Inmemorium Nazirin Hamid
- 07 Sep 2026 16:17 WIB
- Pontianak
Innalillahi Waina Ilaihirajiun. Kabar duka itu disampaikan menjelang sholat Zuhur. Telah mendahului menghadap keharibaan Nya, Nazirin bin Abdulhamid.
Saya mengenal baik Almarhum. Sewaktu saya pimpinan redaksi tabloid Mimbar Untan, Almarhum salah seorang staf redaksi. Selain itu juga Beliau sahabat kami di Forum Komunikasi Mahasiswa Kabupaten Pontianak, Forkumakap, wadah berhimpun mahasiswa Kabupaten Pontianak yang sekarang menjadi Kabupaten Mempawah. Almarhum seingat saya berasal dari Segedong.
Saya dan Nur Iskandar sahabat yang gesit dan energik itu, kerap berinteraksi dengannya. Nazirin sebagai redaksi yang khusus mengcover Fakultas Hukum Universitas Tanjungpura.
Belakangan tadi saya mendapat kabar kondisi kesehatannya makin memburuk. Mantan komisioner KPU Kalimantan Barat ini, cukup lama stroke. Lelaki santun namun tegas ini cukup piawai berorganisasi.
Di saat musim demonstrasi tahun 1998, tak terkecuali dia pun lihai berorasi. Sebagai pewarta di surat kabar harian Akcaya, saya kerap mewawancarainya. Dan tak ubahnya seorang praktisi hukum, meski dia tak berpraktik di jalur ini, Bang Rin sapaannya lihai mengurai ayat dan pasal aturan yang berkenaan dengan sesuatu hal.
Kebetulan istri saya teman seangkatan kuliah dengannya, seangkatan juga dengan Muda Mahendrawan, Heru Suwono dan lainnya, sehingga kami cukup sering berkomunikasi. Beberapa hari sebelumnya, saya dan istri bermaksud menjenguknya kembali. Namun takdir berkata lain, kami pun datang untuk melayatnya.
Saya dan rekan Muhammad Akif, teman seangkatan kuliah saya yang saat ini menjabat Kepala Dinas Sosial Kota Pontianak pun seminggu lalu sempat ngobrol tentang kondisi kesehatan almarhum. Terencana oleh kami berdua untuk mengunjunginya. Dan memang suratan takdir tak bisa dipungkiri, kecuali merelakan kepergian seorang sahabat untuk selamanya.
Seingat saya, dulu di saat reformasi berkecamuk, saya kerap meliput di lapangan, selalu bertemu Almarhum. Pada ketika itu sejumlah aktivis yang memilih cara diplomasi untuk menyuarakan reformasi seperti Jumadi, Muhammad Chandra Jamaludin dan lainnya kerap bertemu. Ingat pula sejumlah nama rekan Almarhum yang sudah lebih dulu lagi berpulang seperti Supardi A Kadir, Viryan Azis, Muhammad Tauhid dan lainnya.
Saya rasa ada satu kenangan indah saya dan Almarhum Nazirin. Suatu hari dari Mimbar Untan kami berdua meliput sebuah persidangan di Pengadilan Negeri. Saya kenang, Nazirin begitu serius mengikuti persidangan ini dan kemudian menuliskan reportasenya. Dan, analisanya cukup tajam serta kritis. Sayang, reportasenya itu tidak dimuat dalam penerbitan ketika tersebut. Maklumlah, sensor pers rezim Orde Baru jauh lebih tajam.
Ada juga ingatan tentang kepiawaiannya saat menjadi komisioner KPU. Jelang Pemilu ketika itu, berbekal pengalaman sebagai aktivis lapangan, Nazirin lincah mengelola manajemen penyelenggaraan pemilu Kalimantan Barat.
Kini, namanya menjadi kenangan bersama amal kebaikan dan ibadah khusyuknya. Nazirin yang menghembuskan napas terakhir, pada usia lewat setengah abad di hari Senin, 7 September pukul 12.34 seiring panggilan azan Zuhur berkumandang.
Beristirahatlah dengan lapang dan tenang, dengan penuh kegembiraan berpulang ke kampung akhirat di negeri keabadian. Selamat jalan sahabat. Insyaallah sakit yang pernah diidap akan meluluhkan kekhilafan mungkin yang tak sengaja diperbut. Dan kian menjelmakan pahala kebaikan menuju jannah Nya.
Innalillahi Waina Ilaihirajiun ...

(Syafaruddin Daeng Usman, redaksi tabloid Mimbar Untan 1992-1998)
Baca juga: Putera Ngabang Warnai Permulaan Jagat Sastra Indonesia Modern
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....