Garuda dari Tepi Kapuas: Perjalanan Sultan Hamid II
- 07 Jul 2026 17:58 WIB
- Pontianak
🟢 1. MASA KECIL: DUA PERADABAN, SATU JIWA (1917–1923 | 4–10 TH)
Lahir Syarif Abdul Hamid Alqadrie di Istana Kadriah Pontianak, dididik langsung ayahnya Sultan Syarif Muhammad Alqadrie (Sultan ke‑7) dengan pegangan abadi: Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah. Hampir setiap sore ia mendayung sampan kecil di depan istana di samping jembatan ke Masjid Jami Sultan Abdurrahman, bermain sama persis seperti anak biasa, berteman akrab lintas suku & agama: Melayu, Tionghoa, Dayak, Arab, Eropa — sangat egaliter, tidak pernah membeda‑bedakan derajat.
Usia 6 tahun didatangkan dua pengasuh; menurut kesaksian putranya Max Alkadrie, keduanya wanita Inggris berkedudukan di Singapura, didatangkan agar menguasai bahasa dunia dan selalu waspada. Dari mereka ia dapat ilmu pengetahuan, bahasa, seni & etika Eropa. Sultan berpesan: Satu ajarkan SIAPA dirimu, satu ajarkan BAGAIMANA memandang dunia — keduanya berjalan beriringan.
Pendidikan agama paling intens di bawah pengawasan Syech Syarwani bin Haji Umar — Mufti Besar Kesultanan, AYAH KANDUNG IBUNDA Syarifah Jamilah = KAKEK SENDIRI, selalu belajar berdua dengan sepupu Pangeran Agung Syarif Yusuf. Menerima perpaduan dua tarekat agung:
- ✅ Tarekat Qadiriyah diajarkan seorang guru agama istana → melapangkan dada, berani karena benar
- ✅ Tarekat Naqsyabandiyah langsung dari Datuk Syarwani → menjaga hati, rendah hati, dzikir terus‑menerus
Usia 10 tahun sudah hafal 15 juz Al‑Qur’an, lancar 3 bahasa, dikenal sebagai anak paling saleh, cerdas & rendah hati.
🟡 2. SAPRAHAN & HIJRAH KE TANAH SUCI (1925 | 12 TH)
Genap 12 tahun diberangkatkan haji & menuntut ilmu ke Makkah‑Madinah. Diadakan upacara adat SAPRAHAN di Ruang Singgasana: seluruh kerabat, ulama & tokoh duduk melingkar di atas tikar pandan raksasa. Syarifah Jamilah & para Ratu menyiapkan sendiri hidangan: ditengah KUE SINGKIP‑SINGKIP pusaka kesultanan bermakna lipat keburukan diri, bentangkan kebaikan, serta AIR SERBAT lambang kesucian hati & persaudaraan abadi. Tidak ada kemewahan berlebih, intinya: satu hati, satu doa, duduk sama rendah berdiri sama tinggi.
Keesokan pagi dari dermaga istana ia berlayar, membawa mushaf pemberian kakek, sepotong singkip & sebotol air serbat — tanda sejauh apa pun melangkah, tanah air & doa selalu dibawa dada. Sultan berpesan tiga hal saja: jaga agama, pegang adat, lihat ke arah matahari terbenam — di sanalah rumah selalu menanti.
🟠 3. PULANG BERKAH: MALAM SELIKURAN & KRIANG BANDUNG (1927 | 14–15 TH)
Pulang membawa gelar Al‑Hajj, bertepatan MALAM KE‑21 RAMADHAN = MALAM SELIKURAN, digelar PAWAI KRIANG BANDUNG: ribuan warga berarak membawa pelita tanah liat berisi minyak kelapa & taklung kertas minyak berisi lilin, dibentuk ikan‑ikan Sungai Kapuas & paling banyak BULAN SABIT & BINTANG LIMA persis lambang Kadriah. Berhenti di kaki TANGGA SEMBILAN istana, disambut alunan GAMELAN SENENAN khas warisan Kadriah & HADRAH irama tunggal milik kesultanan.
Malam itu Sultan ajarkan makna 3 surah Al‑Qur’an pondasi acara selamanya:
1. QS Al‑Ma’un (107): Agama sejati = menyayangi yatim & memberi makan orang miskin → keduanya membagikan ratusan bingkisan langsung ke tangan anak yatim & dhuafa
2. QS An‑Najm (53): Jadilah seperti bintang → menerangi sekitar, tidak menyombongkan diri
3. QS Al‑Qamar (54): Kebahagiaan baru sempurna jika dibagi‑bagikan
Ketiganya dipadatkan utuh jadi tradisi Kriang Bandung, dijaga sampai hari ini.
🔵 4. HIJRAH KE JAWA: PERSABATAN ABADI & PERSATUAN UMAT (1928–1931 | 16–19 TH)
Tamat menengah di Yogyakarta, lanjut ke SEKOLAH TINGGI TEKNIK BANDUNG = CALON ITB, menjadi YUNIOR / ADIK TINGKAT Ir. Soekarno. Di sanalah terjalin persahabatan seumur hidup dengan Sultan Hamengkubuwono IX & keluarga Kadipaten Mangkunegaran Surakarta. Ia pulang bukan cuma bawa ijazah, tapi JEMBATAN HATI: saat tamu agung dari Jawa berkunjung, SELURUH KERABAT ISTANA KADRIAH PAKAI KAIN LURIK & BLANGKON — penghormatan tertinggi, persaudaraan sudah menyatu sampai tulang.
Atas usulannya dibukalah pintu selebar‑lebarnya:
- Datang RADEN PURBO & KHASAN GENDON dari Ambal Kebumen bersama rombongan BEDOL DESA, ditempatkan jadi KAMPUNG JAWA, membawa SENI KUDA LUMPING & SILAT KUNTO yang kini jadi warisan Kalbar
- Tumbuh berdampingan damai: Kampung Bangka, Kampung Banjar, Kampung Arab, Kampung Siantan, KAMPUNG SAIGON tempat YUSUF SAIGON membawa bibit KARET jadi komoditas utama, serta kawasan PELABUHAN SENGHIE & TANAH SERIBU riuh saudagar Tionghoa & bangsa Eropa
- Prinsipnya tegas: PENDATANG = KAUM MUHAJIRIN, PENDUDUK ASLI = KAUM ANSHOR — keduanya bersaudara sejati
- Puncak malam 1 MUHARRAM: HADRAH, KUDA LUMPING, SILAT KUNTO & TARI JEPIN tampil serentak di halaman istana — berbeda asal, satu jiwa. Inilah zaman keemasan keterbukaan Kadriah.
💖 5. DUA CINTA DARI DUA UJUNG DUNIA (1936–1948)
Sepulang dari AKADEMI MILITER BREDA BELANDA — tempat ia mendalami strategi perang, hukum internasional & ILMU LAMBANG, BENDERA & SIMBOL DAULAT — bertugas pertama di MALANG. Di bawah pohon trem rindang takdir pertemukan dia dengan CATHARINA MARIA VAN DER HAGEN = TOETIE, putri bangsawan Belanda kelahiran Surabaya. CINTA PADA PANDANGAN PERTAMA saat berjumpa di atas kapal laut tahun 1938. MENIKAH SANGAT SEDERHANA cuma di serambi istana, keluarga dekat saja — baginya kemewahan ada di ketulusan, bukan pesta. Dikaruniai anak, di antaranya MAX ALKADRIE.
Bertahun kemudian di pendopo Mangkunegaran bertemu wanita kedua melengkapi separuh jiwanya: RADEN AYU SITI AMINAH = TANTE RINI, putri bangsawan tinggi Surakarta, pendiam, sabar luar biasa, halus budinya. PERKAWINAN INI SAMA SEKALI TIDAK DIKARUNIAI ANAK, namun Tante Rini tidak pernah mengeluh, justru menyayangi anak istri pertama persis kandung sendiri, mendampingi melewati masa paling gelap sampai akhir hayat. NIKAH KEDUA JUGA DILAKSANAKAN SANGAT SEDERHANA. Dua wanita, dua peradaban, satu kesetiaan abadi — jadi sayap kiri‑kanan menyeimbangkan jiwanya.
⚫ 6. PERANG, DUKA DARAH & TRAGEDI MANDOR (1941–1945)
Perang Pasifik meletus, ia BERPERANG MELAWAN JEPANG DI BALIKPAPAN memimpin pasukan. Sementara itu Angkatan Laut Jepang duduki Kalbar. Tahun 1944 meletus PERISTIWA MANDOR: genosida berdarah, ribuan ulama, tokoh, pemimpin kerajaan dibunuh dengan tuduhan palsu — termasuk AYAHANDA SULTAN SYARIF MUHAMMAD, 3 SAUDARA KANDUNG & PULUHAN KERABAT.
Baru usai pertempuran ia terima kabar pilu. Kembali ke Pontianak dengan hati hancur, namun berdiri tegak dinobatkan SULTAN HAMID II – SULTAN PONTIANAK KE‑8. Ia umumkan hadiah besar bagi siapa tahu lokasi jenazah ayah. Akhirnya diketahui dimakamkan di lahan pemakaman Katolik SEBELAH TIMUR GEREJA KATEDRAL KAWASAN TANAH SERIBU PARIT. Saat digali SELURUH PONTIANAK SAKSI: LEBIH SATU TAHUN DALAM TANAH, JENAZAH SULTAN MUHAMMAD MASIH UTUH SEMPURNA TIDAK MEMBUSUK. Dimakamkan khidmat di MAKAM KESULTANAN BATU LAYANG, SERAMBI KIRI MAKAM SULTAN ABDIRAHMAN, pendiri negeri. Hari itu terbukti darahnya darah orang‑orang yang dicintai Allah.
⚪ 7. MENYATUKAN BORNEO, MENJEMPUT KEMERDEKAAN (1946–1949)
Di tengah luka belum kering ia undang seluruh Sultan, Raja & kepala adat se‑Kalbar berkumpul di Kadriah. Terbentuk FEDERASI BORNEO BARAT: 12 SWAPRAJA + 3 NEO‑SWAPRAJA, lalu secara sah diangkat KEPALA DAERAH ISTIMEWA KALIMANTAN BARAT (DIKB). Kemudian dipercaya jadi KETUA BADAN FEDERAL INDONESIA (BFO) mewakili seluruh daerah otonom.
Berlayar ke MUNTOK BANGKA menjemput Ir. Soekarno yang baru dibebaskan pembuangan — pertemuan bersejarah dua orang yang dulu kakak‑adik tingkat di Bandung, sepakat tegas: INDONESIA HARUS UTUH MERDEKA. Ini cikal bakal KONFERENSI ANTARA INDONESIA I DI YOGYAKARTA bersua kembali sahabatnya Hamengkubuwono IX, lalu KONFERENSI II DI JAKARTA merapatkan seluruh barisan nusantara.
Ia bekerja berbulan‑bulan menyusun RANCANGAN UUD RIS 1949 dengan ketelitian luar biasa, lalu berpidato lantang: Anak bangsa yang menuntut ilmu di Eropa, PULANGLAH! Bangunlah negeri ini!.
🕊️ 8. MEJA BUNDAR & KEDAULATAN 27 DESEMBER 1949
Duduk berderet rapat dengan MOHAMMAD HATTA di KONFERENSI MEJA BUNDAR DEN HAAG. Pengetahuannya soal hukum & simbol kenegaraan berkali‑kali patahkan argumen Belanda. 27 DESEMBER 1949: berdua menandatangani AKTA PENGAKUAN & PENYERAHAN KEDAULATAN. ⛔ SERENTAK DI JAKARTA: Bendera Belanda turun perlahan, SANG MERAH PUTIH NAIK KE PUNCAK TIANG, seluruh lapangan berdiri tegak, INDONESIA RAYA BERGEMA LANJANG. Secara hukum berabad‑abad penjajahan berakhir detik itu. Max & Ibu tetap tinggal di Den Haag demi keamanan.
🦅 9. PUNCAK ABADI: MERANCANG GARUDA PANCASILA
✅ BERDASARKAN PENELITIAN TURIMAN FACHTURACHMAN NUR, M.Hum. – FH UI 1999, dibuktikan secara yuridis & arsip:
- Dilantik MENTERI ZONDER PORTFOLIO, tugas resmi hanya dua: siapkan gedung parlemen & MERANCANG LAMBANG NEGARA
- 10 Jan 1950: Panitia dibentuk — SULTAN HAMID KOORDINATOR PENANGGUNG JAWAB PENUH, M. Yamin dll hanya pemberi masukan
- 08 Feb 1950: RANCANGAN I → Garuda gaya relief candi setengah manusia
- 10 Feb 1950: RANCANGAN II – KARYA MURNI: diubah utuh jadi ELANG RAJAWALI, bulu 17‑8‑45, perisai 5 sila, kepala kanan. Rancangan Banteng M. Yamin SECARA RESMI DITOLAK SIDANG KABINET
- 11 Feb 1950: Ditetapkan aklamasi jadi lambang RIS. Bung Karno hanya usul tambah JAMBUL & ubah posisi CAKAR MENCETAKRAM DARI DEPAN pita bertulis BHINNEKA TUNGGAL IKA — HANYA ITU SAJA
- 17 Okt 1951: PP No 66 TH 1951, lampiran sah adalah gambar karya beliau → SECARA HUKUM IA PENCIPTA SAH LAMBANG NEGARA SAMPAI HARI INI
🌟 10. PENGHARGAAN TERTINGGI & LUKA SEJARAH
22 JULI 1958, pidato kenegaraan PRESIDEN IR. SOEKARNO di Istana Merdeka terekam utuh:
Saya sudah keliling dunia lihat segala lambang bangsa besar, dihiasi emas permata. DARI SELURUH LAMBANG NEGARA YANG ADA DI MUKA BUMI, GARUDA PANCASILA ADALAH YANG PALING MEGAH, PALING CANTIK, PALING INDAH & PALING SARAT MAKNA SEPANJANG MASA!
Di barisan depan Sultan menangis haru. Namun di balik kemegahan itu tersimpan luka paling dalam, dibuka lewat kesaksian PUTRA KANDUNG NYA MAX ALKADRIE:
Ayah mendukung NEGARA FEDERAL, bukan karena pro‑Belanda, tapi karena lihat fakta: negeri ini terlampau luas, beragam budaya & adat — federal adalah cara paling adil menghargai semua daerah. Bung Karno & Bung Hatta memilih SENTRALISTIK, lewat tekanan & kekuasaan jalan itu menang — ayah menjadi salah satu korban pertamanya.
✅ April 1950: Ditangkap tanpa pengadilan, tuduhan simpati Belanda & terlibat Westerling. FAKTA: AYAH SAMA SEKALI TIDAK TERLIBAT, Westerling sendiri pernah memarahinya keras karena menolak bergabung. Surat ke Ratu Wilhelmina dikirim saat beliau PUTUS ASA melihat Kalbar diinjak‑injak kelompok ekstrem, belakangan beliau pun menyesal. Ditahan 8 thn, dibebaskan kelakuan baik, secara administrasi berjalan sampai tahun ke‑10.
✅ 1962: Ditangkap LAGI tanpa pengadilan bersama Roem, Sjahrir, Ide Anak Agung karena beda pandang Demokrasi Terpimpin → 4 THN LAGI
✅ Ditambah 4 THN JEPANG → TOTAL 16 TAHUN HIDUPNYA DI BALIK TERBESI
Saya kecil hampir tidak pernah bertemu karena beliau SELALU BEKERJA. Kami tinggal di rumah besar Pontianak yang SEKARANG JADI KEDIAMAN GUBERNUR. Kenangan abadi: berdiri di samping ayah saksikan IRING‑IRINGAN NAGA IMLEK, diam‑diam berenang tangkap lele di SUNGAI KAPUAS YANG PENUH BUAYA, makan pakai tangan cuma boleh di ruang pengasuh.
Umur 7 th saya dibawa ke Belanda, dibesarkan di sana, remaja main musik INDOROCK keliling Den Hag & Jerman. Umur 17 th ingin pulang ke Pontianak, VISA DITOLAK POLITIK. Saya menyebut diri BUKAN DARAH SETENGAH, TAPI DARAH GANDA: Arab, Melayu, Jawa, Belanda — JEMBATAN TIMUR‑BARAT, persis seperti ayah.
2017: Jam saku emas pusaka yang dijarah Jepang saat pembantaian Mandor muncul dilelang di AS. Tak lama kemudian dipertemukan dengan KETUA DPR FADLI ZON, baru tahu secara resmi AYAH DIUSULKAN JADI PAHLAWAN NASIONAL, penelitian Kemensos membuktikan mutlak dialah perancang Garuda. Sampai sekarang belum ditandatangani Presiden, upaya dilanjutkan 2018 & terus berjalan. CUKUP BAGI SAYA: generasi kini mulai melihat fakta apa adanya, tidak lagi emosional buta — ITU SUDAH PEMULIHAN NAMA YANG BERARTI.
Bung Karno orang pertama pulihkan harga diri bangsa. AYAH SAYA ORANG KEDUA, lewat lambang yang membuat setiap orang Indonesia merasa: INI MILIK KITA SEMUA.
🕌 11. WARISAN YANG TIDAK PERNAH MATI
Masa kini setiap tahun digelar HAUL AKBAR SULTAN HAMID II di Istana Kadriah, dipimpin langsung pewaris sah takhta: SULTAN SYARIF MELVIN ALQADRIE –SULTAN PONTIANAK KE‑9, didampingi Permaisuri Agung MAHARATU SYARIFAH TANAYA AHMAD ALKALIDI — Anggota DPD RI Kalbar & Ketua Yayasan Puak Melayu, yang tanpa lelah meluruskan & melestarikan sejarah hampir terkubur. Di sana berdiri berdampingan sama indahnya: LAMBANG BULAN BINTANG KADRIAH & GARUDA PANCASILA.
🎬 PENUTUP
Dari anak kecil mendayung di Kapuas, dididik dua peradaban & dua tarekat, prajurit di medan laga, anak yang kehilangan seluruh keluarga, negarawan di meja dunia, hingga akhirnya dengan pensil & kertas menciptakan identitas abadi bangsa. Enam belas tahun terpenjara, puluhan tahun nama tertutup debu — tapi karyanya terbang tinggi tak terbungkam. Seperti kata anaknya: Kebenaran itu matahari, bisa tertutup awan bertahun‑tahun, tapi suatu saat pasti terbit kembali bersinar.
SYARIF ABDUL HAMID ALKADRIE – SULTAN HAMID II
1913 – 1978
✅ Perancang Lambang Negara GARUDA PANCASILA
✅ Terbukti sah secara ilmu & hukum oleh Turiman Fachturachman Nur, M.Hum.
✅ Kesaksian pemulihan nama baik Max Alkadrie
✅ Dijaga terus oleh Sultan Syarif Melvin Alqadrie (ke‑9) & Maharatu Syarifah Tanaya
BHINNEKA TUNGGAL IKA
🎞️ TAMAT

Penulis: Turiman Fachturrahman Nur
Baca juga: Sultan Hamid II dan Fondasi Federalisme Lokal Indonesia
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....