Kesetaraan Gender dalam Komunikasi Digital: Komentar Bijak, Dunia Lebih Damai
- 08 Jul 2026 13:49 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Isu kesetaraan gender dalam komunikasi masih menjadi tantangan nyata di tengah masyarakat. Dalam praktik komunikasi sehari-hari dinilai masih dipengaruhi oleh stereotip sosial yang membentuk peran dan cara pandang terhadap kedua jenis kelamin.
Gender bukan sekadar perbedaan biologis, melainkan hasil konstruksi sosial yang membagi peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Persoalan ini menjadi penting karena seringkali dalam komunikasi di kehidupan sehari-hari, baik di ruang publik maupun dalam interaksi keseharian.
Bias gender dalam komunikasi kerap muncul melalui penggunaan bahasa yang tampak sepele, seperti sapaan dalam forum atau cara menyebut kelompok tertentu. Kebiasaan ini secara tidak langsung membentuk persepsi yang menempatkan salah satu pihak lebih dominan, sehingga menciptakan ketimpangan yang terus berulang tanpa disadari oleh masyarakat.
“Kesetaraan gender dalam komunikasi yang paling utama adalah memberikan akses yang sama, memberikan hak yang sama antara perempuan dan laki-laki. Disini semuanya memiliki posisi yang sama sehingga perempuan tidak hanya dianggap sebagai second opinion atau orang yang tidak memiliki pengetahuan, tetapi posisinya bisa sama dengan laki-laki,” ujar Muhammad Ridwan, M.Sos, Kepala Pusat Penelitian UNUGHA, dalam Dialog Pengarusutamaan Gender Pro 1 RRI Purwokerto.
Stereotip terhadap perempuan masih cukup kuat, terutama dalam hal cara berbicara. Perempuan yang aktif menyampaikan pendapat kerap dilabeli “cerewet”, sementara laki-laki dengan perilaku serupa justru dianggap tegas dan berwibawa. Perbedaan pelabelan ini menunjukkan adanya bias yang berakar dari cara pandang sosial yang telah terbentuk sejak lama.
Kesetaraan gender dalam komunikasi bertujuan membuka akses yang sama bagi semua pihak. Komunikasi yang adil harus memberikan ruang, kesempatan, dan hak yang setara tanpa dipengaruhi oleh stereotip atau label tertentu.
Melalui perubahan cara pandang dan penggunaan bahasa yang lebih inklusif, diharapkan masyarakat mampu membangun komunikasi yang lebih adil dan setara. Upaya ini tidak hanya penting dalam ruang publik, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, agar tidak ada lagi pihak yang dirugikan akibat bias gender yang terus berulang. (Dwinanda)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....