Kisah Mahasiswa UMP Tuangkan Kenangan Magang Menjadi Buku

  • 28 Mei 2026 11:20 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Tiga mahasiswi Fakultas Keislaman (FK) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) sukses menuangkan ragam kisah suka duka dan pengalaman emosional mereka selama menjalani masa praktik mengajar ke dalam sebuah buku antologi. Buku yang diberi judul "Antara Waktu Belajar, dan Kenangan" tersebut merangkum realitas dunia profesi keguruan yang penuh tantangan. Karya ini dibedah sebagai refleksi berharga bagi para calon pendidik muda dalam menjembatani teori perkuliahan dengan dinamika nyata di sekolah.

Tiga penulis yang hadir sebagai narasumber dalam dialog di Pro2 FM adalah Hikmatus Sabriani (Hikmah), Maulidia Nabila (Nabila), dan Mutia Amelia (Mutia) pada Minggu, (17/5/2026). Mereka mengungkapkan bahwa penulisan buku ini diinisiasi bersama dosen pembimbing mereka, Ustadz Mintaraga, sebagai bentuk dokumentasi autentik selama lima bulan menjalani masa magang di SMK Muhammadiyah Somagede.

Buku tersebut menyuguhkan 90 persen kisah nyata tanpa samaran nama tokoh, mulai dari pengalaman membingungkan akibat sistem perpindahan kelas, masa-masa canggung saat beradaptasi dengan lingkungan baru, hingga momen kejutan budaya (culture shock) saat berhadapan langsung dengan karakter para siswa sekolah menengah kejuruan.

"Ekspektasi awal saya mengajar anak SMK itu akan lebih gampang karena mereka sudah dewasa dibandingkan anak SD. Namun ternyata di lapangan banyak hal mengejutkan. Kami pernah dikunci di dalam kelas dan pintu ditutup oleh siswa saat jam kosong karena mereka lebih memilih bermain gawai daripada diisi materi oleh mahasiswa magang. Itu pengalaman yang sempat membuat kaget, namun menjadi kenangan berharga," ujar salah satu penulis buku, Muthia Amelia.

Dilema serupa dirasakan oleh Nabila dan Hikmah yang sempat mengalami krisis kepercayaan diri pada pekan-pekan awal magang. Hikmah yang berasal dari Riau mengaku mengalami tekanan mental yang besar dalam masa transisi dari mahasiswa menjadi seorang pendidik yang harus berdiri sendiri mengontrol puluhan siswa di depan kelas.

Sementara itu, Nabila menyoroti tantangan terbesar guru zaman sekarang, yakni sempitnya jarak usia antara guru muda dengan siswa yang kerap memicu sikap menyepelekan dari murid, sehingga para pengajar dituntut mampu menyeimbangkan ketegasan dan kelembutan agar tidak diinjak-injak ataupun ditolak oleh siswa. Para penulis juga menyampaikan bahwa proses adaptasi dan bimbingan dari para guru pamong di sekolah magang pada akhirnya membentuk mental mereka menjadi lebih dewasa dan menaruh respek yang tinggi terhadap profesi guru.

Bagi masyarakat atau sesama mahasiswa yang tertarik untuk membaca kumpulan kisah inspiratif nan jenaka ini, buku "Antara Waktu Belajar, dan Kenangan" dapat dipesan langsung melalui akun Instagram resmi salah satu penulis di @MolidiaNabila. Pengalaman ini diharapkan menjadi bekal kesiapan mental yang kuat bagi generasi muda sebelum terjun sepenuhnya ke dunia industri profesional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....