Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Tempat Kerja
- 28 Mei 2026 11:34 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Kesehatan mental di tempat kerja kini menjadi isu krusial seiring meningkatnya tuntutan profesi dan perkembangan teknologi informasi di era modern. Pakar psikologi Imam Faisal, S.Psi., M.A., Senin, (18/5/2026) menegaskan bahwa esensi dari kesehatan mental adalah sejauh mana seseorang dapat tetap berfungsi secara optimal, baik dalam aspek sosial maupun ekonomi, di tengah berbagai tekanan pekerjaan.
Imam memaparkan bahwa kemajuan teknologi komunikasi seperti aplikasi pesan singkat dan media sosial kerap mengaburkan batas waktu kerja yang jelas. Akibatnya, karyawan sering kali merasa harus selalu siap sedia menyelesaikan tugas meskipun sudah berada di luar jam kerja resmi.
Kondisi ini memicu fenomena burnout atau kelelahan mental, di mana pekerja kehilangan makna dalam bekerja (meaningless) dan hanya sekadar menjalankan rutinitas untuk bertahan hidup tanpa adanya inovasi. Lebih lanjut, Imam menjelaskan mengenai ciri-ciri lingkungan kerja yang toksik (toxic workplace). Menurut hasil penelitian yang kerap ia uji, kepuasan kerja seseorang di Indonesia justru lebih banyak dipengaruhi oleh kualitas lingkungan sosial ketimbang besaran gaji.
"Jarang sekali masalah mental di tempat kerja itu langsung berujung pada depresi klinis yang berat atau skizofrenia. Yang sering terjadi adalah burnout. Orangnya tetap datang ke kantor dan tersenyum saat disapa, tetapi produktivitasnya menurun drastis, menjadi apatis, dan kehilangan kebahagiaan dalam bekerja," ujar Imam.
Ciri utama tempat kerja yang toksik adalah minimnya apresiasi dari manajemen serta adanya budaya saling menjatuhkan antar-rekan kerja. Selain aspek sosial, tata ruang ekologis seperti pencahayaan yang redup dan sekat ruangan yang terlalu individualistis juga terbukti meningkatkan tekanan psikologis karyawan. Bagi pekerja yang terjebak dalam lingkungan kerja toksik, Imam menyarankan beberapa pertimbangan sebelum memutuskan untuk bertahan atau mengundurkan diri (resign).
Pekerja disarankan untuk mengomunikasikan keluhan secara terbuka kepada atasan guna melihat respons dan itikad baik manajemen. Selain itu, membangun support system melalui kelompok teman sejawat (peer group) yang suportif di tempat kerja juga menjadi alasan kuat yang membantu pekerja untuk bertahan.
Sebagai penutup, Imam menekankan adanya dua dimensi penting untuk menjaga kesehatan mental di ranah profesional. Dari dimensi individu, pekerja harus terus meningkatkan kapasitas diri dalam mengelola stres, salah satunya dengan menerapkan strategi koping emosional (emotional focus coping) maupun penyelesaian masalah (problem focus coping). Sementara dari dimensi institusi, perusahaan wajib menciptakan kebijakan yang seimbang antara kritik dan apresiasi, serta memberikan makna kerja (meaning of work) yang jelas agar karyawan tidak merasa bekerja layaknya robot.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....