Kenali Ciri dan Dampak Bahaya Silent Treatment

  • 25 Agt 2026 21:46 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Fenomena mendiamkan pasangan secara sepihak atau silent treatment dalam hubungan asmara kerap disalahartikan sebagai cara meredam konflik, padahal pola perilaku ini menyimpan dampak psikologis yang destruktif. Isu kesehatan mental dan relasi antar pasangan tersebut dibahas mendalam oleh Dosen Fakultas Psikologi UMP, Ayu Kurnia S, S.Psi., M.Psi., dalam dialog Ruang Psikologi pada Senin 24 Agustus 2026.

Ayu memaparkan bahwa ciri paling mendasar dari silent treatment adalah adanya kesengajaan dari pelaku untuk menarik hak berkomunikasi dan meniadakan atensi dari pasangan sebagai bentuk hukuman emosional. Pelaku umumnya sengaja mengabaikan keberadaan pasangan, menolak berdialog tanpa alasan yang jelas, sehingga membiarkan pesan singkat terbaca (read) begitu saja agar korban merasa bersalah dan dipaksa menerka-nerka.

"Ciri utamanya adalah tindakan sengaja menarik sesuatu yang disukai orang lain, salah satunya kebutuhan untuk diajak bicara dan didengarkan. Pelaku sengaja mengabaikan (ignore), misalnya membaca pesan tapi sengaja tidak dibalas, agar pasangannya tahu sedang dihukum," jelas Ayu.

Menurut Ayu, perilaku tersebut menciptakan dinamika relasi yang tidak sehat (toxic dynamic) dan sangat berbeda dengan proses berdiam diri secara wajar untuk menenangkan emosi (taking space). Pada situasi menenangkan diri, seseorang biasanya tetap memberikan penjelasan dan kepastian, sedangkan pada silent treatment, penolakan interaksi dilakukan secara sepihak dengan intensi membalas sakit hati.

Mengenai dampaknya, Ayu menyoroti efek berantai yang dialami oleh korban, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pada tahap awal, korban akan mengalami kebingungan akut, rasa bersalah, dan kecemasan tinggi karena tidak mengetahui letak persoalan yang sebenarnya. Jika berlangsung dalam kurun waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, kondisi ini dapat merusak harga diri (self-esteem) korban secara permanen.

"Bagi korban, rasanya sangat menyiksa karena ada sosok pasangannya tetapi keberadaannya seperti ditiadakan. Dampak jangka panjangnya, korban bisa terus-menerus menyalahkan diri sendiri, kehilangan kepercayaan diri, hingga mengalami depresi berat dan gangguan kecemasan (anxiety), bahkan membutuhkan bantuan psikiater," ungkapnya.

Menutup penjelasannya, Ayu menekankan bahwa kebiasaan mendiamkan pasangan bukanlah solusi bijak dalam menyelesaikan konflik asmara, sebab ketika emosi sedang meluap, sistem limbik di otak memang bekerja dominan sehingga mengaburkan logika berpikir jernih. Oleh karena itu, mengambil jeda (cooling down) diperbolehkan asalkan disertai batas waktu yang jelas untuk kembali berdiskusi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....