Kurban: antara Simbol dan Substansi, Memahami Hakikat Taqwa dalam Idul Adha
- 06 Mei 2026 06:56 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Kurban bukan sekadar penyembelihan hewan pada hari raya, di dalamnya ada makna pengorbanan ketaatan dan juga keikhlasan. Kurban menjadi simbol ketundukan kepada Allah Swt sekaligus sarana berbagi kepada sesama. Namun, yang utama bukan pada bentuk luar, tapi pada nilai di baliknya, apakah dengan kurban mampu mendekatkan diri kepada Allah dan menumbuhkan kepedulian sosial, di sinilah penting memahami kurban sebagai ibadah yang menyatukan simbol dan substansi.
Dalam dialog Mutiara Pagi Pro 1 RRI Purwokerto bersama Dr. Enjang Burhanudin Yusuf S yang membahas tema “Kurban Antara Simbol dan Substansi”.
Ustaz Enjang menuturkan bahwa kurban sendiri dalam sejarah sebagai ibadah pertama yang dilakukan oleh manusia di mana Qabil dan Habil putra Nabi Adam melakukan pengorbanan sebagai bentuk qarub kepada allah oleh sebab itu kita perlu memahami hakikat kurban.
“Kurban ini dalam sejarah sebagai ibadah pertama yang dilakukan oleh manusia di mana Qabil dan Habil putra daripada adam melakukan pengorbanan sebagai bentuk qarrub kepada Allah. Oleh sebab itu kita perlu memahami hakikat kurban,” jelasnya.
Ia menambahkan juga kalau kurban merupakan salah satu syiar terbesar yang ada di dalam ajaran Islam yang dilakukan di seluruh dunia pada hari raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik.
Secara lahiriah atau secara simbolis, Ustaz Enjang mengungkapkan bahwa kurban ini memang mempersaksikan dan menampakkan penyembelihan hewan-hewan tertentu, seperti kambing, sapi, unta, domba. Namun, sejatinya praktik ini memiliki makna spiritual, sosial, dan moral yang sangat mendalam.
Ia juga menuturkan bahwa simbol-simbol lahiriah kurban itu bukan sekadar ritual tahunan. Sejatinya, secara substansi kurban adalah simbol ketaatan, keikhlasan, pengorbanan, di dalamnya ada latihan untuk memaksa diri kita memiliki kepedulian sosial sekaligus di waktu yang sama memiliki spiritual, yaitu bentuk ketaatan dan ketundukan secara totalitas kepada Allah Swt.
«Sejatinya kalau kita melihat praktik ini memiliki makna spiritual, sosial, dan moral yang sangat mendalam. Bahwa simbol-simbol lahiriah, tidak akan bisa menemukan makna hakikat daripada kurban itu sendiri, maka kita haru stahu bahwa kurban itu bukan sekadar ritual tahunan, bahwa kurban sejatinya secara substansi adalah simbol ketaatan, keikhlasan, pengorbanan, di dalamnya ada latihan untuk memaksa diri kita memiliki kepedulian sosial sekaligus di waktu yang sama memiliki spiritual, yaitu bentuk ketaatan dan ketundukan secara totalitas kepada Allah Swt,” jelas Ustaz Enjang.
Dengan demikian, kurban bukan sekadar ritual yang dilakukan, di dalamnya terdapat hakikat makna yang mendalam. Secara substansi mulai dari simbol ketaatan, keikhlasan, pengorbanan, kepedulian sosial, dan spiritualberupa ketaatan dan ketundukan kepada Allah Swt. (Helmalia)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....