Kompetensi Anak di tengah Tantangan Zaman: Peran Orang Tua di Era Distraksi Digital

  • 11 Mei 2026 10:55 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Di tengah perkembangan zaman yang semakin canggih, manusia terus melahirkan generasi baru dari masa ke masa. Generasi yang tentunya hidup dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda, sehingga memiliki tantangan dan membutuhkan kompetensi yang berbeda pula.

Pada era industri 5.0 saat ini, manusia telah sampai pada generasi kelima yang dikenal dengan Generasi Alpha. Generasi ini lahir sekitar tahun 2010 hingga 2014.

Jika generasi terakhir yang masih bisa merasakan masa kecil tanpa gadget adalah Generasi Z, maka Generasi Alpha ini sedari mereka lahir ke dunia, sudah dikelilingi oleh teknologi yang mutakhir. Hal inipun tidak mengherankan jika mereka tumbuh dengan kecanggihan teknologi yang melekat.

Kehadiran teknologi di zaman sekarang tentunya bagaikan 2 mata pisau. Jika kita dapat mengelolanya dengan benar, maka akan sangat bermanfaat dan membantu kehidupan kita sehari-hari. Namun, jika kita tidak dapat mengelolanya dengan bijak, maka justru akan merugikan diri kita dan sekitar.

Hal ini dibahas lebih lanjut dalam Dialog Jelita Pro 1 RRI Purwokerto bersama perwakilan Majelis Taklim Alhidayah yaitu Hj. Siti Dewi Anjani selaku Ketua Majelis Taklim Alhidayah, Nani Pujiwati, S.Pd., M.Pd selaku Sekretaris Alhidayah, dan Dwiana Rahmawati, S.Sos selaku Bidang Ekonomi Alhidayah.

“Penggunaan teknologi yang sudah sangat mumpuni ini menjadi seperti pisau bermata dua, karena dengan adanya paparan teknologi sedari dini yang terlalu berlebihan akan menghilangkan kemampuan kritis dan fokus otak anak, jadinya mereka akan sulit mengikuti pelajaran di sekolah,” ungkap Nani.

“Untuk dapat mengatasi ini, anak harus diajak untuk bisa bermain dan belajar. Tentunya dengan proses yang bermakna. Bermakna di sini ialah yang bisa memberikan kenangan indah dan berkontribusi pada keberhasilan anak-anak di masa depan,” tambahnya.

Nani pun menambahkan bahwa ada seorang profesor bernama Marsia Elnel, selaku Direktur Riset dan Pengembangan Profesional Institute for Self Active Education di Millersville menyarankan untuk bisa melatih anak lewat pendekatan skenario pengambilan keputusan sederhana pada saat anak bermain.

“Mereka nanti akan terlatih untuk memilih dan memutuskan sendiri apa yang akan bisa dipilih saat bermain. Dengan begitu, anak pun bisa menjadi percaya diri dan mandiri dan bisa menceritakan pengalaman asyiknya saat bermain agar bisa menjadi kenangan indah untuknya,” jelas Nani.

Ketiganya pun menambahkan jika otak tidak dirangsang dalam aktivitas sehari-hari, maka otak dapat menjadi telmi atau telat mikir dalam memahami suatu permasalahan dan kurang responsif karena otak hanya terbiasa melakukan rutinitas tanpa dilatih untuk menerima tantangan baru.

“Kegiatan paling simpel yang dapat diterapkan ke anak-anak ialah membaca buku, menulis, dan bermain teka-teki silang juga bisa,” ujar Nani.

“Membaca, menulis, dan ilmu pengetahuan menjadi 3 hal pokok yang dibutuhkan oleh anak-anak zaman sekarang," tutur Dewi.

“Bahkan di surat Al-Alaq kita pun diperintahkan untuk bisa membaca di ayat ke-1 dan di ayat ke-4 kita disuruh untuk belajar menulis,” tambah Dwiana.

Dari perbincangan mereka, dapat ditarik kesimpulan bahwasannya anak adalah manusia yang akan tumbuh dewasa dan berkontribusi pada sekitarnya. Bagaimana kelak ia berlaku dan bersikap, tentunya dipengaruhi oleh pola asuh orang tua di rumahnya.

Penting sekali untuk dapat mengajari anak bijak dalam bermain gadget dan mengedukasi mereka mengenai banyak hal termasuk dampak negatif teknologi bila dipakai secara berlebihan. Dengan adanya pengertian yang terbangun sedari dini, anak pun dapat diibekali oleh pengetahuan dan pengalaman yang cukup, sehingga mereka pun mampu untuk mengasah kemampuan mereka secara lebih kompetitif.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....