Perundungan Dominasi Kekerasan Anak di Kalbar
- 14 Sep 2026 13:55 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Perundungan masih menjadi bentuk kekerasan yang dominan terhadap anak di Kalimantan Barat (Kalbar), terutama di lingkungan satuan pendidikan. Bahkan kasus kekerasan terhadap anak di Kalbar masih terus ditemukan.
Wakil Ketua Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalbar, Sulasti, mengatakan kekerasan terhadap anak memiliki bentuk dan pola yang beragam, mulai dari perundungan hingga kekerasan seksual. “Kekerasan terhadap anak ini bentuknya sangat beragam, ada yang dilakukan pendidik, bullying, pola pengasuhan, disharmoni keluarga, sampai persoalan tafsir keagamaan,” ujar Sulasti di Pontianak, Senin, 14 September 2026.
Ia menjelaskan, di lingkungan satuan pendidikan, bullying menjadi kasus yang paling banyak ditemukan. Perundungan dapat terjadi antarsiswa maupun antara guru dan anak didik.
“Yang paling dominan di satuan pendidikan itu bullying, baik antarsebaya maupun antara guru dengan anak didik,” katanya.
Sementara di lingkungan keluarga, kekerasan justru banyak dilakukan oleh orang yang memiliki kedekatan dengan anak, seperti ayah kandung, paman, maupun kakek. Bentuk kekerasannya mencakup kekerasan fisik, konflik keluarga akibat perceraian, hingga kekerasan seksual.
Menurut Sulasti, anak menjadi kelompok yang sangat rentan karena secara fisik, terutama anak berusia di bawah 12 tahun, belum memiliki kekuatan yang seimbang dengan orang dewasa. “Anak-anak ini secara fisik dan kondisi memang relatif lebih lemah, sehingga mereka menjadi kelompok yang sangat rentan,” ucapnya.
Kerentanan tersebut semakin besar karena adanya relasi kuasa. Anak sering kali takut melawan orang dewasa atau orang terdekat karena khawatir dianggap bersalah, bahkan merasa berdosa ketika menolak perintah.
“Anak itu sering takut untuk melawan karena ada relasi kuasa. Mereka bisa merasa ragu, bahkan takut dianggap berdosa kalau melawan orang yang lebih tua,” ujar Sulasti.
Selain itu, lingkungan dan pola pengasuhan turut memengaruhi kerentanan anak. Tekanan dari orang dewasa, tontonan atau permainan bermuatan kekerasan, serta belum optimalnya perlindungan lingkungan dapat meningkatkan risiko kekerasan.
Sulasti menambahkan, tren kekerasan terhadap anak setiap tahun mengalami perubahan pola dan bidang. Meski terdapat penurunan pada sejumlah aspek, angka tersebut belum menunjukkan penurunan yang signifikan.
“Kasusnya masih terus kita temukan, baik di lingkungan pendidikan maupun keluarga. Artinya, upaya perlindungan anak masih harus diperkuat bersama,” katanya, mengakhiri.
Baca juga: Luka Tanpa Bekas, PKBI Kalbar Bagi Tips Hadapi Cyberbullying
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....