Akhlak dalam Pergaulan: Menjaga Janji dan Menjauhi Gibah
- 28 Jul 2026 17:57 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Menjaga lisan, menepati janji, dan menjauhi gibah menjadi beberapa akhlak yang perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, kebiasaan berburuk sangka hingga mencari-cari kesalahan orang lain tidak hanya merusak hubungan antarsesama, tetapi juga dilarang dalam ajaran Islam. Hal itu disampaikan KH. Mintaraga Eman Surya dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, yang membahas tema Srawung Kanthi Mulyaning Akhlak pada Senin (27/7/2026).
Dalam kajiannya, KH. Mintaraga Eman Surya, Lc.,M.A mengingatkan agar tidak mudah mencaci maupun melaknat orang lain. Jika ada orang yang berbuat salah, yang perlu diperbaiki adalah perbuatannya, bukan malah membenci atau merendahkan orangnya. Sebab, menjaga hubungan baik dengan sesama juga menjadi bagian dari akhlak yang diajarkan dalam Islam.
Ia juga mengingatkan pentingnya menepati janji. Menurutnya, setiap muslim memiliki janji kepada Allah SWT maupun kepada sesama manusia yang harus dijaga. Karena itu, mengingkari janji menjadi salah satu perbuatan yang sangat tercela.
Dalam hadis riwayat Bukhari melalui hadis qudsi disebutkan ada tiga golongan yang akan dimusuhi Allah SWT pada hari kiamat kelak. Pertama, orang yang berjanji atau bersumpah atas nama Allah SWT, tetapi kemudian mengkhianatinya. Kedua, orang yang menjual manusia merdeka lalu memakan hasil penjualannya. Ketiga, orang yang mempekerjakan seseorang yang telah menyelesaikan pekerjaannya, tetapi tidak memberikan upah yang menjadi haknya.
Tak hanya soal janji, kajian ini juga membahas tentang tajassus atau kebiasaan mencari-cari kesalahan orang lain dan suudzon atau berburuk sangka. Dua hal ini sering kali menjadi awal munculnya gibah yang tanpa disadari dapat merusak hubungan antarsesama.
"Jauhilah banyak prasangka karena sebagian prasangka itu dosa dan ya prasangka itu biasanya diawali dengan apa? Tajassus. Tajassus itu nginggeng-nginggeng gitu," ujar Ustaz Mintaraga.
Ia menjelaskan, prasangka buruk biasanya berawal dari rasa penasaran yang berlebihan terhadap kehidupan orang lain. Mulai dari mencari tahu kesalahan orang lain, kemudian membicarakannya, hingga akhirnya menjadi gibah yang terus menyebar.
Perilaku tersebut juga telah diperingatkan Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya, "Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain."
KH. Mintaraga Eman Surya menjelaskan bahwa gibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Bahkan, dosa gibah bisa terus mengalir ketika keburukan yang dibicarakan ikut disebarkan oleh orang lain.
Mengutip pendapat Imam Syafi'i, ia menyampaikan bahwa seburuk-buruk bekal yang dibawa seseorang ketika menghadap Allah SWT adalah dosa yang berkaitan dengan sesama manusia yang belum diselesaikan di dunia. Karena itu, ia mengajak untuk tidak menunda meminta maaf dan saling mengikhlaskan, agar tidak membawa urusan dengan sesama hingga hari akhir kelak. (Fauziyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....