Melindungi Anak Perempuan dari Tantangan Zaman
- 21 Jul 2026 10:50 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Dinamika perkembangan zaman digital saat ini membawa pergeseran nilai sosial yang masif di kalangan generasi muda. Stigma yang dahulu dianggap tabu atau abnormal, kini perlahan mulai mengalami normalisasi di ruang publik.
Para orang tua dituntut untuk memperkuat pola pengasuhan yang adaptif guna membentengi anak-anak mereka. Pandangan tersebut disampaikan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) Dr. Ugung Dwi Ario, M.Psi., dalam program Ruang Psikologi di RRI Pro 1 Purwokerto, pada Senin, 14 Juli 2026 lalu.
Talkshow radio bertajuk "Menjaga Anak Cewek di Zaman Edan" ini menyoroti maraknya kasus kekerasan siber dan fisik yang mengintai remaja perempuan. "Zaman edan itu dalam psikologi namanya abnormal, ada hal-hal yang berkebalikan di era dulu dengan era anak-anak sekarang, apa yang dulu tidak normal, sekarang menjadi normal," ujar Dr. Ugung.
Dr. Ugung menambahkan, yang dulu normal sekarang dianggap tidak normal, sehingga mencari kewarasan di zaman edan ini harganya mahal dan susah. Lebih lanjut Dr. Ugung menjelaskan, remaja perempuan di era modern cenderung menggantungkan eksistensi dan aktualisasi diri mereka pada validasi media sosial, seperti jumlah followers, likes, dan komentar.
Guna memitigasi dampak buruk dari adiksi digital tersebut, ia menekankan agar orang tua tidak sekadar mendikte anak, melainkan membangun pondasi rumah tangga sebagai ruang keterbukaan yang aman. Orang tua diimbau untuk membekali anak perempuan dengan tiga tameng wajib, yaitu tameng ilmu ajaran agama dan edukasi batas sentuhan tubuh sejak dini, tameng kedewasaan digital, serta tameng harga diri.
"Anak cewek itu harus dilatih tentang harga diri dan batas-batas, katakan pada mereka bahwa kamu cantik itu bukan karena jumlah followers-mu, melainkan karena akhlakmu," tegasnya. Disisi lain, ia juga menyoroti kebiasaan buruk orang tua yang kerap bersikap terlalu instruksional dan menghakimi.
Untuk mengatasi hal tersebut, ia memberikan tips konkret berupa metode "10 menit mendengarkan tanpa vonis" guna meredam tingkat stres teknologi (technostress) pada anak. "Kelemahan orang tua sekarang adalah lebih banyak memerintah dan menasihati, sehingga mereka melupakan konsep mendengar, latihlah obrolan 10 menit tanpa vonis bersama anak, benar-benar mendengarkan meskipun anak itu salah, karena anak juga berhak untuk punya ruang salah," tambah Dr. Ugung.
Bagi orang tua yang terpaksa merantau atau terpisah jarak akibat desakan ekonomi, Dr. Ugung menyarankan penerapan digital parenting dan long distance parenting yang konsisten lewat pemanfaatan panggilan video (video call) yang terjadwal. Selain itu, ia mengingatkan pentingnya aspek geografi sosial, di mana keputusan memilih sekolah maupun tempat tinggal pada hakikatnya adalah investasi untuk membeli lingkungan pergaulan anak.
Sebagai penutup, ia berpesan agar orang tua menjauhi dua kutub pola asuh ekstrem, yakni bersikap terlalu abai (cuek) atau sebaliknya, terlalu protektif (posesif) hingga mengekang ruang tumbuh kembang anak. Keteladanan figur ayah dan ibu di dalam rumah dinilai tetap memegang peranan tertinggi sebagai peta dan kompas utama anak dalam mengarungi hutan kehidupan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....