Menyinggahi Kurhaus, Memandang Ridderzaal di Amsterdam
- 29 Apr 2026 07:10 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Saat saya berkesempatan berkunjung ke Negeri Kincir Angin Belanda beberapa waktu lalu, salah satu tujuan yang ingin saya capai adalah mendatangi NIOD atau Nederlands Instituut voor Oorlogsdocumentatie di Amsterdam untuk melihat dari dekat dokumen dan arsip yang disimpan di sana.
Kunjungan ini juga mengantarkan saya bertemu dengan penulis kawakan yang bekerja di NIOD yang saya kenal baik. Kunjungan ini dapat saya lakukan dengan memberikan kesan baik, ditambah lagi musim semi yang cukup mendukung. Dan saat ini sedang tidak ada badai salju yang biasanya menghalangi orang untuk leluasa berpergian.
Saya dengar dari sahabat saya Gerry, bila musim dingin, kereta api dan trem akan macet total. Sesungguhnya, tidak saja negeri Belanda, tetapi praktis seantero Eropa Barat lumpuh akibat hebatnya salju yang turun. "Hot wordt te bar", kata sahabat saya Gerry.
Alih-alih saya dan istri, Isna, dari NIOD di Amsterdam, kami berdua pergi ke Scheveningan. Kami mendatangi Hotel Kurhaus di sana. Saya baca dari tulisan Almarhum Pak Rosihan Anwar wartawan kawakan, waktu KMB 1949, hotel ini tempat delegasi Indonesia menginap dan bekerja.
Dari teman saya Gerry saya dengar, di Kurhaus ini pula ketika Bung Hatta PM RIS menyelenggarakan perayaan HUT ke 4 proklamasi, dalam sebuah resepsi hadir pula Sultan Hamid Alkadrie II dari Pontianak dan Ide Anak Agung Gde Agung PM NIT.
Saya pahami, Sultan Hamid II dan Anak Agung, beliau berdua adalah tokoh-tokoh BFO atau Bijeenkomst voor Federaal Overleg, dan keduanya sangat dihormati dan disegani oleh kawan maupun lawan politiknya.
Hotel Kurhaus mengandung sepotong sejarah Eropa yang menarik. Saya simak dari Johan, teman yang lain saya yang menetap di Den Haag, hotel ini asal mulanya ialah tahun 1818 Jacob Pronk membangun sebuah tempat pemandian terbuat dari kayu. Orang masuk ke dalam tong untuk mandi dalam air laut yang dipercaya punya daya menyembuhkan penyakit.
Tahun 1885, cerita Johan lanjut, tempat ini menjelma sebagai Kurhaus, artinya rumah pengobatan yang pertama, terdiri atas sebuah bangsal untuk konser musik, 120 kamar dan dua restoran.
Kata Johan lagi, dari 1927 hingga 1960-an Kurhaus menjadi pusat musik internasional. Tokoh-tokoh selebriti memberikan pertunjukan. Tersebut nama-nama seperti Maurice Chevalier, Duke Ellington, Edith Piaf, Maria Callas, Marlene Dietrich, dan lain-lain. Kalau saya tak keliru, terakhir The Rolling Stones tahun 1965 untuk pertama kali memberikan pertunjukan di Eropa.

Banyak kepala negara dan kalangan raja menginap di Kurhaus, seperti Carola Ratu Sachsen, Irene Putri Prussia, Presiden AS Harry Truman, PM Inggris Winston Churchil, Presiden Prancis Rene Coty dan Kaisar Jepang Hirohito.
Istri saya, Isna mendapat informasi dari teman lain kami, Hoornik, bahwa tahun 1969 Kurhaus ditutup dan setelah direnovasi dibuka kembali tahun 1979 lengkap dengan Casino Scheveningen.
Tatkala meninggalkan Kurhaus, saya dan istri menyaksikan pemandangan indah lainnya tak jauh dari Kurhaus yang melegenda ini. Antara lain Mahkamah Internasional dan Istana Perdamaian.
Suatu kombinasi yang mengesankan dan menyenangkan tentunya saat kami berdua melihat dari dekat Ridderzaal.
Ridderzaal yang kami saksikan dan dikenal luas sekarang ini aslinya merupakan bagian dari kumpulan istana graaf Flories IV dari abad ke 13.
Saya ketahui, Ridderzaal mempunyai aneka ragam fungsi sepanjang berabad-abad lamanya, yaitu sebagai ruangan pesta, arsip nasional, rumah sakit, lokasi toko-toko dan lotere negara.
Johan menambahkan penjelasannya yang saya kutip utuh, sejak 1904 Ridderzaal pada setiap Selasa ketiga bulan September dipakai untuk pembukaan tahun parlementer dalam sebuah rapat bersama para anggota Staten Generaal, Eerste dan Tweede Kamer. (***)
Penulis: Syafaruddin DaEng Usman
Baca juga: Jasmerah dari Jelajah Negeri Bekas Penjajah
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....