Kewajiban Memahami Amar Ma'ruf Nahi Munkar guna Menegakkan Kebaikan

  • 26 Agt 2026 14:57 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Konsep Amar Ma'ruf Nahi Munkar merupakan pilar fundamental dalam ajaran Islam yang mencakup kewajiban untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sebagaimana disampaikan Ustaz Drs. Daliman, M.Pd. dalam program Mutiara Pagi di Pro 1 RRI Purwokerto bertemakan "Amar Ma'ruf Nahi Munkar Kewajiban Siapa?" pada Selasa (25/8/2026).

Dijelaskan bahwa prinsip ini didasarkan pada Surah Ali Imran ayat 104, yang menekankan pentingnya peran kelompok umat dalam menjaga moralitas dan keharmonisan sosial. Secara terminologi, ma'ruf diartikan segala bentuk kebaikan yang diperintahkan oleh agama dan bermanfaat bagi individu maupun masyarakat. Sebaliknya, munkar merujuk pada segala keburukan dilarang karena berpotensi merusak tatanan hidup dan nilai-nilai kemanusiaan.

Terdapat perbedaan pendapat mengenai siapa yang memikul tanggung jawab atas tugas ini. Pandangan pertama menganggapnya sebagai kewajiban khusus bagi ulama atau pemimpin, sementara pandangan kedua menegaskan bahwa ini adalah tanggung jawab setiap muslim, sesuai dengan kapasitas dan kedudukannya masing-masing.

"Cara melaksanakan nahi mungkar, mencegah kemungkaran, keburukan itu ada tiga tingkat. Yang pertama falyughayir biyadih, yaitu mencegah kemungkaran dengan kekuatan tangannya, dengan kekuasaannya, dengan peraturan," ujar Ustaz Drs. Daliman.

Pelaksanaan Amar Ma'ruf atau mengajak kebaikan harus dilakukan dengan metode yang elegan. Ustaz Daliman menekankan tiga pendekatan utama: keteladanan sikap, pemberian nasihat yang santun agar tidak menyakiti perasaan, serta pendekatan personal yang mengutamakan kedekatan hati.

Sementara itu, pencegahan kemungkaran (Nahi Munkar) memiliki tingkatan yang diatur dalam hadis. Langkah pertama adalah tindakan nyata melalui kekuasaan atau peraturan; langkah kedua adalah melalui lisan atau nasihat; dan langkah terakhir yang paling ringan adalah melalui doa dalam hati sebagai bentuk pengingkaran terhadap keburukan.

"Amar makruf nahi mungkar yang paling beratnya yaitu amar makruf nahi mungkar kepada diri kita sendiri sebelum kepada orang lain," lanjutnya.

Seringkali, tantangan terberat justru datang dari lingkungan internal, yakni mengingatkan diri sendiri untuk tidak terjerumus dalam keburukan yang sudah mendarah daging. Selain itu, menghadapi kemungkaran yang dilakukan oleh pemegang kekuasaan atau oknum aparat menjadi ujian tersendiri yang memerlukan kesabaran dan strategi yang tepat.

Dalam sesi interaktif, muncul pertanyaan mengenai bagaimana menyikapi kebaikan yang tidak dihargai atau bahkan berujung konflik. ia menegaskan bahwa setiap individu harus memahami strategi komunikasi yang tepat, karena setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap nasihat.

"Ajaklah kepada jalan kebaikan, kepada ajaran kebaikan itu dengan hikmah. Dengan hikmah itu dengan bijaksana. Bijaksana itu meliputi ada kemampuan ilmu," tegasnya.

Menjawab keraguan masyarakat mengenai efektivitas gerakan amar ma'ruf saat menghadapi aparat, penting untuk diingat bahwa kita tidak dituntut untuk selalu berhasil, melainkan wajib berikhtiar semampu kita. Dialog dan pendekatan hikmah menjadi kunci agar niat mulia tidak justru memicu kerusuhan baru.

"Jadi jawaban kita adalah kita semua itu mempunyai kewajiban untuk melaksanakan amar makruf nahi mungkar menurut kapasitas kita sendiri-sendiri," simpulnya.

Dengan demikian, Amar Ma'ruf Nahi Munkar adalah kewajiban kolektif yang menuntut kepedulian setiap elemen masyarakat sesuai kapasitasnya. Dengan optimisme dan pendekatan yang bijaksana, upaya ini akan menjadi kekuatan besar dalam mereduksi kemungkaran dan membangun masyarakat yang lebih beradab. (Fattah Zakaria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....