PT Mayawana Perkuat Pengelolaan Hidrologi Gambut Hadapi Karhutla Berbasis Sains
- 26 Agt 2026 11:52 WIB
- Pontianak
RRI.CO.ID, Pontianak – Upaya penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) terus dilakukan secara intensif melalui aksi cepat pemadaman di areal PBPH PT Mayawana Persada di Kalimantan Barat, yang mencakup wilayah kerja Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Kayong Utara. Tim gabungan bergerak langsung ke lapangan untuk memadamkan titik api, mengendalikan penyebaran, serta mencegah api meluas ke area lainnya di tengah ancaman puncak musim kemarau dan fenomena iklim El Niño.
Bagi perusahaan, penanganan karhutla bukan hanya memadamkan kobaran api, melainkan ikhtiar untuk menjaga kelestarian hutan, kualitas udara, kestabilan lingkungan, dan keselamatan masyarakat luas. Dengan prinsip melokalisasi sedini mungkin, koordinasi terpadu terus diperketat melalui pemantauan titik panas (hotspot) secara real-time lewat platform resmi SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang disinkronkan dengan patroli darat harian.
“Prioritas kami saat ini adalah memastikan penanganan kebakaran dilakukan secepat dan seefektif mungkin, sekaligus mencegah dampaknya meluas terhadap lingkungan dan masyarakat. Kami menyadari bahwa kejadian ini juga menjadi perhatian berbagai pihak. Karena itu, selain mengerahkan sumber daya untuk penanganan di lapangan, kami melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi kawasan dan langkah-langkah pengelolaan yang perlu diperkuat ke depan,” ujar Iwan Budiman S.Hut, selaku Direktur PT Mayawana Persada.
Sebagai bagian dari penguatan respons di lapangan, PT Mayawana meningkatkan intensitas pemantauan dan kesiapsiagaan tim pemadam. Saat ini perusahaan mengerahkan tujuh regu inti beserta regu pendukung dengan total 170 personel yang tersebar di delapan posko pemadam. Kesiapan tersebut didukung sarana dan prasarana pemadaman sesuai standar P32, menara pantau, drone, pesawat nirawak VTOL, CCTV, serta 74 titik sumber air (water point) yang tersebar di empat sektor operasional dan dipelihara secara rutin untuk memastikan ketersediaan air saat dibutuhkan.
Tim melakukan patroli intensif siang dan malam selama 24 jam setiap hari, disertai pemadaman langsung serta pembuatan sekat bakar sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan. Setelah api berhasil dikendalikan, penanganan dilanjutkan dengan proses pendinginan dan pemantauan area secara berkala untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Sejalan dengan aksi tanggap darurat tersebut, perusahaan juga menempatkan tata kelola hidrologi sebagai salah satu bagian penting dalam upaya menekan risiko kebakaran pada lahan gambut. Asisten Kepala (Askep) Environment PT Mayawana Persada, Agus Trijoko, meluruskan anggapan bahwa saluran air mengeringkan lahan. Menurutnya, seluruh infrastruktur kanal di dalam konsesi justru difungsikan untuk menahan dan mengatur distribusi air (rewetting).
"Menghadapi musim kemarau dan El Niño, seluruh pintu kanal ditutup rapat guna mempertahankan cadangan air di dalam bentang lahan. Secara teknis, perusahaan menjaga Tinggi Muka Air (TMA) rata-rata pada kisaran 40 sentimeter untuk memastikan lahan tetap lembap tanpa menggenangi perakaran tanaman," jelas Agus.
Langkah hidrologi presisi ini mengacu pada regulasi pemerintah (PP 71/2014 jo. PP 57/2016) serta literatur ilmiah restorasi gambut tropis (Ritzema et al., 2014; Taufik et al., 2017). Upaya pembasahan berkelanjutan ini krusial untuk mencegah kebakaran tanpa api di bawah permukaan tanah (smoldering combustion) yang sulit dideteksi dan dipadamkan jika gambut terlanjur kering. Pemantauan tinggi muka air tersebut dikontrol secara real-time selama 24 jam melalui stasiun sensor telemetri otomatis (level logger).

Tim Lapangan PT. Mayawana Persada Ikut Berjibaku Memadamkan Karhutla di SekitarWilayah Operasionalnya. (Foto PT. Mayawana Persada).
Penguatan Kapasitas Tapak dan Kolaborasi Lanskap MATA PANDAWA
Selain tata kelola teknis, perusahaan menempatkan masyarakat sebagai pilar utama pencegahan karhutla. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (CSR), tim PT Mayawana Persada menyalurkan bantuan sarana dan prasarana (sapras) alat pemadam kebakaran kepada desa binaan mitra konservasi Yayasan Palung, yakni Desa Padu Banjar, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara.
Penyerahan bantuan sapras pemadam tersebut diterima langsung oleh Kepala Desa Padu Banjar, Kasdy, S.E., didampingi Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Banjar Lestari, Samsidar, serta perwakilan Yayasan Palung, Hendri Gunawan. Bantuan ini menjadi modal penting bagi Desa Padu Banjar yang secara geografis berada di bentang alam (landscape) Hutan Lindung Sungai Paduan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan respons cepat penanganan kebakaran.
Pemberian sapras ini sekaligus menjadi bukti realisasi komitmen PT Mayawana Persada dalam program kerja kolaboratif Working Group Landscape MATA PANDAWA. Manajemen berharap peralatan pemadam tersebut dapat dirawat dan dioptimalkan bersama warga dalam mendeteksi serta menanggulangi potensi karhutla di tingkat tapak secara mandiri dan berkelanjutan.
Restorasi Gambut dan Perlindungan Habitat Koridor Satwa
Pada pilar pemulihan ekosistem, program rehabilitasi berjalan mengacu pada Dokumen Pemulihan Gambut resmi yang terverifikasi. Asisten Sustainability PT Mayawana Persada, Charia Salasari, menyampaikan bahwa revegetasi difokuskan pada spesies pohon endemik rawa gambut dengan adaptasi keasaman tinggi (Lampela et al., 2017).
"Bibit dibudidayakan langsung di Revegetation Nursery internal di dalam kawasan hutan agar terbiasa dengan iklim setempat. Melalui pola tanam berjarak 5 x 5 meter dan evaluasi silvikultur berkala setiap enam bulan, tingkat keberhasilan tumbuh (survival rate) bibit revegetasi kami saat ini telah mencapai sekitar 80 persen," terang Charia.
Komitmen perlindungan bentang alam jangka panjang juga diwujudkan lewat pengusulan peningkatan alokasi kawasan konservasi dari 37.000 hektare menjadi 71.000 hektare dalam revisi Rencana Kerja Usaha (RKU), termasuk penguatan proteksi bentang alam di wilayah selatan konsesi.
Asisten Kepala (Askep) Sustainability, Muharjan, menambahkan bahwa perluasan kawasan lindung ini diselaraskan dengan kebijakan Cagar Biosfer dan kemitraan multi-pihak.
"Kawasan konservasi berkanopi rapat ini menjadi koridor jelajah yang aman bagi populasi orangutan (Pongo pygmaeus) dan satwa endemik Kalimantan lainnya sekaligus memberi jaminan kelestarian ekologis bagi masyarakat sekitar," pungkas Muharjan.
Melalui komitmen aksi cepat di lapangan dan tata kelola berbasis sains (science-based forestry), PT Mayawana Persada terus bersinergi bersama pemerintah daerah, aparat, mitra konservasi, dan masyarakat desa untuk memadamkan api, mencegah perluasan, serta menyelamatkan masa depan ekosistem hutan Kalimantan Barat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....