Psikologi Perdamaian: Kelola Perbedaan untuk Bangun Relasi yang Sehat
- 12 Agt 2026 20:28 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Perdamaian tidak selalu berarti ketiadaan konflik. Dalam perspektif psikologi perdamaian, perbedaan dan konflik merupakan bagian normal dari kehidupan yang perlu dikelola agar dapat menghasilkan hubungan yang lebih sehat.
Dalam dialog Jaga Malam Pro 2 RRI Purwokerto, Selasa (11/8/2026), Uswatun Hasanah, S.Psi., M.A., menjelaskan psikologi perdamaian tidak hanya membahas bagaimana menghentikan konflik atau perang, tetapi juga memahami cara manusia berpikir dan bertindak dalam membangun relasi yang lebih harmonis, adil, dan manusiawi. Menurutnya, konflik dalam kehidupan sehari-hari merupakan sesuatu yang wajar. Persoalannya terletak pada bagaimana seseorang mengelola perbedaan tersebut.
Dalam psikologi perdamaian, konflik dapat bersifat destruktif maupun konstruktif. Konflik destruktif dapat merusak hubungan, sedangkan konflik konstruktif dapat dikelola untuk menghasilkan solusi bersama.
"Perdamaian itu bukan berarti tidak ada konflik. Konflik sekali lagi dalam konsep psikologi perdamaian sebenarnya bagian normal dalam hidup," ujar Uswatun.
Ia juga menjelaskan adanya konsep perdamaian negatif dan perdamaian positif. Perdamaian negatif secara sederhana ditandai dengan tidak adanya kekerasan secara langsung.
Sementara itu, perdamaian positif memiliki cakupan lebih luas, yakni terciptanya kondisi sosial yang menghargai keadilan, kesetaraan, keamanan, serta kepentingan berbagai kelompok. Oleh karena itu, masyarakat yang terlihat tenang belum tentu sepenuhnya berada dalam kondisi damai apabila masih terdapat diskriminasi atau ketidaksetaraan.
Uswatun menilai, pembangunan perdamaian dapat dimulai dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, sekolah, grup percakapan, hingga media sosial. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah mengubah cara merespons perbedaan.
Alih-alih langsung menyerang seseorang karena memiliki pandangan berbeda, masyarakat dapat membuka ruang dialog dengan mengakui adanya perspektif yang berbeda. Selain itu, ia mendorong masyarakat tidak terburu-buru menggeneralisasi kesalahan individu kepada kelompok, memeriksa kebenaran informasi sebelum bereaksi, serta membedakan antara kritik terhadap gagasan dan serangan terhadap pribadi.
Masyarakat juga perlu berani mengenal orang-orang yang berbeda. Menurut Uswatun, interaksi dengan kelompok yang beragam dapat memperluas perspektif dan membantu seseorang memahami bahwa dunia memiliki latar belakang serta sudut pandang yang beragam.
Dengan demikian, praktik psikologi perdamaian tidak harus dimulai dari persoalan besar. Kebiasaan sederhana dalam berinteraksi sehari-hari dapat menjadi bagian dari upaya membangun hubungan sosial yang lebih adil, aman, dan manusiawi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....