Pentingnya Sikap Asertif dalam Menjaga Kesehatan Mental
- 24 Feb 2026 05:54 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Fenomena sulit berkata "tidak" atau yang dalam psikologi sering dikaitkan dengan tipe kepribadian agreeableness menjadi pembahasan utama dalam program "Ruang Psikologi" RRI Pro 1 Purwokerto, Senin (9/2/2026). Diskusi ini menyoroti bagaimana kecenderungan untuk selalu menyenangkan orang lain dapat berdampak pada beban kerja berlebih hingga kelelahan mental atau burnout.
Dr. Ugung Dwi Aryo W, M.Psi., psikolog dan dosen psikologi dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) selaku narasumber, menjelaskan bahwa individu dengan tingkat agreeableness yang tinggi cenderung menghindari konflik dan mengutamakan harmoni. Namun, tanpa kemampuan asertif, sifat ramah ini sering kali membuat seseorang rentan dieksploitasi dalam lingkungan kerja maupun pertemanan.
Menurut Dr. Ugung, perilaku non-asertif yakni ketidakmampuan mengungkapkan perasaan atau penolakan secara tegas namun sopan sering kali berujung pada kerugian personal. "Orang yang tidak bisa menolak permintaan di luar tanggung jawabnya akan menumpuk beban fisik dan pikiran, yang jika dibiarkan akan memicu stres kronis," ujarnya dalam sesi siaran tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa faktor pola asuh (parenting) berperan besar dalam membentuk karakter ini. Anak yang jarang diberi kesempatan mengambil keputusan cenderung tumbuh menjadi pribadi yang pasif dan sulit menetapkan batasan diri saat dewasa.
Sebagai solusi, Dr. Ugung menekankan pentingnya membangun kesadaran diri (self-awareness) dan melatih keterampilan komunikasi asertif. Berikut adalah beberapa langkah realistis yang disarankan:
- Berpikir Rasional: Mempertimbangkan prioritas diri sendiri sebelum mengiyakan permintaan orang lain.
- Menyusun Skala Prioritas: Tegas terhadap batasan waktu dan tanggung jawab pekerjaan utama.
- Latihan Komunikasi: Menggunakan naskah atau cara penyampaian yang sopan namun tetap mengandung alasan yang masuk akal (reasonable).
"Berkata tidak bukan berarti kita jahat atau tidak menolong, melainkan bentuk kepedulian terhadap kapasitas diri sendiri. Menjaga perasaan orang lain itu penting, namun menjaga kesehatan mental sendiri juga sama pentingnya," pungkas Dr. Ugung di akhir diskusi.
Melalui pemahaman ini, diharapkan masyarakat, terutama para pekerja, dapat lebih berani menetapkan batasan yang sehat dalam membangun relasi profesional maupun personal demi terjaganya keseimbangan hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....