Tujuh Golongan Orang yang Akan Mendapat Naungan Dari Allah

  • 22 Jul 2026 17:36 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Mendengar dunia hari ini yang penuh dengan ketidakpastian, tekanan hidup, krisis sosial, hingga kecemasan akan masa depan membuat banyak orang mencari perlindungan. Dalam dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto kali ini membahas tema Tujuh Golongan Orang yang Mendapat Naungan Allah, memfokuskan pembahasan pada golongan pertama, yakni pemimpin yang adil.

Kepemimpinan yang adil menjadi salah satu nilai penting dalam Islam, terutama di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki kemampuan memimpin, tetapi juga harus menjunjung tinggi kejujuran, amanah, serta mengutamakan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun golongan.

Hal tersebut disampaikan Ustazah Sri Ningsih, S.Pd., M.Si. dalam program Mutiara Pagi RRI Purwokerto. Rasulullah SAW. menyebut terdapat tujuh golongan orang yang akan mendapat naungan dari Allah SWT. disaat tidak ada naungan selain dari naungan-Nya. Salah satu golongan tersebut adalah pemimpin yang mampu menjalankan amanah secara adil.

Ustazah Ning menyampaikan bagaimana Allah SWT. menjadikan imam yang adil sebagai kelompok pertama diantara tujuh golongan yang akan mendapat pertolongannya. Allah SWT. berfirman “sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya. Dan apabila kamu menetapkan dengan adil.”

Adil disini adalah tidak memihak karena hubungan keluarga, pertemanan, atau kepentingan pribadi. Tidak memihak pada hubungan yang sifatnya khusus dan juga adil memberikan hak kepada orang yang berhak, pungkasnya.

Ia menjelaskan, keadilan seorang pemimpin tercermin dari setiap keputusan yang diambil. Dalam menjalankan amanah, seorang pemimpin hendaknya berpegang pada nilai-nilai kebenaran, bersikap jujur, serta terbuka dalam mengelola tanggung jawab yang diemban, termasuk dalam penggunaan jabatan maupun sumber daya yang dipercayakan kepadanya.

Ustazah Sri Ningsih juga menegaskan kembali bahwasannya jabatan bukanlah sarana untuk memperoleh keuntungan pribadi. Sebaliknya, jabatan merupakan Amanah yang harus dipertanggungjawabkan baik kepada masyarakat maupun dihadapan Allah SWT nantinya.

"Jabatan adalah tanggung jawab, bukan kesempatan untuk mencari keuntungan. Seorang pemimpin harus mengutamakan kemaslahatan masyarakat daripada kepentingan pribadi atau kelompok," ungkapnya.

Kemudian, pemimpin juga harus menjadikan syariat Allah sebagai pedoman, sehingga tidak akan terjadi hal-hal seperti menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal dan berusaha mengambil keputusan yang berpedoman pada Al-Qur’an dan sunnah. Sikap jujur dan transparan juga menjadi hal yang sangat krusial. Terbuka dalam penggunaan amanah terutama yang berkaitan dengan harta serta jabatan. Seorang pemimpin diharapkan tidak melakukan tindakan yang merugikan rakyat dan negaranya, seperti tindakan korupsi, suap menyuap, dan gratifikasi.

Hal lain yang harus diperhatikan oleh para pemimpin adalah sikap terbuka terhadap kritik dan masukan. Menurutnya, kritik yang disampaikan secara baik dapat menjadi sarana evaluasi bagi pemimpin untuk memperbaiki kebijakan maupun pelayanan kepada masyarakat.

"Pemimpin yang adil tidak antikritik. Ia menerima nasihat sebagai upaya memperbaiki diri dan bersedia mengakui kesalahan apabila memang terdapat kekeliruan dalam mengambil keputusan," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Ustazah Ning juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menentukan pilihan terhadap calon pemimpin. Ia menilai masyarakat perlu melihat rekam jejak, integritas, serta komitmen seseorang dalam melayani kepentingan publik, bukan hanya berdasarkan popularitas maupun kepentingan sesaat.

"Masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk memilih pemimpin yang memiliki karakter baik dan mampu menjalankan amanah. Kepemimpinan yang berkualitas akan memberikan dampak besar terhadap kesejahteraan masyarakat," ungkapnya.

Sebagai penutup, Ustazah Ning mengingatkan bahwa setiap bentuk kepemimpinan, baik dalam lingkup keluarga, organisasi, maupun pemerintahan, merupakan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, ia berharap setiap pemimpin dapat menjalankan tugasnya dengan penuh kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab demi terciptanya kehidupan masyarakat yang lebih baik. (Safira)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....