Pulihkan Anak dari Jerat Narkoba Melalui Pendampingan Rehabilitasi
- 28 Jul 2026 17:58 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Penyalahgunaan narkoba pada anak menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian serius. Di tengah rasa ingin tahu yang tinggi dan pengaruh lingkungan sekitar, anak menjadi kelompok yang rentan terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba. Karena itu, mereka tidak hanya membutuhkan perlindungan, tetapi juga kesempatan untuk pulih melalui rehabilitasi agar dapat kembali menjalani tumbuh kembangnya dengan baik
Rehabillitasi menjadi sebuah hal yang perlu diterapkan bagi pengguna narkoba, guna mengembalikkan hidup sehat dan menyelamatkan generasi. Topik rehabilitasi turut dibahas dalam dialog Spada RRI Pro 2 Purwokerto (23/7/2026), dengan menghadirkan narasumber Asmara Indra Perdana, seorang konselor adiksi dari BNN Purbalingga.
Dalam paparannya, Ia mengungkapkan bahwa BNNK Purbalingga telah menangani klien anak yang mayoritas berada di rentang usia 14-17 tahun (SMP/SMA). Sebanyak 90% dari mereka melakukan penyalahgunaan narkoba karena faktor coba-coba dan ajakan teman, dengan tingkat ketergantungan yang masih rendah hingga sedang.
Rehabilitasi BNN kepada anak sekolah diberikan dengan menggunakan pendekatan yang humanis dan aman. Identitas anak dijaga kerahasiaannya agar tidak terjadi stigma, perundungan, atau masalah di sekolah. Setelah rehabilitasi di sekolah selesai, dilakukan pendampingan pemulihan (rawat jalan) berupa kunjungan ke rumah atau tempat sosialisasi anak secara berkala. Pemantauan ini berlangsung selama 3 hingga 6 bulan untuk memastikan anak tidak mengalami relaps atau kambuh kembali. Proses rehabilitasi ini juga harus didampingi dengan peran pengawasan dan dukungan orang tua maupun sekolah.
Namun, ketidakpercayaan orang tua terhadap perubahan anak juga menjadi tantangan dalam proses rehabilitasi. Rasa khawatir yang berlebihan setelah mengetahui anak terjerat penyalahgunaan obat-obatan, minuman keras, maupun rokok kerap membuat orang tua meragukan perubahan positif yang ditunjukkan anak. Tidak sedikit yang menganggap perilaku baik tersebut hanya sebagai kamuflase atau sekadar upaya mencari perhatian, padahal dukungan dan apresiasi dari keluarga sangat dibutuhkan dalam proses pemulihan anak.
Dalam hal ini, Indra menekankan pentingnya apresiasi pada sebuah perubahan anak saat menjalani rehabilitasi. "Padahal kita harus mengapresiasi setiap bentuk perubahan dari anak, sekecil apa pun itu. Misalnya, ketika dia bangun lebih awal, makan teratur, tidur teratur, hingga melaksanakan salat. Semua itu perlu kita apresiasi," ujarnya.
Indra, juga menyoroti tentang perubahan yang dapat terlihat pada anak yang menyalahgunakan narkoba antara lain perubahan pola tidur (sering tidur larut malam dan mengantuk di sekolah), penurunan kebersihan diri, serta perubahan perilaku seperti lebih suka menyendiri, sering tidur di kelas, dan bolos sekolah. Pada tahap awal penyalahgunaan, perubahan fisik biasanya belum tampak jelas sehingga orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku dan kebiasaan sehari-hari anak.
Dalam penutupnya, Indra menegaskan bahwa keberhasilan rehabilitasi anak tidak hanya bergantung pada petugas atau keluarga, tetapi juga dukungan masyarakat. Ia mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma negatif terhadap anak yang sedang menjalani rehabilitasi dan memberikan mereka kesempatan untuk pulih serta kembali menjalani kehidupan secara normal. Indra juga berpesan kepada anak muda agar tidak takut untuk melapor dan menjalani rehabilitasi apabila pernah terjerat penyalahgunaan narkoba.
Menurutnya, langkah untuk pulih jauh lebih baik daripada terus terjebak dalam penyalahgunaan narkoba demi mewujudkan lingkungan yang bersih dan bebas dari narkoba. (Fauziyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....