Panjat Sosial: antara Kebutuhan dan Persepsi Negatif
- 14 Apr 2026 07:18 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Era digital yang semakin membuat manusia lebih banyak berkecimpung di media sosial menimbulkan adanya fenomena panjat sosial (pansos). Hal tersebut biasanya bertujuan untuk mendapatkan perhatian, pengakuan, atau nilai sosial dengan memanfaatkan isu atau kelmpok tertentu di media sosial tersebut.
Uswatun Hasanah S.Psi., M.A – Dosen Psikologi UMP dalam Curhatnya Pro 2 RRI Purwokerto berdialog membahas tema tersebut, yaitu “Panjat Sosial (Pansos)”.
Di Indonesia sendiri, istilah pansos cenderung berkonotasi negatif karena sering diakitakan dengan sikap berlebihan, tidak tulus, atau manipulaitf demi popularitas. Namun, tidak semua aktivitas yang terlihat seperti pansos memiliki makna negaitf.
Uswatun menekankan pentingnya membedakan antara perilaku dan label. Aktivitas seperti membangun personal branding, memperluas relasi profesioanal, atau mendokumentasikan momen dengan tokoh publik bisa menjadi hal yang wajar dan bahkan diperlukan, selama dilakukan secara jujur dan professional.
“Selama yang ditampilkan sesuai dengan kenyataan dan punya nilai, itu bukan pansos, tapi bagian dari proses membangun diri,” jelasnya.
Secara psikologi, perilaku pansos berakar dari kebutuhan dasar manusia untuk diakui, diterima, dan dihargai. Media sosial memperkuat kebutuhan tersebut melalui sistem likes, komentar, dan perhatian publik.
Selain itu, adanya perbandingan sosial membuat seseorang merasa tertinggal, sehingga terdorong menjadi jalan cepat untuk terlihat setara atau lebih unggul.
Dalam beberapa kasus ini juga dipengaruhi oleh rasa kurang percaya diri dan ketidakamanan diri.
Uswatun mengingatkan bahwa keinginan untuk dikenal bukanlah hal yang salah. Yang perlu diperhatikan adalah cara penyampaiannya. “Masalahnya bukan pada ingin diakui, tapi bagaimana cara kita mengejar pengakuan itu. Jika dilakukan secara berlebihan, tidak autentik, atau merugikan orang lain, justru bida berdampak buru bagi diri sendiri dan relasi sosial,” tegasnya.
Dengan demikian, dari sisi psikologi, fenomena pansos muncul akibat dari kebutuhan manusia untuk diakui dan dihargai di media sosial. Tidak semua pansos bersifat negatif, selama dilakukan secara jujur dan profesional. Yang terpenting adalah menjaga keaslian diri dan tidak merugikan orang lain dalam mencari pengakuan. (Helmalia)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....