Fenomena Pansos: antara Kebutuhan Eksistensi dan Gangguan Psikologis
- 26 Apr 2026 09:28 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Fenomena panjat sosial atau "pansos" kini menjadi realita tak terelakkan di tengah pesatnya penggunaan media sosial, di mana individu berlomba-lomba mendapatkan pengakuan instan melalui asosiasi dengan tokoh populer atau isu viral. Meski sering dipandang negatif, perilaku ini mencerminkan kebutuhan psikologis manusia untuk diakui, namun jika dilakukan secara berlebihan, hal tersebut justru dapat merusak citra diri dan kualitas hubungan sosial yang sebenarnya.
Dalam program "Curhatnya Pro2", pada Selasa,07 April 2026, pakar psikologi UMP, Uswatun Hasanah menjelaskan bahwa pansos sering kali dipicu oleh rasa rendah diri dan ketidakamanan psikologis. Individu yang melakukan pansos cenderung bergantung pada sorotan publik sebagai sumber utama rasa berharganya, berbeda dengan rasa percaya diri atau self-confidence yang berakar pada kualitas diri internal.
Di era ekonomi perhatian saat ini, popularitas bahkan telah menjadi komoditas yang bisa diperjualbelikan. Hal itu mendorong banyak orang menempuh jalan pintas demi mendapatkan validasi berupa pengikut, suka, maupun komentar.
| Baca juga: Seni Mengelola Waktu: Solusi Atasi Kewalahan |
"Orang pansos itu fokus utamanya bukan pada kualitas diri, tapi pada kesan bahwa mereka ingin semua orang yang melihat media sosialnya memiliki kesan bahwa hidup mereka luar biasa, padahal fokusnya hanya pada sorotan publik," ungkap Uswatun Hasanah.
Ia juga membedakan antara pansos yang bersifat manipulatif dengan upaya membangun jaringan atau personal branding yang sehat. Menurut Uswatun setidaknya ada empat perbedaan yang bisa dilihat.
" Pertama bisa kita lihat dari identifikasi niat, kalau personal branding yang sehat pasti akan berfokus pada kontribusi nyata dan keahlian nyata, sementara kalau pansos biasanya hanya bertujuan untuk numpang tenar tanpa adanya nilai yang ditawarkan, " Ujar Uswatun.
Selain itu kita juga harus dapat membedakan dari sisi mana inspirasi dan mana imitasi. Menurutnya dengan menjadikan tokoh idola sebagai inspirasi untuk etos kerja adalah hal positif, namun sekadar meniru penampilan atau gaya hidup secara dangkal masuk dalam kategori imitasi yang tidak sehat.
" Selain itu bisa dilihat dari validasi internal neh, bahwa membangun harga diri berdasarkan pencapaian nyata jauh lebih stabil daripada menggantungkan nilai diri pada jumlah penonton atau pengakuan orang lain di dunia maya, " Tambah Uswatun.
Uswatun juga menyoroti tentang sikap kita dalam bermedsos. Menurutnya media sosial sebaiknya menjadi alat komunikasi dan sarana berkarya, bukan panggung kecemasan atau perlombaan citra yang semu.
Uswatun juga menekankan bahwa kesuksesan yang dibangun melalui proses dan integritas akan jauh lebih bertahan lama dibandingkan popularitas instan hasil pansos. Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih dewasa dalam menggunakan media sosial dengan mengutamakan kualitas konten dan kejujuran diri, sehingga media sosial tidak berubah menjadi sumber tekanan mental melainkan tetap menjadi ruang kreatif yang positif.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....