Menggali Potensi Wisata Limbasari dari Sungai hingga Edukasi

  • 27 Agt 2026 14:27 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Desa Wisata Limbasari, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, terus mengembangkan potensi wisata berbasis alam dan budaya. Perjalanan tersebut tidak lepas dari perjuangan masyarakat dalam merintis wisata dari nol hingga kini memiliki beragam aktivitas wisata.

Kasi Pemerintahan Desa Limbasari, Joko Dwi Haryanto Nugroho, S.T., dalam program Suara Nusantara di Pro 1 RRI Purwokerto, yang membahas tema Menggali Potensi Wisata Desa Limbasari, Rabu (26/8/2026), menceritakan perjalanan pengembangan wisata di desanya.

Joko mengatakan, Limbasari merupakan desa yang berada di ujung Kecamatan Bobotsari. Potensi wisata di desa tersebut sebenarnya sudah dikenal sejak era 1990-an melalui Patrawisa, kawasan pertemuan Sungai Tuntung Gunung dan Sungai Wlingi.

“Kalau Patrawisa itu sebenarnya di situ ada pertemuan dua sungai, Sungai Tuntung Gunung dan Sungai Wlingi,” ujarnya.

Kawasan tersebut tidak hanya memiliki potensi alam, tetapi juga menyimpan cerita dan kepercayaan masyarakat. Air sungai pada masa itu dipercaya memiliki khasiat tertentu, sehingga kerap menjadi tujuan masyarakat untuk mandi maupun melakukan ritual.

Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi wisata river tubing. Joko bersama sejumlah warga mulai melakukan penjajakan sekitar 2013. Pengelolaan pada awalnya dilakukan secara sederhana dengan peralatan seadanya hingga akhirnya mulai beroperasi dan menerima wisatawan.

“Waktu itu kita cuma orang-orang iseng aja, lima orang. Terus kita coba survei,” katanya.

Dalam prosesnya, pengelola menghadapi berbagai kendala, termasuk persoalan keselamatan. Pengalaman tersebut kemudian menjadi pembelajaran untuk memperbaiki pengelolaan, melengkapi peralatan, serta mengikuti pelatihan dan menerapkan prosedur keselamatan.

Seiring berkembangnya wisata, Limbasari tidak hanya mengandalkan river tubing. Pengelola mulai membuat paket wisata edukasi, seperti batik tulis, menanam padi, dan menangkap ikan.

Joko juga menilai keberadaan operator wisata lain di sekitar Limbasari bukan sebagai persaingan, melainkan peluang untuk saling mendukung. Ketika peralatan atau tenaga pengelola terbatas, wisatawan dapat diarahkan kepada operator lain.

Ke depan, Joko berharap pengembangan wisata dapat melibatkan seluruh masyarakat Limbasari dan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan.

“Harapan saya sebenarnya wisata Limbasari itu bukan lagi dirintis oleh si A, si B, si C, tapi dimiliki oleh warga Limbasari,” ungkapnya.

Menurutnya, keberlanjutan wisata juga sangat bergantung pada kondisi alam. Karena itu, menjaga hutan, sungai, dan lingkungan menjadi bagian penting agar potensi wisata Limbasari dapat terus dinikmati sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (Fauziyah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....