Konflik Kerja Perlu Diselesaikan dengan Komunikasi yang Profesional
- 10 Jun 2026 14:24 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, PURWOKERTO – Konflik di lingkungan kerja merupakan hal yang wajar dan hampir tidak dapat dihindari. Perbedaan kepribadian, latar belakang, cara berpikir, hingga kepentingan kerja kerap menjadi pemicu munculnya perselisihan di dalam organisasi.
Psikolog Imam Faisal H., S.Psi.,M.A. mengatakan konflik merupakan bagian dari dinamika yang selalu ada dalam sebuah organisasi. Menurutnya, bertemunya individu dengan karakter dan latar belakang yang berbeda dalam satu lingkungan kerja membuat potensi perbedaan pendapat menjadi sesuatu yang biasa.
“Kalau saya memahaminya bahwa siklus sebuah organisasi itu akan selalu mengalami konflik. Itu sudah sunatullahnya kayak gitu soalnya. Karena ketemunya orang-orang yang berbeda kepribadian, berbeda latar belakang di satu tempat itu pasti akan menimbulkan perselisihan, “ ujarnya dalam program Ruang Psikologi RRI Purwokerto.
Meski demikian, Imam menilai yang terpenting bukanlah bagaimana menghindari konflik melainkan bagaimana cara menyelesaikannya. Menurutnya, tujuan akhir dari penyelesaian konflik adalah membangun solusi yang dapat diterima oleh semua pihak.
“Yang jelas finishnya adalah bagaimana kemudian membangun win-win solution,” katanya.
Menurut Imam, salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam penyelesaian konflik adalah menghindari pembahasan masalah melalui grup percakapan atau media daring. Ia menilai cara tersebut justru berpotensi memperbesar konflik yang sedang terjadi.
“Jangan pernah menyelesaikan sebuah permasalahan itu di grup chat, karena itu justru akan mengeskalasi masalah yang mungkin muncul,” ujarnya.
Imam menjelaskan komunikasi melalui pesan singkat sering kali menimbulkan kesalahpahaman karena intonasi, ekspresi, dan maksud pembicaraan tidak dapat tersampaikan secara utuh. Oleh karena itu, penyelesaian konflik akan lebih efektif jika dilakukan secara langsung.
“Mending diselesaikan langsung face to face. Ketika dirapat, kemudian bertemu di kantor itu lebih baik dibandingkan kita menyelesaikan melalui chat WhatsApp atau secara daring,” katanya.
Selain komunikasi langsung, Imam juga menyoroti pentingnya peran pemimpin dalam membantu menyelesaikan konflik yang terjadi di lingkungan kerja. Menurutnya, pemimpin perlu hadir sebagai mediator yang mampu mempertemukan pihak-pihak yang berselisih agar solusi dapat dicapai bersama.
“Memang butuh keterampilan juga dari si leader. Ketika ada persoalan yang kemudian muncul, akan lebih baik jika dipertemukan langsung di kantor, “ujarnya.
Imam menegaskan bahwa setiap individu perlu menyadari bahwa perilaku dan tindakan yang dilakukan di tempat kerja akan berdampak pada lain. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan kontrol diri agar persoalan pribadi maupun konflik yang muncul tidak mengganggu profesionalisme dalam bekerja.
“Perilaku kita itu berdampak ke orang lain sehingga kita harus lebih aware, lebih punya kontrol diri,” ujarnya.
Menurutnya, konflik bukanlah sesuatu yang ditakuti dalam organisasi. Dengan komunikasi yang tepat, keterbukaan, dan kemauan untuk mencari solusi yang menguntungkan semua pihak, konflik justru dapat menjadi sarana untuk memperkuat kerja sama dan meningkatkan kualitas hubungan kerja di lingkungan organisasi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....