Membentuk Fondasi Kehidupan: saat Iman, Cinta, dan Pengorbanan Jadi Satu
- 10 Jun 2026 14:24 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Membentuk fondasi kokoh dalam kehidupan pribadi maupun berkeluarga merupakan sebuah keharusan yang tidak dapat diabaikan di tengah kompleksitas kehidupan modern. Ketiga unsur utama, yakni iman, cinta, dan pengorbanan bukanlah entitas yang berdiri sendiri-sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.
”Jika seseorang mengaku beriman tanpa cinta, maka keimanannya terasa hambar. Sebaliknya, jika seseorang mencintai tetapi enggan untuk berkorban, maka cintanya pun patut dipertanyakan,” jelas Firdaus, S.Pd.I., M.Pd., seorang dosen dari Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Salah satu pelajaran penting yang bisa diambil adalah kisah Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah untuk membawa istrinya, Hajar, dan anaknya yang masih bayi, Ismail, ke sebuah tempat tandus yang kemudian menjadi Kota Makkah, ia melakukannya tanpa keraguan.
Saat Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” dan Ibrahim hanya menjawab singkat, “Ya,” maka keimanan dan keyakinan Hajar pun muncul dalam wujud keyakinan total kepada ketetapan-Nya: “Jika ini perintah Allah, maka Dia tidak akan menyia-nyiakan kami.”. Selain itu saat Hajar berlari antara Bukit Shafa dan Marwah demi mencari air untuk anaknya yang menangis kehausan, hingga akhirnya Allah memunculkan air zamzam sebagai bentuk balasan atas pengorbanan dan usaha yang tulus.
Berbanding terbalik dengan zaman sekarang, generasi muda dan tantangan berkeluarga di zaman modern. Ia menyampaikan bahwa banyak pasangan muda yang kurang memahami makna sejati dari pengorbanan. Hubungan percintaan seringkali hanya berhenti pada kata-kata manis dan janji semu, tanpa diiringi pengorbanan nyata, baik dalam bentuk waktu, perhatian, maupun perjuangan finansial.
“Masyarakat sekarang sering melihat pengorbanan hanya sebatas beli sapi saat Idul Adha. Padahal, pengorbanan terbesar adalah ketika kita rela melepaskan ego, meluangkan waktu, menahan amarah, dan berjuang untuk membahagiakan keluarga,” jelas Firdaus, S.Pd.I., M.Pd dalam dialog Tasbih Pro 2 RRI Purwokerto.
Dalam rumah tangga, pengorbanan juga tidak boleh menjadi beban sepihak. Karena pengorbanan dalam keluarga bukanlah monopoli satu pihak, melainkan tanggung jawab bersama yang dilandasi oleh saling pengertian antara logika laki-laki dan perasaan perempuan. Misalnya saja ketika seorang ayah pulang dalam lelah, namun tetap tersenyum demi anak-anaknya. Dan ketika seorang ibu menahan air mata agar tidak menambah beban suaminya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....