Tantangan dan Solusi Nyata dalam Mengelola Sampah Plastik di Sungai Serayu

  • 19 Agt 2026 11:44 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID Purwokerto – Sungai Serayu merupakan urat nadi kehidupan bagi masyarakat di sepanjang alirannya. Dalam program Dialog Kenthongan Pro 1 RRI Purwokerto yang bertemakan "Menjaga Serayu dari Sampah Plastik, Mulai dari Mana?" terungkap bahwa fenomena ini memerlukan perhatian kolektif yang mendalam, terutama di tingkat rumah tangga menjadi penyumbang terbesar sampah plastik ke sungai, Selasa (18/8/2026).

Tanpa perubahan perilaku, sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan perlahan berubah menjadi saluran pembuangan sampah raksasa. Data dipaparkan oleh SNV Indonesia sangat memprihatinkan, tingginya ketergantungan pada plastik sekali pakai, ditambah terbatasnya layanan pengelolaan sampah di wilayah pinggiran sungai, menciptakan kebocoran sampah plastik signifikan.

"Hasilnya temuan adalah lebih dari 50% responden belum pernah menerima edukasi tentang pengurangan sampah plastik. Kemudian lebih dari 70% responden masih bergantung pada konsumsi plastik sekali pakai yang kresek. Kemudian kurang dari 10% responden menjadikan pengurangan dan pemilahan sampah sebagai kebiasaan sehari-hari,” jelas Audrie J. Siahainenia, PhD selaku Program Manager SOLUSI-IKI.

Kurangnya edukasi dampak jangka panjang sampah plastik di lingkungan. Pemerintah Banyumas. Bapperida menempatkan pengelolaan sampah sebagai prioritas pembangunan. Langkah strategis diambil dengan mengoptimalkan infrastruktur seperti TPST dan mendorong penggunaan sampah plastik sebagai bahan baku Refuse Derived Fuel (RDF). Upaya nyata mengubah paradigma sampah dari limbah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.

"Jadi, kalau kita bisa dipisahkan ini bisa berdampak baik. Dan karena kita sudah menjadi percontohan maka kita harus melakukan pemilahan mulai dari sekarang. Dan itu juga sudah digaungkan kemarin dengan kunjungan Presiden ke Banyumas bahwa tahun 2028 Banyumas harus bebas Zero Waste,” ujar Dedy Noerhasan, S.T., M.Si. selaku Kepala Badan Bapperida Kab. Banyumas.

Kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta seperti SNV Indonesia menjadi kunci dalam mempercepat perubahan. Melalui program Solution For Integrated Land and Seascape Management Indonesia (SOLUSI), mereka melakukan pendampingan masyarakat serta digitalisasi data bank sampah. Langkah ini bertujuan untuk memetakan sumber sampah dan memberikan solusi teknis yang dapat diimplementasikan langsung oleh kelompok swadaya masyarakat di tingkat desa.

Dampak kesehatan dari polusi plastik di Sungai Serayu tidak boleh dianggap remeh. Plastik yang terurai menjadi mikroplastik akan masuk ke dalam rantai makanan, mulai dari ikan yang hidup di sungai hingga akhirnya dikonsumsi oleh manusia. Akumulasi mikroplastik ini berisiko memicu berbagai masalah kesehatan serius, termasuk kanker, sehingga menjaga sungai berarti menjaga masa depan generasi penerus.

"Untuk yang generasi muda, anak-anak milenial, itu biasanya lebih simpel dibilang 3 detik 3S. Pertama itu stop buang sampah sembarangan. Kemudian short atau pilah sampah, kemudian save itu menyimpan dan menyetor sampah ke bank sampah sehingga dia bisa mendapatkan cuan,” tegas Audrie.

Strategi sederhana ini, jika dilakukan secara konsisten, akan secara drastis mengurangi jumlah sampah yang berakhir di sungai. Partisipasi aktif dari ibu-ibu rumah tangga dan generasi muda sangat diharapkan dalam menggerakkan budaya baru ini.

Lebih dari sekadar aspek teknis, menjaga sungai adalah cerminan budaya dan karakter bangsa. Pemerintah terus mendorong konsep front river, di mana sungai ditempatkan sebagai wajah depan dan kebanggaan masyarakat, bukan lagi sebagai area belakang yang kumuh. Dengan mengubah cara pandang terhadap sungai, diharapkan muncul rasa memiliki yang kuat untuk melestarikan lingkungan.

Perjalanan menuju Banyumas Zero Waste 2028, diperlukannya kerja sama lintas sektor. Pemerintah, komunitas, dunia usaha, dan masyarakat harus bersinergi dalam satu tujuan besar: mengembalikan kejernihan Sungai Serayu. Keberhasilan upaya ini tidak hanya akan menyelamatkan ekosistem, tetapi juga menjamin kehidupan yang lebih sehat dan lestari bagi seluruh masyarakat di sepanjang alirannya. (Fattah Zakaria)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....