Dari Niat sampai Aksi: Membangun Semangat dalam Islam
- 10 Agt 2026 17:10 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Rasa jenuh, tekanan hidup, hingga hilangnya arah tujuan kerap dialami masyarakat di tengah tingginya tuntutan kehidupan modern. Kondisi tersebut dapat memengaruhi ketenangan jiwa dan menurunkan produktivitas sehari-hari.
Hal tersebut menjadi pembahasan dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, bersama Ustaz Dr. Shofiyulloh, M.H.I, masih membahas tema Membangun Semangat dalam Islam bagian kedua, Minggu (9/8/2026).Dalam kajiannya, Ustaz Shofiyulloh mengajak pendengar untuk menjadikan ajaran Islam sebagai landasan dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Shofoyulloh juga menjelaskan, kesulitan merupakan bagian dari kehidupan yang tidak dapat dihindari. Bahkan, semakin tinggi seseorang ingin meningkatkan kualitas dirinya, tantangan yang dihadapi dapat semakin besar. Ia mengibaratkan perjalanan hidup seperti permainan yang memiliki tingkatan atau level. Ketika seseorang ingin naik ke tingkat yang lebih tinggi, tantangan yang dihadapi juga akan semakin berat. “Bahwa di dalam kesulitan itu pasti akan ada kemudahan,” ujarnya.
Menurutnya, persoalan sering kali terasa semakin sulit ketika seseorang sudah memiliki pola pikir menyerah dan merasa tidak mampu. Karena itu, setiap kesulitan perlu dihadapi dengan optimisme sekaligus evaluasi terhadap diri sendiri. Ia juga menekankan bahwa Islam tidak hanya memberikan gambaran mengenai kesulitan, tetapi juga menyediakan jalan keluar. Ia menyebut keimanan dan amal saleh sebagai bagian penting yang dapat menjadi bekal seseorang dalam menghadapi ujian kehidupan.
“Kita ini hidup, ternyata sesuai dengan level kita, ujian-ujiannya. Apa yang ada dalam kehidupan kita, yang terjadi dalam diri kita itu ternyata sesuai dengan kemampuan kita,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membandingkan ujian hidupnya dengan kehidupan orang lain. Setiap orang memiliki tantangan dan kapasitas yang berbeda. Ujian yang berat bukan berarti seseorang sedang ditinggalkan atau dizalimi Allah, melainkan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan kedewasaan dan kualitas diri.
Di akhir kajian, Ustaz Shofiyulloh kembali menegaskan bahwa masalah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Karena itu, masyarakat perlu membangun pola pikir yang membuat diri tetap tegar, optimis, dan tidak mudah menyerah. (Safira)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....