Tanda Hati yang Terpaut dengan Masjid, dari Ibadah hingga Akhlak
- 29 Jul 2026 10:50 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Ada kalanya hati merasa tenang ketika melangkahkan kaki menuju masjid. Bukan karena bangunannya yang megah, tetapi karena di sanalah seorang hamba merasa dekat dengan Rabb-nya. Kerinduan untuk kembali ke masjid pun menjadi salah satu tanda bahwa hati telah terpaut dengannya.
Dalam kajian Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Hj. Sri Ningsih, S.Pd., M.Si. mengajak umat Islam untuk kembali memaknai hubungan seorang muslim dengan masjid melalui tema "Tanda-Tanda Orang yang Hatinya Terpaut dengan Masjid", Rabu (29/7/2026).
Menurutnya, orang yang hatinya terpaut dengan masjid akan tumbuh dalam ketaatan kepada Allah SWT. Masjid bukan sekadar tempat melaksanakan salat berjamaah, tetapi juga menjadi tempat untuk menuntut ilmu, memperbaiki diri, dan memakmurkan syiar Islam. Bahkan, sebagian ulama menjelaskan bahwa salat fardu berjamaah merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan, dan dalam kondisi tertentu menjadi wajib apabila tidak terdapat uzur syar'i.
Kerinduan kepada masjid juga tercermin dari kebiasaan-kebiasaan baik yang tumbuh dalam diri seorang muslim. Di antaranya selalu ingin kembali ke masjid di mana pun berada, datang lebih awal sebelum waktu salat, merasa nyaman berlama-lama di dalamnya, hingga merasa sedih ketika tertinggal salat berjamaah. Kecintaan itu pun mendorong seseorang untuk ikut memakmurkan masjid dan menjaga adab selama berada di dalamnya.
Tak berhenti pada diri sendiri, cinta kepada masjid juga perlu diwariskan kepada keluarga. Ustazah Ning menuturkan, kecintaan tersebut dapat ditanamkan sejak dini melalui keteladanan dari orang tua. Pembiasaan yang dilakukan dalam keluarga akan menjadi bekal berharga bagi anak hingga ia tumbuh dewasa.
"Insyaallah kalau dari rumah sudah dibekali dengan hal-hal yang baik, maka di mana pun anak berada akan selalu menanamkan apa yang sudah ditanamkan di keluarga," ungkapnya.
| Baca juga: Mandi Wajib yang Benar, Syarat Sah Ibadah |
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa rajin pergi ke masjid hendaknya berjalan beriringan dengan baiknya akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, salat tidak hanya menjadi kewajiban yang ditunaikan, tetapi juga menjadi benteng yang mampu menjauhkan seseorang dari perbuatan keji dan mungkar.
Ia pun menyoroti fenomena yang masih kerap dijumpai di tengah masyarakat, yakni seseorang yang rajin beribadah dan datang ke masjid, namun perilakunya belum mencerminkan nilai-nilai yang diajarkan dalam salat. Menurutnya, hal tersebut menjadi pengingat bahwa salat perlu dihayati maknanya, bukan sekadar dilaksanakan sebagai rutinitas.
Ketika seseorang masih mendapatkan kritik atas perilakunya meskipun telah melaksanakan salat, sikap yang perlu diutamakan ialah menerima nasihat dengan lapang dada dan menjadikannya sebagai bahan introspeksi diri.
"Hal yang perlu dilakukan oleh diri kita, meski sudah melaksanakan kewajiban salat namun dinilai dan dilihat hanya perilaku negatif, sikap kita ialah menerima terbuka kritik. Karena dari kritik dapat memperbaiki diri kita," jelasnya.
Menutup kajiannya, Ustazah Ning mengajak umat Islam untuk senantiasa menjaga salat lima waktu dan memakmurkan masjid. Sebab, hati yang terpaut dengan masjid bukan hanya terlihat dari seberapa sering seseorang melangkahkan kaki ke sana, tetapi juga dari bagaimana nilai-nilai ibadah yang diperoleh mampu tercermin dalam akhlak, tutur kata, dan perilaku sehari-hari. (Fauziyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....