Digital Talent Masa Depan Berakar dari Pramuka: Jiwa Scout, Skill Digital
- 15 Jun 2026 08:13 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Pramuka kerap dianggap sebagai kegiatan yang kaku dan ketinggalan zaman. Namun anggapan itu perlahan terpatahkan. Di tangan para pembina muda, pramuka justru terus beradaptasi tanpa kehilangan ruh utamanya yaitu pembentukan karakter.
“Wajah pramuka hari ini memang berbeda dengan masa lalu. Dahulu, kegiatan pramuka identik dengan aktivitas lapangan yang padat serta pola pembinaan yang cenderung keras. Kini, pramuka hadir dengan pendekatan yang lebih menyenangkan, ramah, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik,” ungkap Ratna Nur Wijayanti, S.Pd - Pembina Putri dalam siaran Sore Ceria Pramuka Pro 2.
“Pramuka sekarang itu menyenangkan. Bukan hanya soal kegiatan lapangan, tapi juga membawa nilai karakter dan ilmu kepanduan yang dikemas dengan cara yang lebih dekat dengan anak-anak,” ujarnya.
Kegiatan kepramukaan tidak lagi melulu dilakukan di alam terbuka. Selain aktivitas luar ruang, pramuka kini juga mengembangkan kegiatan indoor berupa pembelajaran, diskusi, hingga penguatan keterampilan tertentu. Meski demikian, kegiatan khas pramuka tetap dipertahankan, seperti Jelajah Galang dan Perkemahan Jumat–Sabtu (Perjusa), di mana setiap regu dilatih untuk mencari jejak, bekerja sama, dan memecahkan masalah di lapangan.
Prestasi pun menjadi bagian dari proses pembelajaran. Dalam ajang Jambore Cabang, regu putra berhasil meraih juara satu, sementara regu putri menempati posisi ketiga. Capaian ini menjadi bukti bahwa pramuka tidak hanya membentuk karakter, tetapi juga menumbuhkan semangat berprestasi.
Di SMP Telkom, pramuka terus merancang inovasi ke depan. Salah satunya dengan mengembangkan kegiatan LKBB berbasis kepanduan serta menghidupkan kembali gugus depan melalui lomba-lomba di tingkat siaga. Menariknya, upaya ini juga merespons era digitalisasi.
“Kita mulai berpikir ke arah aplikasi. Ada penggunaan bahasa Indonesia, Jawa, dan Inggris. Bahkan membuat animasi cerita bertema kepramukaan seperti Resi Hijau,” jelas Kak Nana.
Pengembangan ini dilakukan melalui kolaborasi dengan guru-guru yang bisa membuat latar belakang animasi. Bersama-sama, mereka merancang media pembelajaran berbentuk game edukatif berisi tebak kata, sandi morse, hingga praktik tali-temali yang dikemas secara digital.
Adapun Motivasi anak-anak yang terjun ke dunia kepramukaan berawal dari keteladanan kakak kelasnya. Pengalaman itulah yang membuatnya yakin bahwa pramuka memberikan lebih banyak kebahagiaan dibandingkan kekecewaan. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam menyesuaikan kegiatan pramuka dengan karakter generasi saat ini.
“Kesulitannya itu bagaimana membawa kegiatan pramuka hari Jumat ke arah yang tepat. Mau dibawa kemana kedepannya, apakah ke camping, atau bentuk kegiatan lain yang tetap bermakna,” ungkapnya.
Di tengah arus digitalisasi, Kak Nana menegaskan bahwa pramuka harus tetap relevan tanpa kehilangan esensinya. Teknologi boleh berkembang, namun nilai-nilai karakter tidak boleh tertinggal.
“Pramuka mengajarkan bahwa teknologi bisa maju, tapi karakter harus tetap jadi pondasi,” tegasnya. Melalui pramuka, generasi muda dibekali kedisiplinan, kepedulian sosial, serta kepemimpinan. Nilai-nilai inilah yang diharapkan mampu membentuk generasi masa depan yang tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga kuat secara moral dan karakter.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....