Luka Tanpa Bekas, PKBI Kalbar Bagi Tips Hadapi Cyberbullying

  • 31 Agt 2026 16:23 WIB
  •  Pontianak

RRI.CO.ID, Pontianak: Di era ketika batas antara candaan dan hinaan semakin kabur, perundungan siber (cyberbullying) tumbuh subur menjadi teror mental bagi kaum milenial dan Gen Z. Ironisnya, para pelaku perisakan ini kerap bersembunyi di balik akun palsu dan memanipulasi keadaan dengan melabeli korbannya sebagai sosok yang "baperan" demi melegalkan aksi jahat mereka di dunia maya.

Hal tersebut diulas dalam program Ronda (Ruang Obrolan Pro 2) bertajuk "Luka Tanpa Bekas: Menyingkap Dampak Perundungan Verbal dan Cyberbullying" di Studio RRI Pro 2 Pontianak, Kamis, 20 Agustus 2026 lalu. Hadir sebagai narasumber, Nawa dan Nabila, dua perwakilan anak muda dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kalimantan Barat yang aktif mensosialisasikan pentingnya kesehatan mental.

Nawa, mahasiswi Bimbingan Konseling Universitas Tanjungpura, menyoroti fenomena penggunaan akun palsu atau second account di platform TikTok yang kerap dijadikan tameng oleh warganet untuk melontarkan ujaran kebencian secara anonim. Menurut pengamatannya, para perundung siber ini sebenarnya sadar atas tindakan mereka, namun kerap berlindung di balik dalih bercanda dan justru menyalahkan korban dengan melabeli mereka sebagai sosok yang "baperan" (terbawa perasaan).

"Biasanya orang yang mem-bully itu sadar, tapi dia menganggap hal itu sebagai jokes atau bercandaan. Ketika korbannya bilang tidak nyaman, dia justru menyalahkan dan berlindung di balik kalimat 'aku kan cuma bercanda, dianya aja yang baperan'," jelas Nawa mencontohkan manipulasi psikologis yang kerap dilakukan pelaku perundungan.

Sementara itu, Nabila membagikan pengalamannya sebagai penyintas perundungan verbal di masa sekolah. Berdasarkan pengalamannya, memberikan reaksi emosional justru akan membuat pelaku semakin merasa menang dan diakui. Oleh karena itu, ia memilih untuk mengabaikan hinaan tersebut dan membuktikan kemampuannya melalui pencapaian positif.

"Cara terbaik untuk berdamai adalah dengan menghindari lingkungan toxic tersebut dan fokus pada glow up atau memperbaiki kualitas diri. Balas dendam terbaik adalah membuktikan bahwa kita lebih berkualitas daripada apa yang mereka omongkan," tegas pekerja muda yang hobi bernyanyi ini.

Guna membantu para korban perundungan agar tidak berlarut dalam trauma, Nawa menyarankan pentingnya membangun dukungan lingkungan (support system) yang positif. Ia juga mengimbau para penyintas untuk berani bersuara dan tidak memendam masalah sendirian. Sebagai bentuk pendampingan, PKBI Kalimantan Barat saat ini menyediakan layanan klinik dan konseling bagi remaja yang membutuhkan wadah bercerita secara aman dan profesional, tanpa takut dihakimi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....