Menikmati Menara Eiffel di Malam Hari

  • 30 Apr 2026 07:43 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak - Dalam beberapa pekan di pertengahan April tahun ini, saya dan istri, Isna, berkesempatan mengunjungi Benua Eropa di Eropa Barat.

Beberapa hari kami berada di Kota Madrid, Paris atau London. Dan sebelumnya di Belanda. Dari Limburg, bagian selatan Nederland, terus ke Amsterdam dan Brussels, ibukota Belgia, di sana tentu bisa melihat manneke-pis, patung anak kecil lagi pipis.

Di masa lalu di Negeri Belanda, orang tak melewatkan mengunjungi pabrik anggur dan jenever. Boleh cicip minuman keras itu dikit-dikit. Lama kelamaan laki-laki "pantat botol" tampak semakin gembira dan merah mukanya.

Dari sahabat kami Gerrie yang bermukim di Wassenaar, saya mendapat informasi tentang polder Zuiderzee, kehebatan teknologi Belanda membangun tanggul, mereklamasi pantai, mengatur peringkat air, sehingga walaupun Bandara Schiphol berada sekitar lima meter di bawah permukaan laut, namun tidak terendam dan berfungsi normal.

Kami naik kendaraan menuju Paris. Dalam waktu kurang lebih lima jam kami sampai. Indahnya sekitar lintasan terlihat di pinggir jalan pohon-pohon kayu yang menghijau. Ada juga batang pohon yang sudah meranggas. Daunnya subur, salju sudah berlalu. Musim semi mulai menyelimut bumi Eropa Barat.

Tak putus-putusnya deretan menara tinggi dengan baling-balinya berputar ditiup angin guna pembangkitan tenaga listrik. Kata teman lain saya, Rudolph, di sini orang tidak melulu memakai minyak bumi atau batu bara untuk menghidupkan stasiun pembangkit listrik. Tapi juga angin, sinar matahari, dan sebagainya. Cara-cara baru telah dilaksanakan untuk mengurangi polusi udara dan meredam dampak buruk atas masyarakat dari perubahan iklim.

Tentu, bepergian dengan mobil ini sangat menyenangkan. Tidak ada pos-pos imigrasi di perbatasan dua negara. Tidak ada pemeriksaan paspor. Tak ada birokrasi mengesalkan. Semua dibikin mudah.

Kemacetan lalu lintas di jalan tol dari Belgia menuju Perancis tidak ada seperti di depan rumah kami di Jalan Imam Bonjol Pontianak dan serupa di Jakarta. Baru di pinggir kota Paris kendaraan mobil dilambatkan, karena lalu lintas mulai ramai.

Hari sudah sore, tentu di Pontianak sedang menjelang pagi, mobil kami ke daerah Trocadero, berhenti di sebuah hotel kecil, dekat Menata Eiffel. Setelah chek-in, saya dan istri berjalan mendekati Eiffel yang akan nyala lampu-lampu hiasannya dengan iluminasi indah di malam hari.

Beberapa waktu lamanya kami berbaur dengan kaum turis. Kulihat, kebanyakan mereka dari China dan India. Setelah makan pasta Italia spaghetti di restoran dekat hotel, kami pulang ke kamar untuk tidur.

Lumayan lelah. Sepanjang hari

in de weer, kata orang Belanda. Aku dan istri telah menikmati pemandangan alam winter, melintasi tiga negara Belanda, Belgia, Prancis. Kulihat tadi siang, pompa bahan bakar minyak dioperasikan sendiri oleh pengemudi yang bisa pergi ke toilet dengan bayar 50 sen euro. Ini negeri-negeri makmur, tiada diragukan lagi, gumamku dalam hati.

Paris 80 tahun yang silam, kubaca di mana Prancis belum lama keluar dari Perang Dunia II dan mulai menggunakan bantuan Rencana Marshall dari Amerika Serikat di bawah Presiden Harry Truman, untuk membangun kembali industri dan perdagangan bangsa-bangsa Eropa.

Tour Eiffel atau Menara Eiffel bagi kebanyakan orang adalah monumen Paris paling mewah. Ketika menara itu dipilih sebagai bagian pusat dari World Fair tahun 1889, Gustave Eiffel berkata dengan antusias, bahwa Prancis akan merupakan satu-satunya negeri dengan tiang bendera setinggi 300 meter.

Menara Eiffel adalah bangunan paling tinggi di dunia hingga tahun 1931, ketika dibangun Empire State Building di New York. Pada hari yang cerah, panorama sejauh 65 kilometer bisa dinikmati dari Eiffel Tower. Kata teman kami Gerrie, sejumlah 40 ton cat harus digunakan untuk mengecat Tour Eiffel sekali tujuh tahun.

Sekitar Menara Eiffel pedagang-pedagang kaki lima menjajakan barang-barang suvenir kepada turis. Ada yang menggelar barang dagangannya di depan Eiffel, ada yang mangkal di pintu masuk. Saya menyapa pedagang berkulit hitam, masih muda. Dia menjual miniatur Eiffel dengan harga bervariasi. Beberapa saat kemudian saya baru tahu, rupanya di situ dilarang berdagang suvenir. Dan benar saja, dalam waktu sekejap tempat itu kosong dari pedagang kaki lima.

Saya menghabiskan dan menikmati waktu dengan satu kerja saja, yaitu mengamati keadaan ramai bergalau di sekitar, memperhatikan kelakuan kerumunan atau individu yang lalu lalang.

Saya lihat manusia dari berbagai bangsa dan berbagai warna kulit, dari yang bule hingga yang hitam pekat. Dari yang bermata biru hingga mata sipit. Ada yang berpakaian tebal menurut potongan fashion yang disukai. Ada yang berhenti sejenak membeli minuman Coke dan sepotong kue, kemudian berjalan terus entah ke mana.

Kulihat beberapa wanita muda menenteng kantong-kantong penuh dengan barang yang dibeli. Ini betul-betul negeri dan bangsa makmur yang tinggi pendapatan perkapitanya, pikirku. Tapi orang yang belum berkecukupan harus berjuang hidup ada juga saya lihat di dekat kami.

Seorang laki-laki asal Afrika Utara berdiri dengan di depannya terhampar barang jualan berupa berbagai suvenir untuk turis-turis. Pedagang kecil itu dengan bahasa tubuhnya menawarkan barangnya kepada manusia-manusia yang lalu lalang. Di kejauhan terdengar bunyi mobil polisi yang tipikal khas Prancis. Dan pedagang kaki lima yang kabur itu tadi, kata istri saya, dari Magribi, Maroko atau Aljazair. Dia dianggap migran yang datang cari pekerjaan di Prancis.

Lalu saya dan Istri balik ke hotel. Masih kenyang makan masakan Turkiye, kami tidak lagi makan malam. Terus ke kamar, bawa roti dan minum air putih hangat. Sesuai kebiasaan, saya lalu membuka laptop dan membuat feature perjalanan sambil sesekali menoleh ke televisi siaran berita stasiun Prancis. (***)

Penulis: Syafaruddin DaEng Usman

Baca juga: Menyinggahi Kurhaus, Memandang Ridderzaal di Amsterdam

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....