Habitat Terbakar, Induk dan Anak Orangutan di Ketapang Dievakuasi
- 06 Sep 2026 14:46 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Ketapang - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, mulai mengancam keselamatan satwa liar. Seekor orangutan betina dewasa bersama anaknya terpaksa dievakuasi setelah api mendekati habitat mereka di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, pada Kamis 3 September 2026.
Penyelamatan dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Kedua orangutan tersebut kemudian diberi nama Mama Man dan Man.
Keduanya sebelumnya telah terpantau sejak pertengahan Juni 2026 di kawasan perkebunan warga yang berbatasan dengan hutan. Saat itu, induk dan anak orangutan masih memiliki ruang untuk bergerak di habitat yang tersisa.
Namun, kondisi berubah ketika karhutla meluas di sekitar lokasi. Api semakin mendekati area tempat keduanya berada, sementara habitat yang tersisa semakin terbatas dan tidak menyediakan jalur aman untuk berpindah.
Situasi tersebut membuat tim menilai keduanya berada dalam kondisi berisiko, baik akibat paparan api maupun asap. BKSDA Kalbar dan YIARI kemudian memutuskan melakukan evakuasi.
Tim tiba di lokasi sekitar pukul 06.30 WIB. Setelah memastikan posisi dan kondisi kedua orangutan, proses penyelamatan dilakukan dengan melibatkan dokter hewan YIARI.
Induk orangutan yang diperkirakan berusia sekitar 20 tahun terlebih dahulu dibius untuk mempermudah evakuasi. Sekitar 10 menit kemudian, induk berhasil dievakuasi menggunakan jaring, dengan anaknya tetap berada bersama induknya.
Hasil pemeriksaan awal tidak menemukan luka fisik maupun luka bakar pada tubuh induk. Setelah pembiusan, induk diberikan dukungan oksigen sebelum dibawa bersama anaknya ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI di Sungai Awan Kiri.
Sementara itu, anak orangutan berjenis kelamin jantan yang diperkirakan berusia kurang dari satu tahun terlihat aktif selama pemeriksaan. Tim menemukan ingus dan cairan kering di sekitar hidungnya yang diduga berkaitan dengan paparan asap.
Dokter hewan YIARI, Komara, mengatakan tidak ditemukan luka akibat kebakaran pada induk maupun anak orangutan. Namun, paparan asap dalam jangka waktu tertentu tetap perlu diwaspadai karena dapat mengganggu sistem pernapasan satwa.
"Kondisi kesehatan keduanya akan terus dipantau selama berada di pusat penyelamatan dan rehabilitasi," ujarnya.
Untuk sementara, Mama Man dan Man menjalani pemantauan kesehatan di pusat rehabilitasi YIARI. Tim juga memantau perkembangan karhutla di sekitar habitat asal keduanya.
Jika kondisi kawasan sudah aman, tim akan melakukan penilaian terhadap lokasi yang memungkinkan untuk menjadi tempat pelepasliaran kembali. Penyelamatan tersebut menambah daftar orangutan yang terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang. Dalam waktu kurang dari satu bulan, BKSDA Kalbar bersama YIARI telah menyelamatkan sedikitnya sembilan orangutan dari ancaman kebakaran di sejumlah lokasi.
Direktur Operasional Program YIARI, Argitoe Ranting, mengatakan kondisi karhutla saat ini mengkhawatirkan karena api terus meluas dan mendekati kawasan yang menjadi habitat sekaligus lokasi orangutan mencari makan.
Menurutnya, ketika habitat terbakar atau dikelilingi api, orangutan terpaksa keluar untuk mencari tempat yang lebih aman. Namun, perpindahan tersebut justru meningkatkan risiko ketika satwa masuk ke perkebunan atau kawasan yang berdekatan dengan aktivitas manusia.
"Dalam waktu kurang dari satu bulan, sudah sembilan orangutan yang harus kami selamatkan akibat ancaman karhutla. Ini menunjukkan bahwa kebakaran tidak hanya menghancurkan hutan, tetapi juga membuat satwa kehilangan tempat untuk berlindung dan mencari makan," kata Argitoe.
Kepala Balai KSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, mengingatkan pentingnya keterlibatan berbagai pihak dalam mencegah kebakaran dan menjaga kawasan hutan serta wilayah yang memiliki nilai konservasi tinggi.
Ia juga meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan satwa liar yang terdampak karhutla, terutama yang berada di sekitar permukiman, perkebunan, atau membutuhkan pertolongan. Laporan dapat disampaikan kepada Balai KSDA Kalimantan Barat melalui call center 0811-5776-767 atau 0811-5670-041 agar satwa dapat ditangani dengan aman dan tepat.
Baca juga: ISPA Meningkat di tengah Kabut Asap, Polres Bengkayang Hadirkan Oxygen Corner
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....