Kemerdekaan Harus Dimaknai sebagai Kebebasan Menghargai Perbedaan
- 04 Agt 2026 18:13 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto- Kemerdekaan harus dimaknai sebagai kebebasan setiap individu untuk menjadi dirinya sendiri tanpa mengalami intimidasi maupun penindasan dalam kehidupan bermasyarakat. Kebebasan tersebut juga harus diiringi sikap menghargai keberagaman sebagai kekuatan bangsa Indonesia.
Pandangan tersebut disampaikan Dosen UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto sekaligus penggerak moderasi beragama, Dr. Turhamun, M.Si., dalam dialog interaktif Moderasi Beragama di Pro 1 RRI Purwokerto, Selasa (4/8/2026). Dialog mengangkat tema "Merdeka dalam Keberagaman, Bersatu dalam Toleransi" sebagai refleksi menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Turhamun menjelaskan, kemerdekaan tidak hanya berarti terbebas dari penjajahan secara fisik, tetapi juga terbebas dari dominasi pemikiran, tekanan emosional, hingga intimidasi dalam menjalankan keyakinan. Menurutnya, setiap warga negara berhak mengakui identitasnya tanpa harus merendahkan atau mendiskreditkan kelompok lain yang berbeda.
Ia mengatakan, keberagaman merupakan sunatullah atau ketentuan Tuhan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan manusia. Karena itu, perbedaan harus dipandang sebagai anugerah yang justru menciptakan harmoni dalam kehidupan berbangsa.
"Perbedaan dalam perspektif agama adalah sunatullah. Kita harus menerima fakta bahwa berbeda adalah sebuah anugerah," kata Turhamun.
Menurut Turhamun, tantangan toleransi di Indonesia hingga kini masih cukup besar karena masih ditemukan praktik kekerasan, eksklusivisme dalam beragama, serta pemaksaan praktik keagamaan yang tidak sejalan dengan nilai Pancasila. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan moderasi beragama di berbagai lapisan masyarakat.
Ia menilai generasi muda menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian karena menjadi pengguna media sosial terbesar. Penguatan literasi digital dinilai penting agar masyarakat tidak mudah terpancing informasi provokatif yang berpotensi memicu kebencian maupun konflik.
Turhamun menjelaskan, moderasi beragama merupakan jalan tengah atau wasathiyah yang menghindarkan seseorang dari sikap ekstrem dalam beragama. Moderasi juga mengajarkan keseimbangan antara keyakinan terhadap agama yang dianut dengan penghormatan terhadap hak orang lain.
Ia mengibaratkan Indonesia seperti semangkuk es buah yang terdiri atas berbagai macam unsur tetapi mampu menyatu menjadi sajian yang utuh. Keberagaman suku, agama, budaya, dan bahasa justru menjadi kekayaan bangsa apabila dirawat dengan sikap saling menghormati.
"Indonesia seperti es buah. Kalau hanya satu buah tentu tidak menarik, tetapi ketika berbagai unsur menjadi satu akan menghasilkan sesuatu yang luar biasa," ujarnya.
Pada akhir dialog, Turhamun mengajak masyarakat menjadikan momentum Hari Kemerdekaan sebagai pengingat bahwa persatuan hanya dapat terwujud apabila masyarakat mampu menghargai perbedaan. Ia menegaskan bahwa kemerdekaan memberikan kebebasan untuk berbeda, sedangkan toleransi menjadi kekuatan untuk tetap bersatu.
"Kemerdekaan memberi kita kebebasan untuk berbeda, sedangkan toleransi memberi kita kekuatan untuk tetap menyatu. Berbeda, tetapi bersatu," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....