Al-Lail: Ketika Kekuasaan dan Generasi Muda Memilih Jalan
- 06 Agt 2026 11:58 WIB
- Pontianak
Refleksi Surah Al-Lail Bersama Teladan Peradaban Puak Melayu Kesultanan Kadriah Pontianak
Dilengkapi: Kajian Prof. Dr. Gusti Herdiasyah (Guru Besar Universitas Tanjungpura Pontianak) tentang Etika Kepemimpinan, Nilai Lokal, dan Pesan Al-Lail untuk Kalimantan Barat
Menjelang syuruq, plaza masjid dekat waterfront Kuching, Sarawak, masih menyimpan ketenangan pagi. Dari tumbler, aroma kopi liberika bercampur sedikit gula apong dari sadapan rumpun nipah, Nypa fruticans, menghangatkan suasana kajian. Ada rasa manis yang tidak berlebihan — persis seperti karakter peradaban Puak Melayu yang tumbuh di sepanjang pesisir dan sungai besar pulau Kalimantan, dari muara Sungai Sarawak hingga muara Sungai Kapuas di Pontianak, tempat berdirinya Kesultanan Kadriah selama lebih dari dua setengah abad. Rasa manis ini lahir dari proses panjang: bukan ditekan instan, melainkan diambil setetes demi setetes dari tulang pelepah nipah, dimasak sabar hingga mengental. Tepat untuk menemani Surah Al-Lail, surah yang mengingatkan bahwa hidup bukan perkara mengejar sebanyak-banyaknya, melainkan menentukan ke mana seluruh usaha diarahkan — sebuah kebenaran yang ternyata sudah dipraktikkan turun-temurun oleh para Sultan Kadriah jauh sebelum kata “negara hukum” dan “pelayanan publik” menjadi istilah resmi birokrasi modern.
Allah membuka surah ini dengan sumpah atas dua alam yang saling melengkapi:
Wal-laili idzā yagysyā. Wan-nahāri idzā tajallā.
“Demi malam apabila menutupi, dan demi siang apabila terang benderang.”
Malam dan siang berbeda, tetapi keduanya menjalankan fungsi. Demikian pula manusia. Ada yang menjadi pemimpin, ada yang menjadi rakyat; ada yang menulis sejarah di istana, ada yang merajut kebudayaan di kampung-kampung. Semua memiliki peran. Allah kemudian menegaskan kalimat yang menjadi kunci seluruh surah:
Inna sa‘yakum lasyattā.
“Sesungguhnya usaha kamu benar-benar beraneka ragam.”
Ayat keempat ini seperti cermin bagi kehidupan Indonesia hari ini. Semua orang tampak sibuk. Kepala daerah mengejar pembangunan, birokrasi mengejar target, pengusaha mengejar pertumbuhan, mahasiswa mengejar gelar, sementara Generasi Z dan Alpha mengejar kesempatan di ruang digital. Namun Al-Lail mengajukan pertanyaan yang lebih dalam, yang juga pernah diajukan para leluhur Puak Melayu melalui setiap adat dan pepatah mereka: ke mana seluruh kesibukan itu diarahkan? Sebab, kerja keras tidak otomatis menjadi kebajikan. Sibuk membangun belum tentu memanusiakan. Berkuasa lama belum tentu meninggalkan peradaban. Tengku Turiman Fachturahman Nur, peneliti mendalam warisan Kadriah, sering mengingatkan dalam tulisan‑tulisannya: “Banyak penguasa yang namanya tercatat di batu nisan, tapi sedikit yang namanya tetap hidup di dalam bahasa, adat, dan doa rakyatnya berabad‑abad kemudian.” Para Sultan Kadriah memilih jalan yang kedua.
📘 KAJIAN PROF. DR. GUSTI HERDIASYAH ATAS SURAH AL-LAIL
Tafsir Kontekstual untuk Kepemimpinan, Peradaban Melayu, dan Masa Depan Kalimantan Barat
Di tengah beragam tafsir klasik dan modern yang tumbuh di tanah air, Prof. Dr. Gusti Herdiasyah — Guru Besar Universitas Tanjungpura Pontianak, pakar kebijakan publik, etika pemerintahan, serta pengkaji nilai‑nilai budaya Melayu Kalimantan Barat — menawarkan bacaan Surah Al‑Lail yang sangat khas: tidak hanya sebagai teks keagamaan yang berbicara tentang surga dan neraka, melainkan sebagai “piagam etika kekuasaan dan peradaban” yang sangat relevan untuk dibaca oleh para pemimpin, birokrat, dan generasi muda di Bumi Khatulistiwa saat ini. Dalam berbagai orasi ilmiah, makalah, dan kuliah umum di Pontianak (2018–2026), beliau merajut ayat‑ayat Al‑Lail dengan pengalaman empirik pemerintahan daerah, sejarah Kesultanan Kadriah, serta karakter masyarakat majemuk Kalbar, sehingga pesan surah ini tidak lagi melayang di langit, tapi berpijak di tanah Kapuas. Berikut empat pilar utama kajian beliau:
1. Sumpah Malam dan Siang: Perbedaan adalah Takdir, Persatuan adalah Pilihan Manusia
Prof. Gusti Herdiasyah memulai tafsirnya bukan dari hukum, melainkan dari kosmologi ayat pertama dan kedua. Menurut beliau, Allah tidak bersumpah dengan yang serupa, melainkan dengan dua hal yang berlawanan namun saling membutuhkan: malam yang menutupi dan siang yang memperlihatkan. “Ini bukan hanya soal astronomi,” tulis beliau, “ini adalah firman Allah tentang tata cara bernegara dan bermasyarakat.” Kalau malam dan siang yang bertolak belakang saja bisa bekerja sama menjalankan alam semesta tanpa protes, mengapa manusia — yang terdiri dari beragam suku, agama, bahasa, dan asal‑usul — justru sering menghancurkan sesama karena perbedaan?
Beliau kemudian langsung menarik garis ke sejarah Kesultanan Kadriah Pontianak: “Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie tidak membangun Pontianak dengan memaksa semua orang menjadi satu ras atau satu keturunan. Beliau justru merangkul yang berbeda: Bugis, Banjar, Dayak, Arab, Tionghoa, Riau — lalu mengikat mereka dengan bahasa Melayu dan nilai Islam yang adil. Itulah makna tersembunyi dari sumpah wal-laili wan-nahār: perbedaan itu ketentuan Tuhan; yang diuji manusia adalah apakah kita sanggup menjadikannya kekuatan, atau malah merobek‑robeknya menjadi permusuhan.” Bagi Prof. Gusti, Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian diabadikan dalam Garuda Pancasila oleh Sultan Hamid II — yang juga putra Pontianak — sesungguhnya adalah aplikasi nyata dari pesan kosmis dua ayat pertama Surah Al‑Lail di atas tanah Kalimantan Barat.
2. Inna Sa‘yakum Lasyattā: Kerja Keras Itu Wajib, Tapi Arahnya Lebih Wajib
Ayat keempat — “Sesungguhnya usaha kamu benar‑benar beraneka ragam” — sering dibaca hanya sebagai penggambaran keramaian dunia. Namun Prof. Gusti membacanya sebagai kritik tegas terhadap budaya “asal sibuk” yang kini melanda birokrasi dan pembangunan daerah. Beliau sering menyindir: “Di banyak meja rapat, kita sangat hebat menyusun indikator, target, dan angka‑angka. Tapi kalau ditanya: ‘Untuk siapa semua ini? Apa dampaknya pada jiwa manusia? Apa sisa peradaban yang ditinggalkan?’ Seringkali jawabannya sunyi.”
Menurut kajian beliau, Al‑Lail mengajarkan prinsip sederhana namun berat: kerja keras adalah harga minimum, bukan prestasi maksimum. Yang membedakan satu usaha dengan usaha lain di mata Allah — dan di mata sejarah — bukan seberapa besar atau seberapa cepat, melainkan ke mana arahnya ditujukan. Di sini beliau merujuk kembali pada teladan para Sultan Kadriah: mereka juga bekerja keras membangun masjid, istana, jalan, pasar, dan pendidikan. Tapi seluruh kerja itu selalu diuji dengan tiga pertanyaan yang diajarkan adat Melayu: “Apakah ini menambah manfaat bagi rakyat? Apakah ini tidak merusak alam dan hubungan antarsesama? Apakah ini masih bisa dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan anak cucu?” Kalau salah satu jawabannya “tidak”, proyek sebesar apa pun akan dihentikan. “Inilah yang mulai hilang dari birokrasi modern,” keluh Prof. Gusti. “Kita pandai menghitung rupiah, tapi lupa menghitung martabat manusia.”
3. Tiga Pilar Jalan Kemudahan: Resep Al‑Lail untuk Pemimpin yang Beradab
Bagian terpenting dari kajian Prof. Gusti Herdiasyah adalah pembedahan mendalam terhadap tiga kata kunci jalan kemudahan: a‘thā (memberi), wattaqā (bertakwa), shaddaqa bil‑husnā (membenarkan kebaikan). Beliau menegaskan: ketiga kata ini bukan untuk orang sholeh di masjid saja, melainkan merupakan syarat mutlak seorang kepala daerah, birokrat, dan pemimpin masyarakat jika ingin jalannya dimudahkan Allah dan langgeng dikenang rakyat. Beliau merumuskannya menjadi tiga prinsip etika kekuasaan yang sering diajarkan kepada mahasiswa dan pejabat di Pontianak:
a. A‘thā — Kekuasaan Itu Hak Rakyat, Tugas Kita Hanya Menyalurkannya
Prof. Gusti menolak mentah‑mentah terjemahan a‘thā sekadar sebagai “sedekah pribadi”. “Bagi pemegang kekuasaan,” tegas beliau, “memberi berarti: seluruh sumber daya publik — APBD, wewenang, akses, kesempatan — harus mengalir keluar kepada yang berhak, bukan ditimbun di dalam lingkaran sendiri.” Beliau bahkan berani mengatakan: “Pemimpin yang tidak bisa membuat APBD kembali berputar memanusiakan rakyat, sejatinya sedang menjalankan sifat bakhila (kikir) yang diperingati Al‑Lail, meskipun di rumahnya dia rajin bersedekah.” Dalam sejarah, beliau melihat Sultan Abdurrahman dan Sultan Muhammad II sebagai contoh sempurna: kekuasaan mereka tidak dipakai untuk memperkaya keluarga, melainkan untuk membangun rumah bersama yang nyaman bagi semua suku.
b. Wattaqā — Takwa Adalah Rem Saat Kuasa Mulai Memabukkan
Bagi Prof. Gusti, takwa dalam ayat ini bukanlah soal banyaknya shalat sunnah atau panjangnya jenggot. Takwa di kursi kekuasaan adalah: keberanian berkata “tidak” pada kesempatan merugikan rakyat, meskipun semua orang berkata “boleh”. Beliau menjelaskan: ketika seseorang naik ke tampuk kekuasaan, alam sekitarnya akan berubah — semua orang akan mengiyakan, semua data akan disesuaikan agar enak didengar, semua kritik akan disaring sebelum sampai ke telinga. Di saat itulah wattaqā berfungsi sebagai rem internal: “Apakah yang saya lakukan ini masih bisa saya pertanggungjawabkan di hadapan rakyat yang tidak bisa membalas saya, dan di hadapan Allah yang melihat semuanya?” Tanpa takwa, pembangunan bisa berubah menjadi eksploitasi alam dan manusia.
c. Shaddaqa Bil‑Husnā — Percayalah Bahwa Kebaikan Itu Akan Berbuah, Meskipun Lambat
Pilar ketiga ini menurut Prof. Gusti adalah obat paling mujarab bagi kepemimpinan yang terburu‑buru ingin populer dan ingin hasil instan. Al‑Lail mengajak pemimpin untuk tidak hanya menghitung hasil yang terlihat di masa jabatan, tapi juga menanam kebaikan yang baru akan dipanen oleh pemimpin setelahnya. “Para Sultan Kadriah membangun identitas Puak Melayu Pontianak bukan dalam 5 tahun, tapi dalam 250 tahun,” ungkap beliau. “Mereka menanam bahasa, menanam adat, menanam akhlak — yang baru benar‑benar terasa manfaatnya berabad‑abad kemudian. Itu namanya membenarkan kebaikan: bekerja tulus tanpa harus dipotret dan di‑upload setiap hari.” Bagi beliau, pemimpin yang hanya mengejar citra sesaat akan dengan mudah jatuh ke perangkap ayat berikutnya: kikir, merasa paling benar, dan mendustakan nilai‑nilai luhur demi popularitas.
4. Istagnā: Penyakit “Merasa Cukup Sendiri” Adalah Pembunuh Peradaban Paling Diam
Pada bagian jalan kesukaran — wa man bakhila wastaghnā wa kadzdzaba bil‑husnā — Prof. Gusti Herdiasyah memberikan perhatian khusus pada kata istagnā: merasa cukup sendiri, merasa sudah tahu segalanya, merasa tidak lagi membutuhkan orang lain, data, kritik, maupun nasihat. Menurut pengamatan beliau puluhan tahun mendampingi pemerintahan di Kalbar, inilah penyakit yang paling sering merusak karier pemimpin sekaligus menghancurkan daerah, jauh sebelum korupsi itu sendiri muncul.
Beliau menggambarkan siklusnya dengan dingin: “Pertama, pemimpin baru datang rendah hati. Kedua, karena beberapa keberhasilan kecil, orang‑orang mulai memuji. Ketiga, pemimpin mulai percaya: ‘Ternyata saya hebat sendirian.’ Keempat, dia mulai menutup telinga dari akademisi, tokoh adat, masyarakat sipil, bahkan birokrasi profesional. Kelima, dia hanya mau dengar yang setuju. Keenam, keputusan mulai meleset. Ketujuh, ketika jatuh, semua harta dan jabatan tidak ada yang bisa menolong — persis seperti ayat selanjutnya: Wa mā yughnī ‘anhu māluhu idzā taraddā — ‘Hartanya tidak berguna sedikit pun ketika dia telah terjatuh.’”
Di sinilah Prof. Gusti melihat peringatan Al‑Lail yang paling relevan untuk Kalimantan Barat hari ini: kekuasaan yang tertutup adalah awal dari kehancuran. Sebaliknya, keterbukaan para Sultan Kadriah — yang mau mendengar nasihat ulama, kepala suku Dayak, tokoh Tionghoa, pedagang, bahkan rakyat jelata di pasar — itulah yang membuat kerajaan mereka bertahan berabad‑abad. “Kalau penguasa hari ini mau selamat,” saran beliau, “pelajarilah ayat ini setiap pagi sebelum memimpin rapat: jangan biarkan istagnā itu bersarang di hati.”
Sebagai penutup kajiannya, Prof. Gusti Herdiasyah sering merangkum seluruh Surah Al‑Lail dalam satu kalimat pendek yang selalu beliau ucapkan di akhir setiap kuliah umum di Pontianak:
“Al‑Lail tidak melarang kita menjadi kaya, berkuasa, atau terkenal. Surah ini hanya mengingatkan: kalau semua itu tidak kita gunakan untuk ‘memberi, bertakwa, dan membenarkan kebaikan’, maka seluruh kesibukan kita pada akhirnya hanya akan mengantarkan kita ke jalan yang makin sempit dan sunyi. Tapi kalau tiga pilar itu kita pegang teguh — seperti yang dicontohkan para leluhur kita di Kesultanan Kadriah — maka Allah sendiri yang akan memudahkan jalan kita, meski banyak orang yang tidak suka.”
DUA JALAN AL-LAIL: TELADAN YANG DIPRAKTEKKAN PARA SULTAN KADRIAH
Al-Lail kemudian membelah manusia ke dalam dua jalan besar. Bukan jalan kaya dan miskin. Bukan jalan berkuasa dan rakyat jelata. Melainkan jalan pilihan hati: satu jalan membawa pada kemudahan dan keberkahan panjang, satu lagi membawa pada kesukaran yang kadang baru terlihat di ujung perjalanan.
✅ Jalan Pertama: Jalan Kemudahan — Memberi, Bertakwa, Membenarkan Kebaikan
Fa ammā man a‘thā wattaqā, wa shaddaqa bil-husnā, fa sanuyassiruhu lil-yusrā.
“Adapun orang yang memberi, bertakwa, dan membenarkan kebaikan, maka Kami akan memudahkannya menuju jalan kemudahan.”
Tiga pilar inilah — yang dikaji mendalam oleh Prof. Gusti Herdiasyah sebagai “resep kepemimpinan beradab” — yang juga menjadi tulang punggung peradaban Puak Melayu Pontianak yang dibangun para Sultan selama delapan generasi.
Bagi gubernur, bupati, wali kota — atau bagi seorang Sultan yang memerintah wilayah muara sungai — kata a‘thā (memberi) tidak cukup diterjemahkan sebagai sedekah pribadi di sore hari. Maknanya jauh lebih struktural. Kekuasaan harus memberi manfaat. APBD, upeti, hasil perdagangan sungai, semuanya harus kembali kepada rakyat melalui pendidikan, kesehatan, jalan, air bersih, perlindungan lingkungan, pelayanan publik, serta kesempatan ekonomi yang adil. Inilah yang dilakukan Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie, pendiri kesultanan tahun 1771: beliau tidak datang untuk menguasai, melainkan datang untuk membuat rumah bersama. Beliau merangkul Bugis, Banjar, Riau, Arab, Dayak, dan Tionghoa; setiap kelompok diberi tempat tinggal, kebebasan beradat, dan kepastian hukum, lalu diikat oleh bahasa Melayu serta nilai‑nilai Islam yang adil. Hasilnya? Hutan rawa yang sunyi berubah menjadi pusat peradaban yang damai dan makmur selama berabad‑abad. Pemimpin tidak sedang membagi hadiah. Ia menjalankan amanah. Itu makna a‘thā yang sesungguhnya — persis seperti yang ditegaskan Prof. Gusti: kekuasaan adalah titipan rakyat untuk disalurkan kembali, bukan milik pribadi.
Lalu wattaqā, bertakwa, menjadi pagar berikutnya. Pembangunan tanpa etika dapat berubah menjadi eksploitasi. Investasi tanpa tata kelola dapat menciptakan konflik. Program sosial tanpa integritas dapat berubah menjadi transaksi elektoral. Para Sultan Kadriah mewujudkan takwa ini dengan merumuskan prinsip hidup yang hingga kini menjadi jati diri Puak Melayu: “Adat bersendi Syarak, Syarak bersendi Kitabullah.” Adat tidak dibiarkan liar, syariat tidak diterapkan kaku. Keduanya berjalan beriringan. Sultan Syarif Yusuf Alkadrie (1873–1895), yang dikenal paling mendalami agama, bahkan sering bersabda sebagaimana dicatat tradisi lisan yang dikumpulkan Tengku Turiman: “Orang Melayu itu dihargai bukan karena hartanya, tetapi karena bahasanya yang lembut, akhlaknya yang mulia, dan janjinya yang dapat dipegang.” Inilah takwa yang terlihat menurut kajian Prof. Gusti: bukan hanya banyak beribadah di masjid, melainkan seluruh perilaku sehari‑hari di pasar, di sungai, di rumah, dan di istana dijaga oleh nilai‑nilai langit — takwa sebagai rem internal ketika kuasa mulai memabukkan.
Puncak dari jalan kemudahan ini ditunjukkan oleh Sultan yang paling banyak diuji: Sultan Syarif Hamid II Alkadrie (1945–1978). Beliau adalah bukti hidup bahwa a‘thā — memberi — tidak berhenti meski kekuasaan dicabut, meski nama dicemarkan, meski keadilan tidak berpihak kepadanya. Di tengah tuduhan makar yang akhirnya tidak terbukti sama sekali, di balik jeruji besi selama bertahun‑tahun, beliau justru memberikan warisan terbesar bangsa ini: Lambang Negara Garuda Pancasila. Beliau menyuntikkan nilai‑nilai luhur Puak Melayu — kesatuan dalam keberagaman, kesopanan, kesetiaan tanpa syarat — ke dalam tubuh Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tengku Turiman menegaskan berulang kali: “Apa yang beliau lakukan bukan sekadar menggambar burung. Itu adalah tindakan a‘thā tertinggi: memberikan seluruh pemikiran terbaik, di saat negara justru sedang memperlakukannya secara tidak adil.” Bahkan di puncak penderitaan, di hadapan Mahkamah Agung, beliau tidak membalas dendam, tidak mengumpat, melainkan mengucapkan kalimat yang menjadi intisari seluruh ajaran Al‑Lail tentang memberi tanpa pamrih:
“Bagaimanapun bunyinya putusan Mahkamah Agung nanti, apakah saya akan bebas ataupun akan dijatuhi hukuman, tenaga saya tetap saya sediakan, apabila kelak negara membutuhkannya.”
Di sinilah ayat Al‑Lail menemukan bukti sejarahnya yang paling nyata di tanah Kapuas:
Alladzī yu’tī mālahu yatazakkā. Illab tighā’a wajhi rabbihil-a‘lā.
“Orang yang memberikan hartanya — atau tenaganya, pikirannya, kehormatannya, seluruh hidupnya — untuk menyucikan dirinya. Semata‑mata mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi.”
Bukan untuk papan nama. Bukan untuk pencitraan. Bukan agar disebut pahlawan. Hanya karena itu jalan yang benar. Sultan Hamid II tidak menuntut balas. Beliau tidak menjual bantuan sosial untuk membeli suara. Beliau tidak membuat rakyat merasa berutang budi. Yang beliau lakukan hanyalah: memberi, tulus, karena amanah. Itu makna shaddaqa bil-husnā — membenarkan kebaikan, meyakini bahwa berbuat baik adalah tujuan itu sendiri, bukan alat — persis seperti yang diajarkan Prof. Gusti: bekerja tulus meski lambat, percaya bahwa kebaikan akan berbuah pada waktunya. Dan Al‑Lail menjanjikan ujungnya: fa sanuyassiruhu lil-yusrā, Kami mudahkan jalannya. Memang benar: rehabilitasi penuh tahun 1966, pengakuan sejarah yang kembali tumbuh, hingga kini namanya dihormati dari ujung barat Kalimantan sampai seluruh penjuru Nusantara — itu adalah kemudahan yang Allah janjikan, meski datangnya setelah badai berlalu.
❌ Jalan Kedua: Jalan Kesukaran — Kikir, Merasa Cukup Sendiri, Mendustakan Kebaikan
Namun Al‑Lail tidak berhenti hanya mengajak kebaikan. Beliau juga memperingatkan dengan tegas jalan yang berujung penyesalan:
Wa ammā man bakhila wastaghnā, wa kadzdzaba bil-husnā, fa sanuyassiruhu lil-‘usrā.
“Adapun orang yang kikir, merasa dirinya cukup, dan mendustakan kebaikan, maka Kami akan memudahkannya menuju jalan kesukaran.”
Kata yang paling menarik, paling berbahaya, dan yang diangkat Prof. Gusti Herdiasyah sebagai penyakit nomor satu kekuasaan modern adalah istagnā: merasa cukup sendiri. Inilah yang dihindari oleh seluruh Sultan Kadriah sejak hari pertama. Mereka tidak pernah menutup diri. Mereka tidak pernah berkata: “Saya tahu semuanya, saya tidak butuh nasihat, saya tidak butuh kritik, saya tidak butuh suku lain untuk membangun negeri ini.” Justru sebaliknya: keterbukaan itulah yang membuat peradaban mereka bertahan. Sultan Syarif Muhammad II, yang memerintah 49 tahun dan membawa Pontianak ke puncak kejayaan, justru orang pertama yang mengenakan pakaian Eropa di samping baju adat Melayu Teluk Belanga — beliau tidak takut pada hal baru, selama nilai inti tidak hilang. Beliau tahu: merasa cukup sendiri adalah awal kematian sebuah peradaban.
Penyakit inilah yang kini sering muncul di banyak kursi kekuasaan, menurut analisis Prof. Gusti: pemimpin mulai kehilangan arah ketika merasa tidak membutuhkan kritik, akademisi, masyarakat sipil, data yang jujur, birokrasi profesional, bahkan suara rakyatnya sendiri. Kekuasaan yang terlalu yakin kepada dirinya mudah berubah menjadi ruang gema yang hanya mengulang pujian. Akhirnya, pembangunan berubah menjadi proyek pencitraan, bantuan sosial berubah menjadi transaksi dukungan, kebijakan publik berubah menjadi warisan keluarga. Di titik itulah janji Al‑Lail berlaku: fa sanuyassiruhu lil-‘usrā, Kami mudahkan jalannya menuju kesukaran — bukan karena Allah dzalim, melainkan karena manusia sendiri yang memilih jalan licin itu.
Lalu datang peringatan yang menusuk tulang, yang juga sering dikutip Prof. Gusti dalam seminar‑seminar anti‑korupsi di Kalbar:
Wa mā yughnī ‘anhu māluhu idzā taraddā.
“Hartanya tidak akan berguna baginya ketika ia telah jatuh.”
Kalimat ini terasa sangat dekat jika kita membaca kembali perjalanan Sultan Hamid II. Saat beliau diadili, dikhianati, dimusuhi, semua jabatan, gelar, kemewahan istana tidak ada yang bisa menolong. Tapi ada satu hal yang justru menyelamatkan martabatnya dan membuat namanya abadi: nilai‑nilai yang beliau pegang teguh. Bukan harta. Bukan pangkat. Tapi kesetiaan, kejujuran, kerendahan hati, dan kesediaan terus memberi meski disakiti. Di saat yang paling gelap itulah terbukti: yang menyelamatkan manusia bukan apa yang dikumpulkannya, melainkan apa yang telah diberikannya dengan tulus — persis seperti kesimpulan kajian Prof. Gusti Herdiasyah.
Dalam sejumlah riwayat tafsir klasik, bagian akhir Surah Al‑Lail dikaitkan dengan kemurahan Abu Bakar ash‑Shiddiq yang menggunakan hartanya untuk membebaskan orang‑orang beriman dari perbudakan. Pesannya tetap terang dan bertaut sempurna dengan bacaan Prof. Gusti maupun teladan Kadriah: kekayaan dan kekuasaan baru bernilai ketika digunakan untuk membebaskan, bukan untuk menguasai. Dan itulah yang diajarkan para Sultan Kadriah: kekuasaan adalah amanah untuk memerdekakan rakyat dari kebodohan, kemiskinan, ketakutan, dan perpecahan — bukan untuk memperbudak mereka pada ketergantungan dan utang budi politik.
PESAN YANG SAMA, UNTUK GENERASI MUDA PUAK MELAYU HARI INI
Pesan Al‑Lail tidak hanya untuk para pemimpin bertopi peci dan baju dinas. Ia sama tajamnya bagi Generasi Z dan Alpha Puak Melayu yang kini tumbuh di tengah serbuan algoritma, kecerdasan buatan, media sosial, ekonomi kreatif, dan budaya personal branding. Teknologi boleh berubah. Ruang usaha boleh pindah ke gawai. Tetapi pertanyaan moral Al‑Lail — yang juga dikemukakan Prof. Gusti Herdiasyah dalam setiap kuliahnya untuk mahasiswa UNTAN — tidak pernah usang:
| Baca juga: Kasih, Keadilan dan Saling Hargai |
Inna sa‘yakum lasyattā.
“Usahamu beraneka ragam.”
Apakah kecerdasan digital yang kalian kuasai digunakan untuk mencerdaskan atau menipu? Apakah akun media sosial diisi pengetahuan dan persatuan, atau justru penghinaan dan perpecahan antarsesama anak bangsa? Apakah popularitas yang dikejar menghasilkan solusi nyata bagi masyarakat, atau hanya ketenaran sesaat yang hampa?
Generasi muda tidak harus menunggu menjadi Sultan, menjadi kaya, atau menjabat tinggi untuk bisa menjalankan jalan a‘thā — jalan memberi. Seperti Sultan Syarif Machmud Melvin Alkadrie, Sultan ke‑8 yang kini menjabat anggota DPD RI, mereka bisa memberi melalui ilmu, kreativitas, jejaring, teknologi, waktu, gagasan, dan yang paling mahal: keberanian menjaga integritas. Tengku Turiman sering berpesan kepada mahasiswa di Pontianak: “Kalian tidak perlu memegang keris Sultan untuk melanjutkan peradaban Kadriah. Cukup pegang teguh tiga hal: berbudi bahasa, hormat kepada orang tua dan guru, serta jangan pernah berkhianat kepada tanah air. Itu saja sudah cukup membuat kalian layak disebut penerus para Sultan.” Dan Prof. Gusti Herdiasyah menambahkan satu syarat lagi dari Al‑Lail: jangan biarkan istagnā— merasa paling hebat sendiri — merasuki hati kalian. Belajarlah terus, rendah hatilah, karena orang yang merasa sudah cukup tahu biasanya berhenti menjadi berguna bagi orang lain.
Lebih dari itu: generasi muda Puak Melayu sekarang mewarisi 13 Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Bahasa Melayu Pontianak yang menjadi pemersatu antarsuku, serta Lambang Garuda Pancasila yang mengalirkan darah peradaban leluhur ke seluruh tubuh bangsa. Tugas mereka bukan hanya melestarikan di museum, melainkan menghidupkan kembali nilai‑nilainya di tengah dunia yang makin bising: tidak kikir berbagi ilmu, tidak sombong meski viral di media, tidak merasa paling benar sendiri, dan selalu memilih jalan kebaikan meski sepi peminat.
PENUTUP: SATU CAKRAWALA, SATU JALAN
Matahari mulai naik di ufuk Kuching. Sinarnya yang sama, beberapa menit kemudian, juga akan menyelinap di antara tiang rumah panggung Melayu di sepanjang Sungai Kapuas, menyentuh kubah masjid Jami’ Kadriah, dan menerangi istana tempat para Sultan dulu bertakhta. Kopi liberika dengan sedikit gula apong tinggal beberapa teguk. Dari rumpun nipah yang tumbuh sama di kedua sisi perbatasan, manusia belajar kembali: rasa manis yang sejati tidak lahir dari kemudahan instan, melainkan dari proses panjang, kesabaran, dan pilihan‑pilihan kecil yang benar, diulang setiap hari.
Al‑Lail tidak mengatakan bahwa manusia tidak boleh kaya, berkuasa, terkenal, atau maju. Surah ini hanya menanyakan satu hal yang lebih mendasar — yang juga menjadi pertanyaan warisan para leluhur Puak Melayu, sekaligus inti dari seluruh kajian Prof. Gusti Herdiasyah:
Untuk apa semua itu digunakan?
Para Sultan Kadriah telah menjawabnya dengan sejarah: mereka memilih jalan memberi, bertakwa, dan membenarkan kebaikan. Hasilnya? Peradaban yang bertahan 250 tahun lebih, nilai‑nilai yang masih diucapkan orang tua kepada anaknya malam ini, serta warisan terbesar yang kini terpasang di setiap lembaga negara: Garuda Pancasila. Prof. Gusti Herdiasyah membuktikan lewat kajian ilmiah bahwa jalan ini bukan sekadar dongeng agama atau mitos kerajaan — ia adalah rumus empirik keberlangsungan sebuah peradaban: yang memberi akan dimudahkan, yang menimbun dan menutup diri akan disempitkan jalannya.
Sebab setiap hari kita sedang memilih jalan. Dan pilihan yang terus diulang — untuk memberi atau menimbun, untuk rendah hati atau merasa cukup sendiri, untuk berbuat baik tulus atau hanya berpura‑pura — perlahan akan menjadi karakter. Lalu karakter itulah yang pada akhirnya menentukan: apakah kita hanya akan menjadi nama yang tergores di batu nisan, atau menjadi peradaban yang terus mengalir dalam darah dan akhlak generasi setelah kita, persis seperti yang ditinggalkan para Sultan Kadriah hingga hari ini.
Seperti sering ditutupkan Prof. Gusti Herdiasyah di setiap kajiannya di tanah Pontianak:
“Surah Al‑Lail tidak diturunkan untuk membuat kita takut berusaha. Ia diturunkan agar kita pandai mengarahkan usaha. Dan sejarah Kesultanan Kadriah adalah bukti nyata: ketika arah usaha itu benar — untuk Tuhan, untuk rakyat, untuk peradaban yang langgeng — maka kemudahan itu sungguh akan datang, meski seringkali tidak secepat keinginan kita.”
“Setiap hari kita sedang memilih jalan. Dan pilihan yang terus diulang, perlahan akan menjadi karakter, lalu menentukan arah kehidupan.”
Sumber Rujukan:
1. Teks refleksi Surah Al‑Lail (versi dasar kajian)
2. Kajian Prof. Dr. Gusti Herdiasyah / Hardiansyah (Guru Besar Universitas Tanjungpura Pontianak): Berbagai makalah, orasi ilmiah, dan kuliah umum tentang Etika Kepemimpinan Publik, Nilai‑Nilai Budaya Melayu Kalimantan Barat, Sejarah Kesultanan Kadriah, dan Relevansi Pesan Al‑Qur’an bagi Pembangunan Daerah (2018–2026)
3. Peran Para Sultan Kesultanan Kadriah Pontianak Membangun Peradaban Puak Melayu — berdasarkan penelitian UPI, UIN Sunan Ampel, Kemendikbudristek
4. Berbagai tulisan, makalah, dan siaran LPP RRI Pontianak karya Tengku Turiman Fachturahman Nur tentang Kesultanan Kadriah, Sultan Hamid II, dan sejarah Garuda Pancasila
5. Putusan MA No. Krim. 1 Tahun 1953 & Naskah Lengkap Pledoi Sultan Syarif Hamid II Alkadrie
6. Arsip Keraton Kadriah & dokumen sejarah resmi lainnya

Penulis : Turiman Fachturrahman Nur
Baca juga: Peran Para Sultan Kesultanan Kadriah Pontianak dalam Membangun Peradaban Budaya
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....