Penyejuk Ditengah Perbedaan: Merawat Bhineka Tunggal Ika
- 25 Jul 2026 08:18 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Di era sekarang semakin berkembangnya media digital dan komunikasi, penyebaran informasi bisa melalui berbagai hal mulai dari konten, komentar, dll. Kemudahan akses untuk mendapatkan informasi memang menuai banyak dampak positif dan negatif, salah satu dampak negatifnya adalah semakin mudahnya melihat perbedaan antar individu yang mudah memancing respons masyarakat dalam ruang digital.
Perbedaan adalah suatu bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia di muka bumi. Perbedaan suku, agama, budaya, maupun pandangan, semuanya memang sudah menjadi fitrah yang bisa dipandang sebagai anugerah, bukan malah menjadi alasan konflik di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Ikatan Keluarga Pondok Modern (IKPM) Gontor Banyumas, Dr. Alex Nanang Agus, M.Pd., dalam program SPADA (Selamat Pagi Anda) Pro 2 RRI Purwokerto yang mengangkat tema "Penyejuk di Tengah Perbedaan".
Menurut Dr. Alex, konflik yang terjadi saat ini berawal dari kurangnya kesadaran bahwa manusia memang diciptakan dengan kondisi yang berbeda-beda. Yang justru keberagaman itulah yang membuat kehidupan akan lebih indah dan bermakna.
"Perbedaan adalah anugerah, rahmat, sekaligus fitrah manusia. Pelangi menjadi indah karena memiliki warna yang berbeda. Begitu pula kehidupan, keindahannya lahir dari keberagaman," ungkapnya.
Beliau menerangkan bahwa konflik dapat dipicu dari berbagai hal termasuk perbedaan, baik dari segi fisik, suku, ras, maupun budaya, hingga keyakinan yang kita anut. Namun, jika masyarakat memiliki kesadaran bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang wajar maka potensi akan terjadinya konflik dapat diminimalisir kembali. Selain sikap dapat menerima perbedaan, penting juga membangun komunikasi yang baik saat mengutarakan pendapat. Seseorang harus mampu memahami dengan siapa ia berbicara, dan memilih waktu yang tepat, serta menggunakan bahasa yang santun pula, agar perbedaan pandangan tidak menjadi pertentangan nantinya.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya memisahkan persoalan keyakinan dengan hubungan sosial. Menurutnya, setiap individu memiliki hak untuk meyakini ajaran agamanya masing-masing, namun dalam kehidupan bermasyarakat seluruh warga tetap dapat bekerja sama, saling membantu, dan menjaga kerukunan.
"Keyakinan adalah ranah pribadi, sedangkan hubungan sosial adalah tanggung jawab bersama. Karena itu, jangan sampai perbedaan keyakinan menghalangi kita untuk berbuat baik kepada sesama," ungkapnya.
Beliau juga mengingatkan bahwa konflik seringkali berawal dari hal-hal yang nampaknya sepele, seperti sindiran, candaan yang menyinggung, maupun komentar yang tidak pada tempatnya. Hal-hal kecil tersebut dapat berkembang menjadi persoalan besar apabila tidak disikapi dengan bijaksana. Menurutnya, fenomena tersebut semakin mudah terjadi di era media sosial. Kemudahan berkomentar membuat banyak orang terlibat dalam perdebatan tanpa memahami persoalan secara utuh. Ia pun mengimbau masyarakat untuk menahan diri sebelum memberikan tanggapan terhadap suatu isu.
"Kalau belum memahami persoalan secara menyeluruh, lebih baik tahan diri untuk tidak berkomentar. Jangan sampai jari kita justru menjadi sumber konflik yang lebih besar," ungkapnya.
Beliau memperkenalkan konsep empat "Ta" sebagai langkah membangun harmoni di tengah perbedaan, yaitu ta'aruf (saling mengenal), tafahum (saling memahami), ta'awun (saling menolong), dan tahabub (saling mencintai). Menurutnya, keempat prinsip tersebut dapat menjadi fondasi terciptanya hubungan sosial yang harmonis. (Safira)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....