Mengatasi Flexing: Bagaimana Menjaga Kesederhanaan dalam Hidup?
- 15 Des 2025 08:23 WIB
- Purwokerto
KBRN, Purwokerto : Flexing, atau gaya hidup yang berlebihan dan pamer, dapat menjadi masalah yang mengganggu keseimbangan hidup kita. Namun, ada beberapa cara untuk mengatasi flexing dan menjaga kesederhanaan dalam hidup.
Fenomena flexing, yakni kecenderungan menampilkan kekayaan, pencapaian, atau gaya hidup mewah di media sosial, semakin marak seiring masifnya penggunaan TikTok, Instagram, dan platform visual lainnya.
Meski tampak sekadar hiburan, paparan konten semacam ini secara berulang dapat menimbulkan tekanan psikologis, terutama ketika seseorang merasa harus menyesuaikan hidupnya dengan standar digital yang belum tentu nyata.
Kajian psikologi sosial menunjukkan bahwa melihat unggahan yang menampilkan hidup 'sempurna' dapat memicu upward social comparison proses membandingkan diri dengan orang yang terlihat lebih sukses.
Menurut American Psychological Association (APA, 2023) dalam laporan Protecting Teens on Social Media menegaskan kondisi ini dapat menurunkan rasa percaya diri dan memicu kecemasan. Temuan tersebut sejalan dengan meta-analisis McComb et al. (2023) yang menunjukkan bahwa perbandingan sosial ke arah 'lebih tinggi' cenderung menghasilkan emosi negatif seperti rasa gagal, minder, hingga iri.
Konten flexing bukan hanya memicu perbandingan sosial, tetapi juga tekanan emosional dan finansial. Kementerian Kesehatan RI, Laporan Kesehatan Remaja (2024) menegaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi konten yang memamerkan kemewahan meningkatkan risiko stres dan depresi pada remaja maupun dewasa.
| Baca juga: Kesepian bukan Sekedar tentang Kesendirian |
Peringatan serupa disampaikan oleh Surgeon General Amerika Serikat (2023), yang menyebut penggunaan media sosial tanpa batas memicu lonjakan kasus kecemasan, gangguan tidur, dan kelelahan mental.
Di Kendari, fenomena ini mulai terlihat pada kalangan remaja dan mahasiswa yang berusaha mengikuti tren gaya hidup daring meski tidak sesuai kemampuan finansial. Guru BK di beberapa sekolah juga melaporkan meningkatnya perilaku minder akibat perbandingan sosial di media sosial.
Menurut U.S. Department of Health & Human Services (HHS, 2023), mengurangi durasi penggunaan media sosial selama 30–60 menit per hari mampu menurunkan kecemasan, meningkatkan suasana hati, serta membantu kualitas tidur.
Sementara itu, APA (2023) menekankan bahwa membatasi paparan konten yang menampilkan kemewahan dapat mencegah terbentuknya persepsi diri yang negatif dan menjaga stabilitas kesehatan mental.
Langkah Praktis Mengurangi Dampak Flexing
1. Tetapkan Batas Waktu Harian
Menurut APA (2023), penggunaan media sosial kurang dari 60 menit per hari berdampak positif pada emosional remaja.
2. Kurasi Isi Feed
APA (2022) menyebutkan bahwa penyaringan konten positif dapat membantu menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat.
3. Matikan Notifikasi Tidak Penting
Dilansir dari Surgeon General’s Advisory (HHS, 2023), menonaktifkan notifikasi dapat mengurangi stres dan meningkatkan fokus harian.
4. Lakukan Digital Detox Berkala
Penelitian Frontiers in Psychology (2024) membuktikan bahwa digital detox meningkatkan regulasi emosi dan menurunkan tekanan psikologis.
5. Latih Kesadaran Emosi Saat Mengonsumsi Konten
Menurut MDPI Journal of Youth Studies (2024), literasi emosional dapat menurunkan dampak negatif konten glamor di media sosial.
6. Bangun Dukungan Sosial Offline
Kemenkes RI (2024) menekankan bahwa interaksi langsung dengan keluarga dan teman memperkuat ketahanan mental remaja.
7. Cari Bantuan Profesional Jika Diperlukan
WHO dan APA menegaskan bahwa konseling klinis efektif dalam memberikan strategi penanganan stres dan membentuk pola pikir lebih sehat.
Membatasi penggunaan media sosial menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental di tengah maraknya fenomena flexing. Dengan mengatur durasi, mengkurasi konten, serta membangun dukungan sosial offline, masyarakat dapat terhindar dari tekanan psikologis yang berlebihan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....