq merupakan sifat jujur yang menjadi dasar dari karakter seorang manusia. Kejujuran tidak hanya berkaitan dengan mengatakan sesuatu sesuai fakta. Dalam kehidupan yang lebih luas, shiddiq juga berkaitan dengan integritas seseorang dalam menjalankan tanggung jawabnya. Ketika seseorang memiliki kejujuran, kepercayaan dapat tumbuh. Sebaliknya, ketika kejujuran hilang, hubungan antara individu, lembaga, hingga masyarakat dapat mengalami kerusakan.

“Siddiq integritas, ya kejujuran di dalam sikap pribadi maupun lembaga dalam konteks yang luas adalah negara, itu menjadi pondasi inti kemajuan seseorang, kemajuan lembaga dan kemajuan bangsa ini,” ungkap Ustaz Enjang.

Setelah shiddiq, sifat berikutnya yang dibahas adalah amanah. Ustaz Enjang menjelaskan bahwa kejujuran akan melahirkan amanah. Artinya, seseorang yang menyadari pentingnya kejujuran juga perlu mampu menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya.

Amanah berarti menyadari bahwa tidak semua hal yang berada dalam kendali seseorang merupakan miliknya sepenuhnya. Jabatan, ilmu, harta, waktu, kehidupan, bahkan anak yang diberikan kepada orang tua merupakan bentuk titipan yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

Manusia sering kali memandang jabatan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kehormatan atau keuntungan pribadi. Padahal, jabatan membawa tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan.

“Penting sekali kita untuk mengubah cara pandang bahwa jabatan itu bukan kehormatan untuk dinikmati, jabatan adalah amanah yang harus ditunaikan,” ujar Ustaz Enjang.

Amanah tidak hanya berkaitan dengan menjaga sesuatu yang dititipkan, tetapi juga bagaimana seseorang menggunakan kewenangan yang dimilikinya. Jabatan seharusnya digunakan untuk menjalankan tanggung jawab dan memberikan manfaat, bukan menjadi kesempatan untuk mengutamakan kepentingan diri sendiri maupun kelompok.

Krisis amanah dapat terlihat dalam berbagai bentuk. Korupsi, misalnya, bukan hanya persoalan mengambil uang yang bukan haknya, tetapi juga menunjukkan hilangnya tanggung jawab terhadap kepercayaan yang diberikan masyarakat. Kekuasaan yang digunakan untuk kepentingan pribadi, keluarga, atau kelompok juga merupakan bentuk ketidakamanahan.

Persoalan amanah juga dapat ditemukan dalam kehidupan yang lebih dekat dengan masyarakat. Ia memberikan contoh mengenai tindakan memberikan uang kepada polisi agar seseorang terhindar dari proses penilangan. Meskipun jumlahnya mungkin tidak sebesar kasus korupsi yang diberitakan, tindakan tersebut tetap menunjukkan persoalan yang sama, yaitu penyalahgunaan kepercayaan dan tanggung jawab.

Sifat ketiga adalah tabligh, yang berarti menyampaikan. Dalam konteks sifat Nabi, tabligh berkaitan dengan kemampuan menyampaikan ajaran yang diterima kepada umat. Namun, menurut Ustaz Enjang, tabligh tidak dapat dimaknai sebatas aktivitas berbicara atau menyampaikan informasi.

Di era digital, makna tabligh menjadi semakin relevan. Masyarakat memiliki kemampuan untuk menyampaikan berbagai informasi melalui media sosial hanya dalam hitungan detik. Satu unggahan dapat tersebar kepada banyak orang tanpa melalui proses pemeriksaan yang memadai. Karena itu, kebebasan untuk berbicara perlu diikuti dengan tanggung jawab.

“Tabligh berarti menyampaikan sesuatu yang benar, jelas, bertanggung jawab, bijaksana, dan bermanfaat,” ujar Ustaz Enjang.

Tidak semua informasi yang muncul di internet merupakan informasi yang benar. Bahkan, sebuah video dapat berupa potongan dari suatu peristiwa yang apabila tidak dipahami secara utuh dapat menghasilkan kesimpulan yang keliru.

Setiap pengguna media sosial memiliki tanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan. Membagikan sebuah informasi bukan hanya tindakan pribadi karena informasi tersebut dapat memengaruhi orang lain. Tidak semua hal yang diketahui maupun didengar harus langsung diteruskan kepada orang lain. Kemampuan menyaring informasi menjadi bagian penting dari penerapan etika tabligh.

Tabligh tidak hanya berlaku bagi seseorang yang berdakwah di depan banyak orang. Setiap pengguna media sosial pada dasarnya memiliki kesempatan untuk menerapkan nilai tabligh melalui apa yang mereka unggah, tulis, bagikan, maupun komentari.

Sifat keempat adalah fathanah. Ustaz Enjang menjelaskan bahwa fathanah berkaitan dengan kecerdasan, ketajaman dalam memahami persoalan, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta kemampuan menemukan solusi.

Fathanah menjadi penting karena menjadi orang baik saja tidak selalu cukup untuk menyelesaikan persoalan. Seseorang dapat memiliki niat baik dan bersikap amanah, tetapi tetap membutuhkan kemampuan untuk memahami masalah secara tepat agar keputusan yang diambil benar-benar memberikan manfaat.

“Kata kunci dari fatanah ini adalah kemampuan di dalam memahami bukan hanya mengetahui,” jelas Ustaz Enjang.

Perbedaan antara mengetahui dan memahami sangat penting diketahui di tengah perkembangan teknologi. Saat ini manusia hidup dalam kondisi ketika informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Kehadiran artificial intelligence (AI), otomatisasi, big data, teknologi digital, perubahan iklim, hingga perubahan dunia kerja membuat kemampuan beradaptasi menjadi kebutuhan.

Banyaknya informasi yang dimiliki seseorang belum tentu menunjukkan bahwa ia memiliki kecerdasan yang dapat memberikan solusi. Informasi perlu diolah, dipahami, dan digunakan secara tepat.

Seseorang perlu mampu melakukan pemetaan terhadap suatu persoalan. Ketika menghadapi masalah, seseorang sering kali terlalu fokus membahas masalah tersebut tanpa berusaha menemukan jalan keluar. Akibatnya, pembicaraan dapat berkembang menjadi emosi dan pertengkaran.

Fathanah mendorong seseorang untuk melihat persoalan secara lebih luas. Data yang benar perlu digunakan untuk memahami kondisi, kemudian dianalisis agar keputusan yang diambil dapat bersifat bijak dan solutif.

Dalam konteks bangsa, kecerdasan masyarakat juga menjadi faktor penting bagi masa depan. Jumlah penduduk yang besar tidak secara otomatis menentukan kemajuan suatu negara. Kemajuan juga dipengaruhi oleh kemampuan masyarakatnya dalam menghasilkan ilmuwan, inovator, guru yang berkualitas, serta pelaku usaha yang mampu menggunakan kemampuan berpikir dan ekonominya dengan baik.

Selain menjelaskan empat sifat utama Nabi, pembahasan dalam Mutiara Pagi juga berkembang melalui sesi tanya jawab dengan pendengar. Salah satu pendengar menanyakan mengenai sikap kehati-hatian ketika berinteraksi dengan orang lain, khususnya ketika menghadapi seseorang yang terus meminta pertolongan meskipun sebelumnya telah dibantu.

Ustaz Enjang menjawab dengan pengalamannya bahwa tidak semua orang perlu kita tolong.

“ Ternyata memang tidak semua orang itu perlu kita tolong. Ada orang-orang yang playing victim memanfaatkan kebaikan kita untuk memenuhi hasrat nafsu dia untuk berfoya-foya tadi,” ungkap Ustaz Enjang

Sikap hati-hati bukan berarti menghilangkan kepedulian kepada orang lain. Sebaliknya, kehati-hatian dapat menjadi cara agar kebaikan yang dilakukan benar-benar tepat sasaran.

Hal tersebut juga berkaitan dengan fathanah, karena seseorang perlu menggunakan kecerdasannya dalam membaca situasi sosial. Pada saat yang sama, amanah dan shiddiq tetap diperlukan agar kehati-hatian tersebut tidak berubah menjadi prasangka atau ketidakpedulian.

Pada akhirnya, pembahasan Mutiara Pagi menegaskan bahwa shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah tidak dapat dipisahkan. Keempatnya saling melengkapi dan membentuk karakter yang utuh.

" Tanpa shiddiq, amanah dapat kehilangan dasar kejujurannya. Tanpa amanah, kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki dapat disalahgunakan. Tanpa tabligh, kebaikan dan kebenaran dapat berhenti pada diri sendiri. Sementara tanpa fathanah, seseorang mungkin memiliki niat baik tetapi belum tentu mampu menyelesaikan persoalan secara efektif., " Tegas Ustaz Enjang.

Karena itu, menghidupkan empat sifat Nabi tidak cukup hanya dengan mengetahui maknanya. Nilai tersebut perlu diterjemahkan ke dalam perilaku sehari-hari. Kejujuran perlu menjadi kebiasaan, tanggung jawab perlu menjadi karakter, penyampaian informasi perlu disertai etika, dan kecerdasan perlu digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan.

Empat sifat Nabi bukan hanya nilai yang relevan untuk dibicarakan dalam konteks keagamaan, tetapi juga dapat menjadi pedoman dalam kehidupan sosial. Ketika shiddiq, amanah, tabligh, dan fathanah dihadirkan secara bersamaan, setiap individu diharapkan mampu membangun kepercayaan, menjaga tanggung jawab, menggunakan informasi secara bijak, serta menghadapi persoalan dengan kecerdasan.

Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam Mutiara Pagi, tujuan akhirnya bukan sekadar menjadikan seseorang sebagai pribadi yang baik, tetapi menjadi manusia yang mampu memberikan maslahat, kebaikan, dan manfaat bagi masyarakat serta bangsa. (Novita Widya Putri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....