Gawai untuk Anak: Kebutuhan atau Masalah? Orang Tua Diminta Tegas Membatasi
- 06 Okt 2026 12:50 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak - Penggunaan gawai pada anak perlu mendapat perhatian serius dari orang tua. Jika digunakan secara bijak dan sesuai kebutuhan, gawai dapat menjadi sarana komunikasi, pembelajaran, dan pengembangan kreativitas. Namun, penggunaan berlebihan berisiko menimbulkan berbagai persoalan pada perkembangan anak.
Psikolog yang bermitra dengan Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Provinsi Kalimantan Barat, Citra Amelia, mengatakan gawai memiliki dua sisi yang perlu diperhatikan orang tua. “Gawai atau gadget itu bisa menjadi seperti pisau yang bermata dua. Bisa menjadi kebutuhan, bisa juga menjadi masalah,” ujar Citra dalam dialog program “Idola: Indonesia Layak Anak” RRI Pro 1 Pontianak, Minggu, 4 Oktober 2026.
Menurutnya, gawai dapat menjadi kebutuhan ketika digunakan secara terukur, baik dari sisi durasi maupun fungsinya. Misalnya untuk berkomunikasi dengan keluarga, mengikuti pembelajaran, mengerjakan tugas sekolah, maupun mengembangkan kreativitas anak.
Sebaliknya, penggunaan gawai mulai menjadi masalah ketika durasinya tidak terkendali hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, hubungan sosial, pola tidur, makan, maupun perkembangan anak.
Citra menjelaskan, anak usia 0 hingga 2 tahun sebaiknya tidak diperkenalkan pada penggunaan gawai secara langsung. Pada usia tersebut, anak membutuhkan stimulasi melalui interaksi dengan lingkungan sekitar untuk mendukung perkembangan motorik, sensorik, bahasa, dan kemampuan sosialnya.
“Usia 0 sampai 2 tahun itu merupakan usia perkembangan anak. Jadi, lebih baik diberikan permainan-permainan yang lebih berwarna atau cukup mendengar lagu, kemudian tetap berinteraksi dengan lingkungan mereka,” ucapnya.
Sementara untuk anak usia 2 hingga 6 tahun, penggunaan gawai disarankan maksimal sekitar satu jam dalam sehari dengan jeda dan tetap dalam pendampingan orang tua. Sedangkan anak usia 6 tahun ke atas perlu memiliki batasan waktu yang disesuaikan dengan kebutuhan, dengan durasi maksimal sekitar dua jam dan tidak digunakan secara terus-menerus.
Citra menekankan, batas waktu penggunaan gawai sebaiknya disepakati bersama anak. Orang tua dapat menggunakan alarm atau membuat kesepakatan sederhana agar anak memahami kapan waktunya berhenti menggunakan gawai.
“Harus buat perjanjian dulu. Kalau alarm berbunyi, handphone dikembalikan karena waktunya sudah selesai,” katanya.
Ia juga mengingatkan orang tua untuk tidak menggunakan gawai sebagai solusi utama ketika anak bosan atau rewel. Kebiasaan tersebut dapat membuat anak semakin bergantung pada gawai dan berpotensi memicu tantrum ketika penggunaannya dihentikan.
Menurut Citra, anak yang sudah mengalami ketergantungan terhadap gawai dapat menunjukkan berbagai perilaku, mulai dari menangis, marah, melempar barang, hingga mengalami gangguan tidur, makan, dan berkurangnya aktivitas fisik.
“Ketika tidak dikasih, maka dia akan tantrum. Bahkan ada yang sampai menyakiti dirinya, kurang tidur, kurang makan, fokusnya kurang sehingga tidak dapat melakukan aktivitas-aktivitas fisik,” ujarnya.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, Citra tidak menyarankan orang tua melakukan penghentian secara mendadak. Pengurangan penggunaan gawai sebaiknya dilakukan secara bertahap melalui komunikasi dan kesepakatan dengan anak.
Ia menilai, keberhasilan pembatasan penggunaan gawai juga sangat bergantung pada keteladanan orang tua. Anak cenderung meniru perilaku orang dewasa di rumah.
“Anak ini adalah role model. Apa yang dilakukan orang tua di rumah, orang dewasa di rumah, maka ia juga bisa melakukannya,” tuturnya.
Karena itu, orang tua juga perlu mengevaluasi kebiasaan penggunaan gawai mereka sendiri. Aturan pembatasan akan sulit diterapkan jika orang tua melarang anak bermain gawai, tetapi pada saat yang sama terus menggunakan telepon genggam di hadapan anak.
Citra menyarankan keluarga memiliki waktu bebas gawai, misalnya ketika makan bersama atau saat berkumpul. Orang tua juga dapat menyediakan tempat khusus untuk menyimpan seluruh gawai selama waktu tersebut.
Selain membatasi, orang tua disarankan menyediakan aktivitas alternatif yang menarik bagi anak, seperti berolahraga, membantu pekerjaan rumah, berkegiatan di luar ruangan, maupun mengembangkan minat dan bakat anak.
“Berilah mereka ruang di mana mereka bisa menjadi diri mereka. Ajak mereka melakukan aktivitas, olahraga, atau mencari minat dan bakat anak,” katanya.
Menurut Citra, orang tua juga tidak perlu langsung menolak ketika anak memiliki cita-cita yang berkaitan dengan teknologi, seperti menjadi gamer, kreator konten, atau atlet esports. Hal terpenting adalah memberikan pendampingan, mengarahkan, serta memastikan penggunaan teknologi tetap memiliki tujuan dan batasan yang jelas.
Ia mengingatkan orang tua agar tidak memberikan gawai hanya karena khawatir anak dianggap tertinggal perkembangan zaman. “Boleh dikenalkan, tetapi sampaikan fungsinya untuk apa dulu. Jangan sampai barang itu membuat anak menjadi pelayannya. Jadikanlah gawai itu sebagai pelayan kita, hanya saat kita butuh,” katanya, menegaskan.
Citra berharap orang tua dapat menerapkan aturan penggunaan gawai secara konsisten di dalam keluarga. Dengan pendampingan, komunikasi, dan keteladanan, gawai diharapkan dapat memberikan manfaat bagi tumbuh kembang anak tanpa berubah menjadi sumber ketergantungan.
“Gunakanlah gawai itu secara bijak dan sesuai kebutuhan. Kepada orang tua saya harapkan untuk menegakkan protokol di dalam rumah, memberikan batasan kepada anak, menggunakan gadget dengan bijak, serta mengawasi mereka,” katanya, mengakhiri.
Baca juga: Pelukis Wajah Pontianak Manfaatkan AI dan Medsos Perluas Pasar
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....