Jiwa Kemenangan di Era Digital, Tak Sekadar Soal Pencapaian dan Pengakuan
- 16 Agt 2026 15:46 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Membangun jiwa kemenangan di era digital dinilai menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakmampuan melawan hawa nafsu, keinginan mendapatkan validasi manusia, fenomena FOMO, hingga rasa takut berlebihan terhadap masa depan. Hal itu yang disampaikan oleh Dosen Fakultas Agama Islam UMP, Bayu Dwi Cahyono, M.Pd., saat menjadi narasumber dalam Dialog Tasbih Pro 2 RRI Purwokerto baru-baru ini.
Bayu mengatakan tantangan terbesar dalam meraih kemenangan justru dapat berasal dari dalam diri sendiri. Menurutnya, manusia perlu belajar mengendalikan diri agar tidak mudah terlena oleh kenyamanan dan keinginan sesaat.
"Menurut Rasul, kita baru selesai dari hijrah yang besar, kita akan menuju ke hijrah yang lebih kecil, kita akan menuju ke hijrah yang lebih besar. Musuh kita itu lawan Perang Khandaq yang begitu besarnya itu, menurut Rasul itu kecil, karena nampak dan terlihat. Tapi yang lebih besar adalah ketika kita melawan diri sendiri," katanya.
Ia mencontohkan perjuangan melawan rasa malas dan kenyamanan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya ketika seseorang harus memilih antara melaksanakan kewajiban atau mengikuti rasa nyaman.
Selain hawa nafsu, Bayu menyoroti bahaya validasi manusia yang semakin kuat di era media sosial. Menurutnya, seseorang dapat terjebak mengejar pengakuan dengan berusaha terlihat sukses, kaya, pintar, maupun bermanfaat tanpa benar-benar membangun kualitas diri.
Ia menilai validasi sosial tidak selalu buruk karena dapat menjadi dukungan. Namun, apabila dijadikan tujuan utama, validasi justru dapat menjadi tekanan bagi seseorang.
Tantangan lainnya adalah fenomena FOMO atau kecenderungan mengikuti sesuatu karena tidak ingin tertinggal. Menurut Bayu, generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk memilah tren dan tidak sekadar mengikuti sesuatu tanpa mempertimbangkan manfaatnya.
Ia juga menyinggung penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI yang semakin marak. Menurutnya, masyarakat perlu tetap menghargai kapasitas dan kompetensi manusia, termasuk para pekerja kreatif dan anak bangsa.
Sementara itu, rasa takut berlebihan terhadap masa depan atau overthinking juga dinilai dapat menghambat seseorang dalam berkontribusi. Bayu mengajak generasi muda tetap optimistis menghadapi masa depan dengan melakukan hal-hal yang dapat dikerjakan sesuai kemampuan saat ini.
Menurut Bayu, kemenangan tidak dapat diraih secara instan. Proses menuju kemenangan membutuhkan pembelajaran dan usaha yang dilakukan secara bertahap. Karena itu, seseorang perlu terus belajar dan tidak merasa telah mencapai kemenangan hanya karena mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Dengan demikian, jiwa kemenangan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian yang terlihat dari luar. Kemenangan juga berkaitan dengan kemampuan seseorang mengendalikan diri, memahami kapasitasnya, terus belajar, serta memberikan kontribusi nyata sesuai bidang yang dikuasainya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....