Maknai Kemerdekaan, Tak Sekadar Dirayakan tetapi juga Dijaga
- 04 Agt 2026 18:14 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, rasa cinta kepada tanah air menjadi momen yang patut kembali direnungkan. Dalam Islam, mencintai negeri tempat kita dilahirkan, tumbuh, dan mengabdi bukan sekadar bentuk nasionalisme, tetapi juga wujud syukur kepada Allah atas nikmat yang telah diberikan.
Hal ini disampaikan Ustaz Drs. Daliman, M.Pd dalam program Mutiara Pagi yang disiarkan Pro 1 RRI Purwokerto, Selasa (4/8/2026).
Menurut Ustaz Daliman, cinta tanah air tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar. Justru, kebiasaan sederhana seperti menaati aturan, menjaga kebersihan lingkungan, menghargai perbedaan, rajin belajar, hingga ikut menjaga persatuan merupakan bentuk nyata kecintaan kepada bangsa.
Ia menjelaskan bahwa menjaga tanah air merupakan kewajiban kifayah bagi umat Islam. Karena itu, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memberikan manfaat bagi bangsa sesuai dengan peran dan kemampuannya.
Bagi generasi muda, wujud cinta tanah air dapat dimulai dengan mengenal sejarah perjuangan para pendahulu, semangat menuntut ilmu, bekerja dengan sungguh-sungguh, serta membiasakan diri bersikap jujur dan adil. Menurutnya, itulah cara terbaik mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan.
Ustaz Daliman kemudian mengingatkan tentang cita-cita terwujudnya "baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur", yakni sebuah negeri yang baik, aman, makmur, dan mendapat ampunan Allah SWT. Menurutnya, gambaran tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya masyarakat yang mau menjaga persatuan, saling menghormati, serta bersama-sama membangun bangsa.
Ia juga mengutip QS. At-Taubah ayat 122 yang menjelaskan bahwa tidak semua orang harus pergi berjuang di medan perang. Sebagian hendaknya memperdalam ilmu agama agar dapat kembali memberi pemahaman dan membimbing masyarakat. Dari ayat itu, Ustaz Daliman mengajak generasi muda untuk terus belajar karena ilmu yang dimiliki bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi juga harus membawa manfaat bagi lingkungan dan bangsa.
Namun, menurutnya, kecerdasan saja tidak cukup. Ilmu yang tinggi harus berjalan seiring dengan akhlak yang baik. Sebab, orang yang pintar tetapi tidak memiliki akhlak justru bisa membawa dampak buruk bagi masyarakat.
"Orang yang pintar secara akademik akan lebih membahayakan apabila tidak diimbangi dengan akhlak yang baik,
Karakter yang baik, dibentuk sejak dari rumah. Seorang ibu sebagai madrasatul ula atau sekolah pertama bagi anak memiliki peran penting dalam membiasakan disiplin, beribadah, jujur, bertanggung jawab, dan mencintai tanah air sejak usia dini,"ujarnya.
Menutup kajiannya, Ustaz Daliman mengajak masyarakat memaknai Hari Kemerdekaan lebih dari sekadar seremoni. Memasang bendera, mengikuti lomba, dan mengadakan syukuran tentu menjadi bagian dari perayaan. Namun, yang lebih penting adalah mengisi kemerdekaan dengan sikap yang mencerminkan cinta kepada Indonesia, seperti menjaga persatuan, berbuat jujur, saling menghargai, dan terus berkarya demi kemajuan bangsa.
Menurutnya, jika setiap warga negara berusaha menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama, maka cita-cita menghadirkan negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur akan semakin dekat untuk diwujudkan bersama. (Fauziyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....