"Amsterdam, Ik vind je leuk" Suatu ketika
- 19 Mei 2026 19:29 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Amsterdam. Nama yang akan selalu kuingat. Zo, vertel iets over jezelf, Amsterdam, wat je maar wil. Begitulah kesan dan kenangan tak kurang dari lima pekan di Eropa ini yang akan menjadi semacam ingatan tentunya.
Menyusuri kota ini bagai membuka buku dan lembaran sejarah. Bangunan-bangunan klasik berbagai gaya berjajar rapi. Kebanyakan berasal dari abad XVII atau XVIII silam, saat di mana zaman keemasan menyentuh negeri ini.
Amsterdam adalah kota yang dengan cermat merekam peradaban. Semangat renaisans masih jelas tercium di distrik grachtengordel. Sementara itu, Museum het Anne Frank Huis berdiri tegak jadi saksi kekejian Nazi membantai kaum Yahudi semasa Perang Dunia kedua.
Arsitektur gothic menampakkan diri di sela lonceng Gereja de Oude Kerk. Sedangkan Rijksmuseum merawat geliat seniman-seniman besar Belanda seperti van Gogh, Rembrandt, dan Vermeer dengan apik.
Sahabat saya, Steven yang lahir di kota ini menyebutkan Amsterdam sebagai kota berwajah kontradiktif yang dinamis. Kata dia, De 9 Straatjes, atau sembilan jalan di distrik grachtengordel, berlomba memamerkan toko-toko unik, dari barang vintage sampai karya desainer. Dari cokelat bonbons sampai benda-benda art deco.
Saya lihat, di sudut lain kota, dari Stasiun Amsterdam Centraal, permukaan kanal memantulkan gedung-gedung tua. Bau kombinasi harum kopi yang menguar, disajikan di kafe-kafe pinggir jalan.
Ketika melintasi Damrak ke arah Jordaan, masih di centrum, nampak berderet museum seks dan toko suvenir di sisi kanan. Sementara kapal-kapal yang menawarkan tur, menyusuri kanal-kanal Amsterdam yang berjajar di sisi kiri.
Cahaya matahari di musim semi melumuri kota. Alun-alun de Dam, di depan Istana Kerajaan, dipenuhi wisatawan yang sibuk berfoto. Burung-burung kota mengerubung, siap mematuk potongan roti yang disebar orang-orang.
Terlihat pula, seniman jalanan merajalela di alun-alun. Mereka menunggu wisatawan melempar sisa receh ke topi-topi terbalik di hadapan mereka. Saya lihat, beberapa berpose layaknya patung, beberapa lagi mempertunjukkan kebolehan sulap. Dan sisanya duduk di kursi kayu dengan kanvas dan cat air di tangan.
Sahabat lain saya, Johan membisikkan, di sudut lain kota Amsterdam di malam hari, banyak lampu-lampu Red Light Districk berkelap-kelip. "Di sana menyodorkan bisnis yang kabarnya paling tua di jagat Netherland, prostitusi", ujarnya. Etalase berlampu neon merah jambu memajang perempuan-perempuan disinari beraneka warna.
Saat saya dan istri di Amsterdam, kebetulan di bulan April, dulunya bulan ini dimeriahkan dengan perayaan Koninginnedag. Koninginnedag, hari Ratu, biasanya dibilang perayaan terbesar di Belanda yang dinanti semua orang setiap tahunnya.
Kata Johan, sejak 1949, Koninginnedag dirayakan setiap 30 April, memperingati hari ulang tahun Ratu Juliana. Ratu Beatrix, pengganti Juliana, sengaja tidak mengubah tanggal perayaan untuk menghormati ibunya. Lagi pula, ulang tahun Beatrix jatuh pada 31 Januari. "Terlalu dingin untuk berpesta", kata Johan.
"Kala Beatrix digantikan Willem Alexander, putranya, maka Koninginnedag berganti menjadi Koningsdag atau hari Raja", ujar Johan. Dan saya membayangkan, saat Koninginnedag ataupun Koningsdag, Amsterdam pasti terlalu penuh. Dan orang tidak bisa banyak bergerak di tengah kepadatan dengan kemeriahannya. Pasti pula, tak sedikit yang mabuk dalam kemeriahan itu.
Saya dan istri, bersama Steven dan Johan serta Audrey dan Claude malam itu kami nongkrong di Annie's Place, sebuah kafe tidak jauh dari kanal di pusat kota. Saya katakan kepada sajabat-sahabat baik kami itu, "Alles komt goed". Semua akan baik-baik saja, "Amsterdam Ik vind je leuk ... Amsterdam, aku suka kamu" (***)
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....