"Mon Amour" di Paris Suatu ketika

  • 11 Mei 2026 10:54 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Jalan-jalan sunyi di Montmartre yang berkelok dan menanjak, bukit pinus yang terawat baik, dan hamparan Kota Paris yang tampak dari ketinggian, menjadikan Montmartre memperoleh posisi istimewa di hati.

Paris di pergantian musim, selepas musim gugur. Hembus tiupan angin meliukkan ranting-ranting pohon yang berbaris berderetan di sepanjang tepian Sungai Seine.

Selembar demi selembar daun yang berwarna kemerahan berjatuhan ke permukaan Quai Voltaire. Anak-anak tangga menuju tanggul sungai yang merupakan shelter batobus atau bus air, masih lembab oleh bekas hujan.

Entah di mana, namun sampai juga alunannya yang indah, Gymnopedie karya Satie mengalun lembut dari gesekan biola. Rupanya, dari seorang pengamen muda yang nampak membolak-balik halaman partitur dan cekatan menggesek biolanya.

Kira-kira satu jam, saya dan istri menyusuri Sungai Seine sembari menikmati keindahannya di Paris. Sungai Seine membelah Kota Paris menjadi dua bagian, rive gauche merupakan wilayah di sebelah kiri sungai, dan rive droite merupakan wilayah di sebelah kanan sungai. Tak kurang 10 dari 12 distrik dilewati sungai ini.

Bus air berhenti di Pont Solferino, tak seberapa jauh dari taman Tuileries. Tak terbayangkan para seniman masa lalu memikirkan dengan serius artistik sebuah jembatan sampai ke sudut-sudut kolongnya. Saya lihat, setiap pasak sebutlah begitu, di masing-masing jembatan ini dihiasi dengan patung besar yang indah, tak ubahnya para dewa-dewi penjaga sungai.

Kami berdua melanjutkan langkah, menghampiri rive gauche. Kawasan sebelah kiri sungai ini dikenal juga dengan St Germain de Pres, sejak lama dikenal sebagai arena pergaulan kaum intelektual. Seperti Sartre, Hemingway, Simone de Beauvoir, Gertrude Strein, pada eranya masing-masing merupakan pelanggaran tetap kafe di sepanjang bulevar St Germain.

Ada tiga kafe di bulevar ini yang legendaris. Les Deux Mogot, Cafe de Flore, dan Brasserie Lipp. Les Deux Mogot letaknya di persimpangan bulevar St Germain dengan rue Bonaparte. Konon, surealis Andre Breton maupun novelis Ernest Hemingway pernah menjadi pelanggan tetap di sini. Dan Hemingway dalam beberapa bagian bukunya, The Sun Also Rises, terinspirasi oleh kafe ini.

Saya dan Istri mampir di sini. Saya memesan segelas cokelat panas. Dari tempat kami duduk, mata leluasa memandang ketiga penjuru. Kami menatap lalu lalang arus manusia yang mengalir tanpa henti, sembari menikmati suasananya.

Syafaruddin Daeng Usman dan istri di Pont Solferino dengan latar menara Eiffen dikejauhan di Kota Paris. (Foto: Din Osman)

Boleh dikata Montmartre adalah kawasan paling cantik di Paris. Di sana ada Bassilique du Sacre Coeur yang memang indah. Begitupun stasiun metro Abbesses yang memiliki desain asli art-noveau karya seniman Hector Guimard.

Di Place du Tertre, kawasan yang padat oleh galeri, restoran, seniman dan wisatawan. Karya para seniman dijejerkan di tepi jalan. Di rue Azais terdapat Basilique du Sacre Coeur, bangunan bergaya neo-Byzantine dibangun tahun 1876.

Pada awalnya masyarakat Prancis kurang mengapresiasi bangunan ini, bahkan menyebutnya Notre Dame de la Galette, sebuah ungkapan sinis yang membandingkan dengan keanggunan Katedral Notre Dame. Akan tetapi, sebagaimana juga menara Eiffel yang pada mulanya dicemooh, Sacre Coeur perlahan memperoleh tempat di hati masyarakat. Dan bahkan menjadi salah satu landmark sebagai Kota Cahaya di malam hari.

Lumayan jauh perjalanan mengelilingi bagian klasik kota ini, saya dan istri menuju sector 17 atau arrondissement di sebelah barat Kota Paris. Kami melintasi Hotel de Ville, Louvre Rivoli, Palais Royale, Concorde hingg sampai di La Defense.

Di sini saya menyaksikan jejak memori tentang era abad pertengahan dan renaisans. Konon di sini semua serba modern dan efisien. La Defense dibangun dengan penuh cita rasa. Karya para seniman agungnya serupa Cesar Baldaccini, Joan Miro, Alexander Valder, kesemuanya menyatu dalam sebuah balutan wajah kota.

Saya pun tak melewatkan menikmati alunan musik klasik karya seniman kesohor dunia Wofgang Amadeus Mozart (1756-1791). Karya-karya Mozart tak pernah surut dari kepiawaiannya.

Menikmati Paris di suatu ketika, terlebih di malam hari, sama halnya dengan menyusuri Eropa. Kami menapaki peradabannya, ibaratnya mempelajari sejarah dunia.

Kata Isna istri saya, di Eropa ke mana pun kaki melangkah, akan selalu bersisihan dengan sejarah, gedung tua terawat, lukisan, perkebunan anggur, bunga tulip, dan transportasi yang baik. Paris Mon Amour, Eropa yang menawan ... (***)

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman

Baca juga: Ngopi di Prancis dan Eropa

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....