Rekonstruksi Patriarki Sehat: Pentingnya Kesetaraan dan Pendidikan

  • 30 Apr 2026 12:20 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Budaya patriarki yang mengakar kuat di masyarakat sering kali tanpa disadari telah memarginalkan kaum perempuan, baik dalam akses pendidikan maupun peran domestik yang menuntut kesempurnaan tanpa celah. Isu ini menjadi bahasan mendalam dalam program "Curhatnya Pro2" yang menghadirkan perspektif psikologi mengenai posisi perempuan di tengah konstruksi sosial laki-laki sebagai pemimpin.

Narasumber psikologi dari UMP, Nia Anggri, menekankan bahwa meskipun sistem patriarki menempatkan laki-laki sebagai pemimpin, hal tersebut tidak boleh menjadi legitimasi untuk merendahkan atau menganggap perempuan bernilai rendah. Dampak psikologis yang paling nyata bagi perempuan yang hidup dalam sistem patriarki tidak sehat adalah rendahnya harga diri (low self-esteem) dan hilangnya kepercayaan diri.

"Saya setuju laki-laki sebagai pemimpin, namun jangan sampai amanah kekuasaan tersebut justru menjadikan perempuan sebagai kaum marjinal yang terpinggirkan," ungkap Nia pada Selasa, 28 April 2026.

Perempuan sering kali merasa harus menjadi sosok yang sempurna, melayani semua pihak, hingga mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Fenomena "Ibu tidak boleh sakit" menjadi salah satu contoh tuntutan sosial yang membebani mental perempuan, di mana beristirahat sering dianggap sebagai sebuah kesalahan atau dosa.

Lebih lanjut, Nia menjelaskan adanya fenomena toxic masculinity sebagai sisi lain dari patriarki yang kurang tepat. Laki-laki yang dididik dengan pola asuh otoriter terkadang bingung menerjemahkan kepemimpinan, sehingga beralih pada dominasi dan kekerasan untuk membuktikan kemaskulinannya.

Sebagai solusi, pendidikan menjadi instrumen utama untuk merekonstruksi pemahaman ini. Melalui pendidikan, perempuan dapat meningkatkan keyakinan diri dan keberanian dalam mengambil keputusan. Selain itu, komunikasi yang setara dalam rumah tangga menjadi kunci untuk mengubah patriarki yang toksik menjadi patriarki yang sehat dan harmonis.

"Upayanya adalah jangan lupa istirahat. Perempuan harus berani menyuarakan bahwa mereka butuh waktu untuk merawat diri sendiri. Ingat, diri kalian juga perlu diperhatikan, bukan hanya memperhatikan orang lain," tutup Nia.

Diskusi ini mengingatkan kembali bahwa kepemimpinan yang ideal dalam keluarga dan masyarakat adalah kepemimpinan yang menghargai, menghormati, dan memberikan ruang bagi setiap individu untuk berkembang secara adil tanpa adanya marginalisasi gender.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....