Menjawab Tantangan Penyimpangan Sosial dengan Nilai Islam

  • 22 Jul 2026 07:56 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID Purwokerto - Di tengah persoalan sosial dalam perubahan nilai di masyarkat modern, umat muslim dihadapkan tantangan moral, termasuk munculnya normalisasi pada fenomena LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender). Sebagai agama yang menjaga martabat manusia, memandang fenomena ini bukan sebagai perbedaan, melainkan suatu penyimpangan pada fitrah yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Ustaz Enjang Burhanudin Yusuf S dalam program Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto, menjelaskan pentingnya peran sentral keluarga sebagai benteng utama dalam pertahanan terdepan membentuk karakter dan menghindari penyimpangan. Pendidikan tauhid dan pengenalan fitrah manusia sejak dini menjadi kunci serta tanggung jawab besar membimbing pada batasan-batasan syariat.

"Orang beriman adalah mereka yang mampu menjaga harga diri, kemaluannya, dan tidak menyalurkan syahwat di luar batas yang dihalalkan oleh Allah SWT,” ujarnya dalam penjelasan QS. Al-Mu'minun: 5-7.

Dalam penjelasannnya, Islam tidak anti pada pendidikan seksualitas, tetapi pendekatannya harus islami dan terukur. Diperlukannya pendampingan anak dalam memahami perubahan fisik dan psikologisnya saat beranjak dewasa. Terutama mencakup pada pemahaman batasan aurat, tata cara bergaul dengan lawan jenis yang bukan mahram, serta menjaga pandangan. Sehingga terhindar dari perbuatan yang berpotensi pelecehan dan pergaulan bebas.

Di era digital saat ini, menurutnya akses informasi yang tak terbatas menjadi tantangan tersendiri. Konten pornografi dan normalisasi penyimpangan di media sosial sering kali menjadi akses utama kerusakan moral. Oleh karena itu penting untuk pendampingan digital oleh orang tua, seperti penggunaan fitur keamanan gawai dan pengawasan konten. Tidak hanya melarang, tetapi juga membangun komunikasi emosional yang baik dan terbuka.

Menurutnya, untuk menghadapi tantangan tersebut seorang muslim dituntut untuk tetap memegang teguh prinsip Amar Ma'ruf Nahi Munkar, namun juga tindakan tegas pada perbuatan maksiat harus juga tetap dibarengi dengan yang baik kepada pelakunya. Selama seseorang berada dalam linkungan yang mendukung, perilaku penyimpangan ini dapat diperbaiki. Dengan bimbingan, kasih sayang, dan motivasi untuk bertobat merupakan langkah nyata yang harus diupayakan.

"Jangan dinormalisasikan, jangan dianggap sebagai sesuatu yang sudahlah tidak peduli, tidak mau tahu. Padahal sudah jelas amar ma'ruf nahi munkar ini bagian daripada kewajiban kita sebagai umat muslim,” ujarnya.

Dengan demikian menjelaskan untuk penting sekali bagi seorang muslim untuk menjaga diri dan keluarga dari segala bentuk kemaksiatan, terutama memiliki pemahaman tentang pentingnya menjaga lingkungan dengan senantiasa menerapkan Amar Ma'ruf Nahi Munkar, memiliki akhlak, peradaban yang baik. Dengan mempunyai kesadaran pentingnya menyampaikan hal baik seperti berdakwah agar terhindari segala penyimpangan dan kemaksiatan. (Fatta)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....