Sedekah tanpa Pamrih: Pelajaran dari Orang-orang Sholeh
- 19 Agt 2026 15:44 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Keikhlasan dalam bersedekah tidak diukur dari besar atau kecilnya harta yang diberikan. Keikhlasan tercermin dari sikap hati, ketenangan jiwa, serta konsistensi dalam berbuat baik tanpa mengharapkan imbalan dari orang lain.
Hal tersebut disampaikan Hj. Sri Ningsih, S.Pd., M.Si. dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, Rabu (19/8/2026). Ia menjelaskan sejumlah tanda yang menunjukkan seseorang bersedekah dengan ikhlas.
Menurutnya, orang yang ikhlas bersedekah tidak mengharapkan penghargaan, pujian, maupun ucapan terima kasih atas pemberiannya. Ia juga tidak mengungkit kembali sedekah yang telah diberikan dan tidak merasa kecewa ketika kebaikannya tidak dihargai.
“Tanda orang yang ikhlas dalam bersedekah adalah tidak mengharapkan imbalan dari apa yang sudah diberikan, melainkan hanya untuk mencari rida Allah,” ujarnya.
Selain itu, orang yang ikhlas akan merasa bahagia ketika orang lain memperoleh manfaat dari pemberiannya. Ia tidak memilih-milih penerima sedekah dan cenderung menyembunyikan amalnya agar terhindar dari keinginan untuk mendapatkan pengakuan.
Beliau juga mengingatkan agar seseorang tidak merasa lebih mulia hanya karena telah bersedekah. Menurutnya, sedekah tetap dapat dilakukan meskipun dalam jumlah sedikit karena nilai kebaikan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah harta yang diberikan.
“Pada dasarnya Allah yang menolong kita untuk berbuat baik. Kalau kita hebat karena Allah yang menghebatkan kita, kalau keburukan kita disembunyikan karena Allah yang menyembunyikannya,” jelasnya.
Ia kemudian mengingatkan pentingnya membangun sikap tidak bergantung pada penghargaan dari orang lain. Dalam hal kebaikan, umat Islam dianjurkan untuk lebih banyak memberi daripada menerima “ tangan atas lebih baik dari tangan dibawah.”
Dalam pembahasannya, ustadzah menyebut seseorang boleh memiliki rasa iri terhadap orang yang memiliki harta kemudian menggunakannya untuk bersedekah, maupun terhadap orang yang memiliki ilmu lalu membagikannya kepada orang lain. Rasa iri tersebut, menurutnya, hendaknya menjadi dorongan untuk melakukan kebaikan serupa.
Ia juga menekankan pentingnya menumbuhkan empati kepada sesama. Hal tersebut sejalan dengan hadis Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan agar seseorang mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.
Menurutnya, bentuk sedekah tidak selalu berupa harta. Senyum kepada sesama juga merupakan bentuk kebaikan yang sederhana. Sebaliknya, pemberian yang besar menjadi kurang bermakna apabila disertai sikap tidak ikhlas dan terus diungkit setelah diberikan.
Pada akhir pembahasan, Ustazah Ning berpesan agar “Harta berada di tangan” dengan maksud agar kita yang mengendalikan harta, bukan harta yang mengendalikan kita. Sehingga, ketika ada orang yang membutuhkan, kita tidak terlalu berat untuk berbagi. (Fauziyah)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....