Labirin Cinta di “Chateau Du Versailes”

  • 24 Mei 2026 08:47 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Paris memang eksotis. Belum lama ini, saya dan istri mengunjungi negeri yang diidolakan penduduk belahan dunia itu. Selama lebih empat pekan di Eropa, sepertinya secara khusus saya dan istri mendatangi Negara Perancis. Tentu tak sedikit kisah yang mengesankan dari sana.

Saya menyambangi area Chateau du Versailles, satu obsesi Louis XIV yang penuh dengan kemewahan, keindahan, serta kemegahan. Lebih dari itu, tetap dikenang sebagai bangunan istana terbesar dalam sejarah seni arsitektur French Baroque.

Bangunan ini berdiri di atas area seluas delapan belas kilometer persegi. Letaknya di barat daya Paris. Lahan yang awalnya, konon adalah pondok berburu bagi Louis XIV. Dan itulah yang belakangan menjelma sebagai istana megah Versailles.

Saya terkesan, ruangan itu begitu harum. Memang, Paris didaulat sebagai ibukota parfum dunia. Kaca-kaca terdapat di setiap sudut. Ratusan butir kristal menggantung di langit-langit.

La Grand Appartement du Roi, yang didominasi dengan kaca-kaca dan kristal-kristal itu, memang menjadi salah satu ruangan favorit sang penguasanya pada zamannya.

Sahabat saya Johan yang lama bermukim di Amsterdam, Belanda, yang bersama Claudia sahabatnya menyertai perjalanan kami dari Amsterdam ke Paris, Perancis, menceritakan pada 4 Juni 1789 adalah hari terburuk sepanjang sejarah hidup sang penguasa. Karena pada tanggal itu, lebih dari sebulan kepergian putranya yang belum genap berusia tujuh tahun. “Penyakit tuberculosis harus merenggut hidupnya,” k99ata Johan.

Putra mahkota Louis Joseph Xavier Francois yang dilahirkan sang ratu penguasa pada 22 Oktober 1781, pergi untuk selamanya. Dalam suasana duka cita, luka di hati sang ratu belumlah pulih, namun luka baru siap merobek sisi hatinya yang lain.

“Rakyat menyerbu penjara Bastille ketika itu. Raja segera mengadakan rapat darurat, dan sang ratu wanita cantik berdarah Austria itu membisu seribu kata di ruangan megahnya, hatinya menjerit, batinnya berontak.

Tak terlintas dalam benaknya kedatangannya dari Austria di usia empat belas tahun dengan tujuan mempererat hubungan kedua negara, akan berantakan pada pengadilan rakyat”, tutur Johan.

Pada ketika itu rakyat sudah berhasil menaklukkan Bastille. Mereka mengangkat Jenderal La Fayette menjadi komandan pengawal nasional. Sang ratu panik, dia memerintahkan pengawal setianya untuk mengumpulkan Charlotte dan Charles, dua anaknya, ke dalam satu kamar dan memastikan keamanannya.

Seketika itu, sang ratu itu tahu, inilah saatnya di mana perannya sebagai ratu menuntutnya untuk memberikan pertunjukkan terbaik. Konon, dalam empat jam, golongan rakyat jelata Perancis telah berhasil menggulingkan penjara Bastille pada 14 Juli 1789.

Ratu Perancis Count Fersen itu kukuh untuk bertahan. Meski dia sadar rakyat segera mengusirnya dari Istana Versailles, dan tidak menganggapnya sebagai ratu mereka lagi.

Bibir tipis berwarna pink itu bergetar. Tapi sorot matanya adalah sorot mata Ratu Perancis terakhir. Dia adalah putri dari Ratu Austria.

Seorang ningrat asal Swedia, Baron Axel Fersen, diminta suami sang ratu, Louis XVI, untuk membawa dan menyelamatkan istri dan anak-anaknya keluar dari Perancis. Keadaan negara semakin genting.

Louis XVI begitu mencintai istrinya, sejak mula dia menatap kecantikan perempuan yang datang ke Versailles itu sekitar dua puluh tahun sebelum hari genting ini.

Luois XVI begitu romantis. Dia mengatakan, selama masa pernikahannya dengan sang ratu, dia begitu silau dengan kecantikan istrinya ini, dan dia menyebut, selama pernikahannya itu pula, tidak satu menit pun dia berhenti mengagumi kecantikan ibu dari anak-anaknya itu.

Maka itu, pada hari nahas tersebut dia membujuk agar istrinya ini segera menyingkir dari Versailles untuk menyelamatkan diri.

Sang ratu tidak kuasa menahan tangis. Butir-butir air mata jatuh dari bola matanya. Dan dia mengambil keputusan untuk tidak akan meninggalkan suaminya. Seketika hati raja yang sedang digerogoti keresahan berubah menjadi bongkahan senyum yang mendalam.

“Harunya tak kuasa ditahan melihat istri yang begitu dia kagumi masih bersedia mendampingi. Namun raja pun tetaplah seorang ayah. Batinnya memekik menjerit melihat putri dan putranya harus mengalami semua fenomena buruk Perancis di tahun 1789”, ungkap Johan.

Saya baca dari sebuah buku yang saya lahap selama perjalanan darat dari Amsterdam ke Paris, Perancis, mengisahkan dengan puitis apa yang dialami Louis XVI dan sang ratu pada ketika itu.

"Di balik topi biru besarnya yang berhias bulu angsa hitam, Marie Antoinette, menitikkan air matanya. Pandangannya terpaku pada jendela ruang di mana dia bisa melihat kota Paris nan elok. Berat rasanya harus meninggalkan negara ini untuk pergi. Tapi sekali lagi, Marie Antoinette hanyalah seorang ibu yang akan melakukan apa pun untuk anaknya. Termasuk meninggalkan Perancis”, tulis buku berbahasa Belanda itu.

Istana Tuileries adalah hunian keluarga kerajaan ini semenjak mereka didepak dari Versailles dua tahun sebelumnya.

"Ketika itu mereka pergi mencoba untuk menyelamatkan para buah hati tanpa berniat untuk lari. Namun, tampaknya hidung rakyat terlalu tajam untuk mencium keberadaan keluarga raja dan ratu. Dan saat pelarian, Verennes menjadi tempat tertangkapnya mereka”, tulis buku roman itu lanjut.

Seorang sahabat yang lain saya, Claudia, menceritakan, sang raja seorang pria tambun suami sang ratu, pada ketika itu diseret oleh laskar-laskar Perancis untuk dipisahkan dari keluarganya.

Tangis dan jeritan kedua anak mereka pun menggema di Penjara Temple.

“Raja Perancis itu, Louis XVI, mendekati putra kecilnya Charles yang berusia empat tahun yang menangis ketakutan. Dia katakan, berhentilah menangis karena kamu adalah seorang laki-laki”, ungkap Claudia kepada saya dalam bahasa Holland yang cukup saya mengerti. Selepas berkata-kata demikian, lanjut Claudia, Louis XVI dipisahkan dari ratu dan kedua anaknya yang ditempatkan pada sel terpisah.

Rakyat Perancis menertawakan sang ratu yang dijuluki sebagai Madame Defisit yang kini tersungkur dalam penjara. Dan pada 21 Januari 1793 menjadi hari di mana rakyat memenuhi Place de la Revolution, yang menjadi tempat berakhirnya hidup seorang raja Perancis, Louis XVI, di atas pisau guillotine. Dan pada 16 Oktober di tahun yang sama, giliran sang ratu, Marie Antoinette meregang nyawa di ujung pisau guillotine itu pula.

Sebelum menyudahi hidupnya, Marie Antoinette, tetap terlihat cantik dengan pakaian sederhana. Tanpa riasan dan tanpa hiasan. Kabarnya, kata Johan menimpali, sebelum meletakkan kepalanya di bawah pisau guillotine yang mematikan itu, sang ratu maju lalu membungkuk memberikan hormat kepada rakyat.

“Kemudian rambutnya yang tergerai terurai panjang habis dipangkas. Menyusul irisan pisau guillotine yang mengakhiri riwayat kehidupannya, menyusul sang suami, Raja Louis XVI”, sambung Johan.

“Tidak tersirat rasa takut sama sekali di wajahnya. Senyum pun tak pernah hilang dari bibirnya. Saat jatuhnya pisau guillotine hari itu, maka itu menjadi hari kematian seorang Ratu Perancis, Marie Antoinette asal Austria ini”, kata Claudia menutup ceritanya. (***)

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman


Baca juga: "Amsterdam, Ik vind je leuk" Suatu ketika

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....