Membaca Anna Karenina di Leiden dan Sebuah Pembelajaran Moral

  • 24 Mei 2026 09:48 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Novel yang penuh dengan emosi dan perasaan yang rumit dengan ruang untuk interpretasi, menjadikannya sebagai salah satu buku Rusia yang paling populer, mempengaruhi banyak penulis lain, dan diadaptasi ke layar lebar puluhan kali di seluruh dunia.

"Mengetahui plot dan makna cerita paling romantis dan dramatis setelah Romeo and Juliet dari novel ini, membuat kita terlihat seperti orang yang berpendidikan teratur", kata sahabat saya Richard van Hekkers.

Semua keluarga bahagia itu sama, setiap keluarga yang tidak bahagia, tidak bahagia dengan caranya sendiri. Ini adalah ungkapan ikonik Leo Tolstoy memulai novelnya, kata Richard sahabat lama saya yang menetap di Roterdam itu.

"Seorang pembaca akan bertemu pertama kali bukan dengan karakter pada judul, tetapi saudara laki-lakinya, Stiva. Dia berselingkuh dari istrinya, dia mengetahuinya, dan semuanya berubah menjadi berantakan dalam keluarga mereka yang dulu bahagia dengan lima anak", begitulah novel sangat tebal ini memuat penceritaannya.

Sebenarnya, Anna Karenina sedang berangkat dari Sankt Peterburg menuju Moskow untuk membantu pasangan itu berdamai, dan benar-benar berhasil dalam hal ini. Di bawah saran Anna, istri Stiva memaafkannya membuat seolah-olah tidak ada yang terjadi.

"Di stasiun kereta api, Anna bertemu Alexei Vronsky, seorang perwira muda yang tampan. Setelah melihatnya, dia tidak bisa berhenti memikirkannya. Konon. Anna tidak mencintai suaminya lagi, yang jauh lebih tua, dia bosan dengan kehidupan sosial, dan bahkan putranya yang berusia delapan tahun tidak memberikan kesenangan untuknya. Jadi, dalam suasana hati ini Anna tertarik pada Vronsky", ungkap novel ini.

"Hubungan cinta mereka menjadi begitu bergairah sehingga semua orang di masyarakat kelas atas mengakui dan menilai mereka. Suami Anna juga memintanya untuk bersikap lebih rendah hati", kata Richard sembari menikmati cokelat hangat dan biskuit Holland siang itu saat kami duduk bersama di salah satu kafe di sudut Leiden Belanda yang menawan.

"Setelah malam pertama yang dihabiskan bersama Anna, dan Vronsky, dia merasa dirinya penjahat dan menyadari bahwa mereka terikat selamanya sejak saat itu", begitu cerita yang kubaca dari novel yang kudapatkan di salah satu toko buku di Leiden ini.

"Vronsky menyarankan Anna untuk meninggalkan suaminya dan menikah dengannya. Namun, Karenin tidak menceraikannya, dia menghukum Anna dengan pindah dan mengambil putra mereka darinya", ungkap novel ini bertutur lancar dengan bahasa sastranya yang bagus.

"Vronsky juga berada dalam situasi yang rumit. Jika dia secara terbuka berkencan dengan Anna, dia harus meninggalkan pekerjaannya, dan ia sudah menyukai posisi itu dengan hidupnya yang dikelilingi perhatian wanita", ujar Richard yang ternyata sudah dua kali membaca ulang buku sastra ini.

"Akhirnya, Anna melahirkan anak mereka, yang memaksa Vronsky untuk mengundurkan diri. Dia sudah dalam kondisi sangat histeris, lelah dengan semua kebohongan, penilaian sosial, masalah dengan suami, dan merasa sengsara", ungkap sang penulis ternama dalam untaian romannya ini.

Vronsky kelelahan karena kehilangan akal, dan teguran yang tak ada habisnya. Akhirnya, Anna melemparkan dirinya ke bawah kereta api. Vronsky mencoba menangani semuanya, dan menjadi sukarelawan untuk berperang, sementara Tuan Karenin akhirnya merawat anak mereka.

"Ada makna dari balik novel ini?", tanya saya kepada Richard. "Tolstoy dikenal karena mengenalkan nilai-nilai moral, dan perzinahan adalah dosa terbesar dalam sistem koordinatnya", jawab Richard yang menyukai sejarah Indonesia ini.

Dalam novel dan karya-karya nonfiksinya selanjutnya, dia akan terus membahas topik ini dan akan mengklaim bahwa ini adalah salah satu masalah terbesar di masyarakat secara umum.

"Kritikus yakin bahwa Tolstoy menghukum Anna dengan membunuhnya. Dia menghukum Anaa karena rela meninggalkan putranya karena cinta, karena lebih memilih gairah daripada nilai-nilai keluarga. Pada saat yang sama, suaminya, Karenin, yang pada awalnya bukan karakter yang menyenangkan, tampaknya adalah pria yang paling bermoral", papar Ruchard dengan mimik wajah seriusnya.

Alur plot penting lainnya yang berlawanan dengan alur Karenina dikhususkan untuk Konstantin Levin, yang dianggap sebagai alter ego Tolstoy. "Dia adalah orang yang setia yang menemukan kebahagiaan dalam merawat tanah miliknya, dan bahkan memotong rumput bersama dengan petaninya, episode nyata dari biografi Tolstoy", bisik peneliti muda di Leiden Belanda itu.

"Dia jatuh cinta dengan seorang gadis muda bernama Kitty, yang pada awalnya secara diam-diam jatuh cinta dengan Vronsky. Tapi ketulusan Levin tampaknya lebih penting. Hingga akhirnya mereka menikah dan bahagia berbeda dengan hubungan tidak sehat dari Anna dan Vronsky", ujar saya sembari ditatap Richard dengan anggukan persahabatan yang akrab. (***)

Penulis: Syafaruddin Daeng Usman

Baca juga: Labirin Cinta di “Chateau Du Versailes”

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....