Silent Treatment, saat Diam Justru Melukai Keharmonisan Hubungan

  • 26 Agt 2026 10:48 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto – Komunikasi menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keharmonisan hubungan. Perbedaan pemikiran, perasaan, dan cara menghadapi masalah membuat pasangan perlu membangun komunikasi yang terbuka agar konflik tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Namun, ketika menghadapi masalah, tidak semua orang mampu menyampaikannya secara langsung. Salah satu respons yang kerap muncul adalah silent treatment, yakni tindakan sengaja mendiamkan atau mengabaikan orang lain, termasuk pasangan, ketika sedang marah, kecewa, atau merasa terusik.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Ayu Kurnia S, S.Psi., M.Psi., menjelaskan silent treatment merupakan sikap diam yang sengaja diberikan kepada seseorang dengan tujuan menghukum.

“Silent itu diam gitu. Diamnya seseorang yang sengaja diberikan kepada relasinya yang tujuannya untuk menghukum dia,” jelas Ayu dalam dialog Ruang Psikologi di Pro 1 RRI Purwokerto, Senin (24/8/2026).

Menurutnya, silent treatment dapat muncul ketika seseorang merasa sakit hati terhadap perkataan atau tindakan pasangannya. Konflik yang menyentuh hal-hal sensitif, seperti orang tua atau profesi, juga dapat menjadi pemicu seseorang memilih menarik diri dari komunikasi.

Menurut Ayu, perilaku tersebut dapat memberikan dampak emosional bagi pihak yang menjadi sasaran. Korban dapat mengalami kecemasan, kebingungan, merasa tertekan, hingga menganggap dirinya sebagai pihak yang bersalah dalam hubungan.

Kondisi tersebut dapat semakin berat apabila silent treatment dilakukan berulang. Korban dapat kehilangan kepercayaan diri dan terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak memperoleh penjelasan mengenai persoalan yang sedang dihadapi.

Meski demikian, Ayu menegaskan tidak semua sikap diam dalam hubungan dapat dikategorikan sebagai silent treatment. Diam dapat menjadi hal yang positif apabila dilakukan untuk menenangkan diri dan mengelola emosi sebelum kembali membicarakan persoalan.

“Diam tuh sebenarnya enggak semua diam itu buruk ya. Enggak semua diam itu adalah konteksnya silent treatment tadi. Ada juga pepatah yang mengatakan diam itu emas gitu kan,” ungkapnya.

Karena itu, pasangan perlu membedakan antara mengambil waktu untuk menenangkan diri dengan sengaja mendiamkan pasangan sebagai bentuk hukuman. Jeda untuk mengelola emosi tetap perlu diikuti dengan komunikasi agar persoalan dapat diselesaikan.

Ayu mengingatkan agar silent treatment tidak dijadikan senjata dalam menghadapi konflik. Menurutnya, komunikasi yang sehat dan terbuka menjadi langkah penting untuk mempertahankan hubungan.

“Silent treatment itu enggak keren ya teman-teman semuanya. Daripada menghukum pasangan kita dengan diam, lebih baik kita mengkomunikasikannya. Karena untuk para pelaku, sadarlah bahwa itu adalah benih-benih dari kehancuran dalam hubungan. Jadi, kalau misal hubungannya mau dipertahankan, maka upayakan komunikasi yang positif dengan cara tidak melakukan silent treatment,” tegas Ayu. (Fauziyah)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....