Mengenal Islam: Tantangan dan Keindahan di Kosta Rika
- 16 Mei 2026 16:58 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Kehidupan umat Islam sebagai minoritas di Kosta Rika menawarkan potret solidaritas yang kuat di tengah berbagai keterbatasan infrastruktur religi dan tantangan budaya. Meski hanya berjumlah sekitar 1.000 orang atau kurang dari 0,1 persen dari total penduduk, komunitas muslim di negara Amerika Tengah tersebut berhasil menjaga eksistensinya melalui persatuan antar mazhab dan inisiatif pendidikan mandiri.
Dialog Tasbih di Pro 2 RRI Purwokerto pada Jumat (08/05/2026), bersama dosen FUAH UIN Saizu Purwokerto, Afaf Mujahidah, M.A., membagikan pengalamannya saat mengunjungi Kosta Rika pada tahun 2024. Ia mengungkapkan bahwa meskipun umat Islam di sana berasal dari berbagai latar belakang etnis seperti Mesir, Turki, Suriah, hingga penduduk asli setempat, mereka tetap solid beribadah di tempat yang sama tanpa terhalang perbedaan aliran.
"Solidaritas mereka sangat bagus. Meskipun alirannya berbeda, seperti Suni dan Syiah, mereka tetap shalat di satu masjid yang sama di San Jose. Perbedaan organisasi atau mazhab tidak menjadi penghalang untuk bersatu sebagai sesama muslim," ujar Afaf Mujahidah.
Lebih lanjut, Afaf menjelaskan bahwa tantangan utama yang dihadapi muslim di Kosta Rika adalah kelangkaan tempat ibadah dan sulitnya mendapatkan makanan halal. Hingga saat ini, baru terdapat sekitar tiga masjid kecil yang menyerupai musala di ibu kota San Jose, dengan Mezquita de Omar sebagai masjid pertama yang berdiri sejak tahun 2002.
Selain itu, belum adanya tokoh agama atau imam asli penduduk setempat yang fasih berbahasa Spanyol membuat generasi muda seringkali mencari pemahaman agama melalui media sosial yang rentan terhadap konten radikal. Tantangan juga dirasakan oleh para mualaf asli Kosta Rika yang seringkali menghadapi penolakan dari lingkungan internal keluarga akibat stigma negatif terhadap Islam di media mainstream.
Untuk mengatasi hal tersebut, komunitas muslim di sana mengupayakan dakwah inklusif dengan membuka pintu masjid bagi non muslim yang ingin belajar, serta membentuk forum-forum diskusi kecil guna meluruskan kesalahpahaman tentang Islam. Melalui perbincangan ini, Afaf mengajak umat Islam di Indonesia untuk lebih banyak bersyukur atas kemudahan beribadah di tanah air.
"Kita bisa belajar dari mereka tentang bagaimana menghargai perbedaan. Jangan sampai karena beda organisasi saja kita menjadi bentrok, sementara mereka yang sangat minoritas justru bisa sangat solid," pungkasnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....