OJK Perkuat Literasi Keuangan lewat Sekolah dan Keluarga

  • 06 Agt 2026 18:36 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat literasi keuangan masyarakat melalui kolaborasi dengan sekolah, keluarga, pemerintah daerah, dan berbagai pemangku kepentingan. Langkah tersebut dilakukan untuk membangun kebiasaan mengelola keuangan secara bijak sekaligus mencegah masyarakat terjerumus pada praktik judi online maupun aktivitas keuangan ilegal.

Manajer Senior Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis (PEPK dan LMSt) OJK Purwokerto, Novalina Dias Lestari, mengatakan pembentukan kebiasaan mengelola keuangan harus dimulai sejak usia dini. Menurutnya, keluarga menjadi lingkungan pertama yang berperan mengenalkan budaya menabung kepada anak.

"Sedari dini kita mengenalkan anak pada kebiasaan menabung. Setelah itu mereka belajar membedakan kebutuhan dan keinginan, kemudian memiliki target keuangan yang ingin dicapai," ujarnya.

Selain keluarga, sekolah juga dinilai memiliki peran penting dalam membentuk karakter finansial peserta didik. Karena itu, OJK mengembangkan berbagai program edukasi yang melibatkan satuan pendidikan di wilayah kerja Purwokerto.

Dias menjelaskan, OJK saat ini melaksanakan program Hari Indonesia Menabung yang berlangsung pada Juli hingga Agustus. Program tersebut diisi dengan kegiatan roadshow ke sekolah-sekolah di Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara untuk memperkuat pemahaman siswa mengenai pengelolaan keuangan.

"Kami menyasar pelajar SMA melalui edukasi dan cerdas cermat literasi keuangan. Harapannya mereka memahami cara mengelola keuangan sebelum memasuki usia produktif," kata Dias.

Tidak hanya menyasar peserta didik, OJK juga menyelenggarakan Training of Trainers (TOT) bagi guru, pengurus PKK, penyuluh agama, hingga berbagai komunitas masyarakat. Melalui pelatihan tersebut, para peserta diharapkan menjadi agen edukasi keuangan di lingkungan masing-masing.

Menurut Dias, ibu memiliki peran strategis sebagai pengelola keuangan keluarga sehingga perlu memiliki kemampuan menyusun perencanaan keuangan rumah tangga. Edukasi juga diberikan kepada calon pengantin melalui penyuluh agama agar mampu merencanakan kebutuhan keluarga sejak awal pernikahan.

OJK juga menggelar Bulan Literasi Keuangan yang berlangsung mulai Mei hingga Agustus setiap tahun. Dalam program tersebut, seluruh lembaga jasa keuangan didorong aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai penggunaan produk dan layanan keuangan secara aman dan bertanggung jawab.

Di sisi lain, OJK bersama sejumlah kementerian, kepolisian, kejaksaan, dan pemerintah daerah tergabung dalam Satgas PASTI (Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal). Satgas ini bertugas melakukan pencegahan dan penindakan terhadap berbagai aktivitas keuangan ilegal, termasuk investasi ilegal yang merugikan masyarakat.

Untuk meningkatkan inklusi keuangan pelajar, OJK juga menjalankan program KEJAR (Satu Rekening Satu Pelajar) melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Program tersebut mendorong setiap pelajar memiliki rekening tabungan sebagai sarana belajar mengelola keuangan sejak dini.

Dias mengingatkan masyarakat agar selalu memahami produk keuangan sebelum menggunakannya. Menurutnya, literasi keuangan merupakan kunci agar masyarakat mampu membedakan kebutuhan dan keinginan serta terhindar dari tawaran investasi maupun pinjaman yang berisiko.

"Pahami dulu produknya, baru digunakan. Jangan menggunakan produk keuangan terlebih dahulu baru kemudian mempelajarinya, karena hal itu justru berpotensi menimbulkan kerugian," ujarnya.

Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, OJK berharap budaya menabung dan literasi keuangan dapat semakin mengakar di tengah masyarakat. Dengan demikian, masyarakat diharapkan mampu mengambil keputusan keuangan secara bijak serta terhindar dari praktik judi online maupun aktivitas keuangan ilegal.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....