Satu Jam Bersama Pak Tab

  • 06 Jan 2026 11:35 WIB
  •  Pontianak

* Catatan Ringan Syafaruddin DaEng Usman *

Di usia yang tak lagi muda, namun wajahnya senantiasa penuh pesona.

Duduk di atas kursi roda, tak menghalanginya untuk tak henti memikirkan perjalanan Kalimantan Barat. Sumbangsih untuk pembangunan daerah ini tiada henti.

Senyum yang sejak dulu selalu tersungging diwajahnya identik dengan dirinya terus melekat pada sosok bersahaja ini.

Bicara pelan, datar namun sangat teratur, sarat makna penuh arti, itulah Drs H Tabrani Hadi.

Pak Tab memang tak lagi muda, pada usianya kini melintasi 74 tahun, namun jiwanya tetap menggelora.

Dalam dirinya mengalir semangat yang menyala.

Salah seorang perintis lahirnya koran terbesar di Kalimantan Barat, Akcaya yang sekarang Pontianak Post, ini adalah sosok yang sangat mengasyikkan sebagai sumber berdiskusi.

Lebih dari satu jam, memenuhi undangan pribadinya yang disampaikan melalui staf beliau di Pontianak Post untuk berdiskusi banyak hal dengannya, akhir pekan lalu, sedari pukul 08.15 hingga 10.25, saya menyambangi Pak Tab dikediamannya dikawasan Purnama Pontianak.

Dari banyak pembicaraan santai dengan birokrat karir senior di Kalbar ini, salah satunya Pak Tab berulang kali berharap agar saya mau menulis dan mempublikasikan pelacakan sejarah Kalbar, antaranya tentang Kalbar di masa Perang Dunia II.

“Zaman Jepang saya masih kanak-kanak, belum ngerti apa-apa”, ungkapnya.

Namun, lanjut Pak Tab, dirinya jadi tahu bagaimana keadaan Kalbar di masa pendudukan militer Jepang yang seumur jagung itu, terutama mendengar dari ayahnya sendiri, DaEng Abdulhadi, sosok pendidik dan birokrat di jajaran Dikbud Kalimantan Barat.

Diungkap Pak Tab, ada beberapa keluarga ayah dan ibunya yang turut menjadi korban pembantaian Jepang.

“Dulu Akcaya ada memuat tulisan-tulisan tentang peristiwa Mandor itu”, paparnya dengan suara yang khas.

Saya tuturkan kepada Pak Tab kondisi Makam Joang Mandor saat sekarang, beliau mengangguk-angguk, seraya merenung sejenak.

“Saya ingat, kami pernah ke sana. Mahasiswa kami di APDN kerap dihadirkan di sana”, lanjutnya dengan ritme suara yang bersahaja.

“Waktu monumen Makam Joang Mandor diresmikan, korp musik APDN dilibatkan di sana”, lanjutnya mengenang.

Tentang peresmian Makam Joang Mandor, 70 km sebelah timur Kota Pontianak ini, pada 28 Juni 1977, telah dituliskan wartawan senior Akcaya almarhum HA Halim R secara bersambung ketika itu.

Pak Tab adalah sosok yang sangat berwibawa.

Meski diakuinya sendiri akibat strok yang menyerangnya, ada sejumlah memori yang terhapus dari benaknya.

Nampaknya dengan kharisma dan wibawa yang bersahaja, perlahan memori ingatannya sudah utuh dan pulih kembali. Pak Tab memang sosok pendidik dan pekerja birokrasi yang sangat teliti.

Nampak sekali dari kesehariannya yang memancarkan kharisma seorang bapak yang selalu membimbing para anak.

Berdiskusi lebih dari satu jam dengannya Sabtu pada minggu lalu, penulis merasakan sekali kalau sosok tokoh Kalimantan Barat ini adalah teladan yang mutumanikam bagi daerah ini.

Selintas Pak Tab bertanya, siapa yang menjabat walikota Pontianak sekarang, setelah saya sebutkan nama dan sedikit lingkungan keluarga profil walikota Pontianak, Pak Tab langsung ingat.

“Pak Mas’ud Abdullah almarhum, mertua laki-laki Pak Walikota (Ir H Edi Rusdi Kamtono MM MT) itu sahabat saya, begitupun istrinya (Hj Tuti Mursiati Aladin Mas’ud)”, ujar Pak Tab mengenang rekan-rekan mudanya.

Disela itu, Pak Tab juga menanyakan kepada saya kabar beberapa nama yang akrab dengan dirinya dan almarhumah istrinya.

Saat saya menyampaikan beberapa buku yang saya tulis dan telah terbit, antaranya buku Peristiwa Mandor, Pak Tab begitu senang menerimanya.

“Akan saya baca, saya senang menerimanya. Saya akan dibawa ke masa itu, saya ingin mengenangnya kembali”, ujarnya dengan keteraturan kata demi kata saat mengungkapkan keinginannya itu.

“Saya akan minta saudara untuk masih mau kapan waktu nanti saya undang untuk kita diskusi lagi. Saya hari ini bahagia sekali mendapat banyak informasi dari saudara”, tuturnya.

Sebelum saya berpamitan dengannya, Pak Tab sempat berkisah tentang saat awal keikutsertaannya merintis dunia pers di Kalimantan Barat di era 1970-an.

“Saya sangat ingin sejarah pers di Kalimantan Barat ini bisa diketahui banyak orang, terlebih generasi muda”, harapnya.

Pak Tab menyebut dan mengenang beberapa nama yang kini sudah tiada para jurnalis karir di Kalbar yang sangat dikenalnya dengan baik, serupa Almarhum-almarhum H Achmad Noor, H Ibrahim Saleh, Ya’ Syarif Umar, H Aliaswat Saleh, Tan Husni Abdullah, H Munawar Kalahan, H Ya’ Agusno Sumantri, Imran Pasani.

Nama-nama diantara tokoh pers Kalbar yang dikenang Pak Tab itu memang tak asing dengan saya. Sehingga saat Pak Tab menyebutkan nama-nama itu saya sambut dengan mengulas serba sedikit profilnya.

Satu jam lebih dalam suasana yang santai di pekan pertama awal tahun 2019, adalah saat paling berkesan dan akan selalu saya kenang.

Satu jam bersama Pak Tab.

Saat saya pamitan meninggalkan kediamannya, seraya mengantarkan hingga di pintu rumahnya yang asri, Pak Tab melambaikan tangannya.

Lambaian tangan itu hingga saya perlahan meninggalkan halaman rumahnya di bilangan menyenangkan kawasan Jalan Purnama Pontianak.

Terima kasih Pak Tab, Drs H Tabrani Hadi, untuk waktu dan kesempatan bersilaturahminya. Insya Allah berkah. *

(Syafaruddin Usman MHD, wartawan freelance Harian Pagi Akcaya dan Kapuas Pos 1989–2005).

Baca juga : Menara Air Kota Pontianak

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....