Bijaksana Hadapi Perbedaan: Kunci Kerukunan Umat Beragama
- 26 Apr 2026 09:25 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Perbedaan dalam praktik ibadah dan keyakinan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, namun seringkali memicu konflik jika tidak disikapi dengan kedewasaan. Melalui kajian dialog interaktif Mutiara Pagi, pada Kamis, 0 April 2026, masyarakat diajak untuk melihat perbedaan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang untuk saling melengkapi dan tumbuh bersama dalam bingkai toleransi yang kuat.
Ustadz Drs. K.H. Ahmad Kifni sebagai narasumber, menekankan pentingnya menyikapi perbedaan berdasarkan ilmu, bukan hawa nafsu. Beliau menyoroti fenomena perbedaan penentuan hari raya seperti Idulfitri dan Iduladha yang sering terjadi di Indonesia.
Menurutnya, baik metode hisab maupun rukyat memiliki dasar hukum yang kuat dalam agama, sehingga masyarakat tidak perlu terjebak dalam fanatisme golongan atau organisasi yang berlebihan.
"Cukup orang dikatakan sempit ilmunya kalau merasa pendapatnya sendiri yang paling benar dan pendapat orang lain serba salah," ujar Ustaz Ahmad Kifni.
Beliau merumuskan lima sikap kunci dalam menghadapi perbedaan. Dengan lima kunci ini diharapkan kerukunan hidup dapat terjaga dengan baik.
" Kunci pertama yaitu menerima dengan dasar ilmu, yakni memahami bahwa perbedaan pendapat itu sering kali memiliki dalil yang sah, jadi itu kunci pertamanya, kemudian haraplah kita untuk lapang dada atau tasamuh, jadi menghindari sikap sempi dada yang dapat memibu perpecahan, " tegas Ustadz Kifni.
Kemudian kunci ketiga lanjut Ustadz Kifni yakni dengan adanya sikap saling menghormati, dengan cara tetap menjaga menjaga etika dan toleransi meski berbeda dalam teknis ibadah, seperti jumlah rakaat tarawih atau penggunaan qunut. Kunci selanjutnya atau yang ke empat menurutnya adalah adanya sikap saling mendoakan.
" Mendoakan disini dalam artian mengharapkan yang terbaik agar amal ibadah semua pihak diterima oleh Allah, tanpa menghakim. Kemudian terakhir kunci yang kelima yakni belajar untuk dewasa dalam arti menggunakan perbedaan sebagai sarana melatih emosi agar tidak mudah marah atau memutuskan silaturahmi, " Tambahnya.
Kemudian terkait pengelolaan tempat ibadah yang memiliki jama'ah beragam, Ustadz Kifni memberikan solusi praktis berupa musyawarah. Beliau mencontohkan bagaimana masjid-masjid besar mampu mengakomodasi jamaah yang melaksanakan tarawih 11 rakaat dan 23 rakaat secara berdampingan tanpa konflik.
"Berbeda itu tidak bisa dipungkiri dalam hidup kita, tetapi yang penting adalah bagaimana bijaksananya kita menghadapi perbedaan tersebut," Tegas Ustadz Kifni
Ustadz Kifni juga berpesan agar masyarakat memanfaatkan media sosial secara positif untuk mempererat persaudaraan, bukan sebagai sarana adu domba atau menyebar fitnah. Dengan berpegang teguh pada tali agama Allah dan tidak bercerai-berai, perbedaan diharapkan justru menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....